24 December 2007

Museum Otista, Sebuah Mimpi

Oleh : MAMAT SASMITA

BUKU Max Havelaar yang ditulis Multatuli atau Eduard Douwes Dekker, menempati peringkat ketiga sebagai buku terbaik, hasil jajak pendapat pada Pekan Buku 2007, yang diselenggarakan di negeri Belanda. Hal ini menarik karena buku tersebut ditulis lebih dari 150 tahun yang lalu dan meyangkut negeri jajahan, yaitu Hindia Belanda, yang kemudian menjadi Indonesia. Buku ini berkisah tentang penguasa yang korup, baik yang kulit putih maupun yang cokelat.
Diketahui pula apa latar belakang di balik pertentangan antara Asisten Residen Lebak, Douwes Dekker dan atasannya, Residen Brest van Kempen dan Gubernur Jenderal Daymaer van Twist. Begitu juga gugatan Douwes Dekker terhadap Bupati Lebak Karta Nata Negara yang dituduhnya memeras dan menindas rakyat.
Ternyata, di Amsterdam Belanda, ada Museum Multatuli (http://www.multatuli-museum.nl), yang mengabadikan bermacam buku, brosur termasuk artikel dan foto, berkenaan dengan Multatuli. Artefak lainnya seperti kursi, lemari, dan benda lain yang pernah dipakai Multatuli, juga ada di dalamnya.
Di Bandung, seperti ditulis dalam situs pemerintahan kota Bandung (http://www.bandung.go.id), terdapat tujuh museum, yaitu Museum Konferensi Asia Afrika, Barli, Geologi, Mandala Wangsit Siliwangi, Pos Indonesia, Sribaduga, dan Zoologi. Bercermin kepada Museum Multatuli, tampaknya di Bandung juga perlu ada museum yang secara khusus menampilkan pikiran-pikiran, sikap, dan pendapat tokoh yang dianggap mewakili baik secara lokal maupun nasional. Ada banyak tokoh yang perlu dipertimbangkan, salah satunya adalah nama Oto Iskandar di Nata (Otista).
Akan tetapi, intinya bukan memilih nama tokoh, melainkan tempat untuk menampung dokumentasi secara keseluruhan dan utuh dari tokoh-tokoh tersebut. Tempat tersebut bisa disebut museum. Karena berbentuk museum, tujuan keberadaannya tidak lepas dari tujuan pendidikan. Merujuk kepada ICOM (International Council of Museeum/Organisasi Permuseuman Internasional di bawah Unesco), makna museum adalah "sebuah lembaga yang bersifat tetap, tidak mencari keuntungan, melayani masyarakat dan pengembangannya, terbuka untuk umum, yang memperoleh, merawat, menghubungkan, dan memamerkan, untuk tujuan-tujuan studi, pendidikan dan kesenangan, barang-barang pembuktian manusia dan lingkungannya".
Otista adalah seorang pahlawan nasional karena perjuangannya sebelum dan selama masa revolusi merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Keberaniannya saat berpidato di depan sidang Volksraad, kritikannya yang pedas dan suaranya yang lantang, membuatnya dijuluki Si Jalak Harupat, yaitu ayam jago yang keras dan tajam kalau menghantam lawan, kencang dalam berkokok dan selalu menang kalau diadu.
Otista pernah menjadi wakil ketua Boedi Oetomo Cabang Bandung, Ketua Paguyuban Pasundan (PP), anggota BPUPKI, PPKI, lalu Menteri Negara pada kabinet RI pertama, dan lain-lain. Saat menjadi ketua PP, organisasi ini mencapai zaman keemasan. Pekik "Indonesia Merdeka" yang selanjutnya menjadi pekik "Merdeka" adalah sumbangsih Otista yang lain dalam memperkokoh perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Pikiran-pikiran "kasundaan" yang dikedepankan Otista tidak diartikulasikan secara sempit sebagai etnosentris, tetapi untuk membangun keindonesiaan.
Oleh karena itu, apabila ada pemikiran untuk membuat Museum Otista, bukanlah hal yang berlebihan. Diyakini banyak dokumen menyangkut Otista yang masih berceceran. Mungkin masih tersimpan di tengah keluarga, perorangan, ataupun berbagai perpustakaan di dalam dan luar negeri. Dihimpunnya semua dokumen meliputi pikiran, pendapat, dan sikap Otista, akan lebih memudahkan terutama apabila ada yang berminat untuk meneliti. Di samping itu, Museum Otista bisa pula menampung dokumen mengenai pikiran, sikap, dan pendapat setiap tokoh lain yang ada di Jawa Barat.

Dukungan Kusnet

Memang, membuat sebuah museum bukanlah perkara mudah. Setidaknya, itulah pendapat dari beberapa orang, ketika gagasan ini dilemparkan melalui milis (mailing list) Urang Sunda (http://groups.yahoo.com/group/urangsunda) atau biasa disebut Kusnet (Komunitas Urang Sunda di Internet).
Ada yang mendukung, asal dipikirkan pula pemeliharaan dan upaya penambahan koleksi. Ada juga yang mengusulkan untuk memanfaatkan tempat yang sudah ada, seperti di salah satu ruang di Museum Perjuangan Rakyat Jawa Barat. Ada yang berpendapat agar museum dibangun tidak di pinggir kota yang akan sepi pengunjung, tetapi di tempat strategis sehingga bisa menjadi salah satu ikon Kota Bandung. Ada pula yang keberatan dengan gagasan itu karena mempertimbangkan sebagian besar warga belum menjadi masyarakat literasi dan koleksi terbanyak dari museum yang diimpikan itu akan berupa dokumen tertulis.
Menimbang hal ini, apabila dilihat secara kasat mata, museum tersebut belum tentu menarik sebagai objek visual. Walaupun demikian, ada juga yang bersikeras mengusulkan agar dibangun karena menganggap generasi muda Sunda sudah kehilangan idola. Dengan adanya museum Otista diharapkan dapat mencuatkan kembali sosok ideal yang pantas diteladani, setidaknya ada tempat untuk mendalami pemikiran dan ketokohannya.
Dari tempat yang khusus seperti inilah sosialisasi mengenai sang tokoh dapat dirancang secara lebih khusus pula. Misalnya dalam kegiatan "mimitran" Daya Mahasiswa Sunda (Damas), mengenal tokoh Sunda dapat dijadikan salah satu materi utama. Peserta dibebaskan memilih tokoh pilihannya, yang penting mereka secara utuh memahami seorang tokoh. Materi ini tidak akan sulit kalau museum yang dimaksud sudah tersedia. Dengan demikian, keberadaan museum ini juga akan ikut menempatkan tokoh seperti Otista secara lebih terhormat. Sebab, ada kekhawatiran karena masih banyak aspek hidup Otista yang "gelap", sosok ini juga akan dimitoskan, sebagaimana tokoh Sunda yang lain.
Sebagai moderator Kusnet, penulis menyimpulkan bahwa pada dasarnya banyak yang setuju jika dibangun sebuah museum untuk mengabadikan perjuangan Otista. Seperti pendapat salah seorang anggota Kusnet, setidaknya dengan adanya museum itu, jika mendengar nama Otista yang terbayang bukan lagi sebuah jalan macet dan semrawut penuh pedagang kaki lima, melainkan museum yang dibangun dengan konsep arsitektur Sunda. Sebuah bangunan yang akan menjadi ikon baru untuk warga kota kembang.
Memang, semua itu baru sebatas mimpi. Siapa yang paling berkewajiban membangun museum itu? Sudah barang tentu siapa saja yang merasa cinta kepada keluhuran Sunda. Yang jelas, Otista sudah banyak berjasa untuk Sunda, tumpukan dokumen tentang dirinya masih bisa ditemukan, minat pada kesundaan saat ini sedang meningkat, dan orang-orang Sunda yang berkecukupan secara ekonomi banyak jumlahnya. Apa sulitnya merealisasikan mimpi punya museum Otista? Semoga akan terwujud. ***


MAMAT SASMITA
Pegiat Rumah Baca Buku Sunda dan Moderator 2 Kusnet.
(Dimuat di PR Suplemen TEROPONG Senin 24 Desember 2007)

16 December 2007

WASTU DAN BUKU BACAAN ANAK-ANAK SUNDA.

Oleh : MAMAT SASMITA

Hadiah Sastra Samsudi untuk tahun 2007 nampaknya tidak ada, hal ini karena buku bahasa Sunda untuk anak-anak tidak ada yang layak untuk mendapat hadiah yang terbit pada tahun 2006 (Buku Rancage 2007). Sedangkan hadiah Samsudi untuk tahun 2006 dengan menilai buku bacaan anak-anak berbahasa Sunda yang terbit tahun 2005 didapatkan oleh Darpan A Winangun dan kawan-kawan dengan judul bukunya Dongeng-dongeng ti Karawang.
Hadiah Samsudi merupakan hadiah tahunan yang digagas oleh Yayasan Rancage, pemberian hadiahnya selalu bersamaan dengan pelaksanaan pemberian hadiah Sastra Rancage.
Samsudi adalah pengarang yang nampaknya lebih banyak membuat karya bacaan untuk anak-anak dengan berbahasa Sunda. Karya-karyannya diantaranya Carita Budak Teuneung (Anak Pemberani,1930), Carita Budak Minggat (Caerita Anak Minggat, 1930), Carita Si Dirun (Kisah Si Dirun, 1930), Jatining Sobat (Sahabat Sejati, 1931), Babalik Pikir (Insyaf, 1931).
Buku bacaan anak-anak berbahasa Sunda tentu saja tidak melupakan bacaan yang sengaja diterbitkan untuk bacaan anak sekolah rakyat pada jaman kolonial, semacam Rusdi Jeung Misnem (ada anggapan buku ini terbit pertama kali tahun 1911 yang hanya diberi judul Bacaan Pikeun Barudak Sakola Rayat), Panggelar Budi, Gandasari dan yang lainnya. Rusdi jeung Misnem pada dasarnya menceritakan kehidupan seorang anak bernama Rusdi, laki-laki, dan mempunyai adik perempuan bernama Misnem. Ceritanya seputar dirinya dan seputar kampung dimana dia tinggal, dan yang paling utama adalah memberi semangat supaya anak-anak sebaya dia mau bersekolah untuk menuntut ilmu, hal ini selain digambarkan oleh kakaknya Rusdi yang bernama Ramlan yang sedang sekolah di Bandung juga digambarkan bagaimana pintar dan semangatnya Rusdi menuntut ilmu, sampai Rusdi bisa sekolah di Bandung.
Buku Gandasari juga demikian tidak terlalu jauh berbeda dengan Rusdi Jeung Misnem, hanya pada buku Gandasari penggunaan bahasa Sunda sudah demikian berbeda dengan Rusdi jeung Misnem, dimana bahasa yang dipakai sarat dengan undak usuk bahasa Sunda dan berkesan itulah bahasa Sunda lulugu. Buku Rusdi jeung Misnem untuk sementara orang menganggap bahasanya kasar, seolah-olah tidak cocok digunakan oleh anak-anak, walaupun demikian Ajip Rosidi menganggap buku Rusdi jeung Misnem adalah buku paling baik, karena secara jujur menggambarkan kehidupan anak-anak apa adanya pada jaman itu (Dur Panjak 1957). Hal bahasa yang digunakan dianggap kasar karena itu adalah bahasa sub kultur yang dipakai, maksudnya bahasa anak-anak yang dipakai dengan anak-anak lagi. Misalnya obrolan antara Rusdi dengan temannya atau dengan adiknya, memang bahasa yang digunakan adalah kasar tetapi pada saat berbicara kepada gurunya atau kepada yang dianggap lebih tua, bahasanya menjadi halus.
Buku bacaan anak-anak berbahasa Sunda adalah buku yang secara sengaja dibuat untuk dibaca dan pantas dibaca oleh anak-anak dengan menggunakan bahasa Sunda. Bisa saja dibuat atau hasil karya orang dewasa atau bisa juga sebagai karya anak-anak sendiri. Buku semacam ini sempat terbit cukup banyak terutama pada tahun dasawarsa delapanpuluhan dan sembilanpuluhan. Begitu juga para pengarangnya cukup banyak.
Hanya jalan cerita lebih banyak seputar lemburnya, seputar daerah tempat anak-anak bertempat tinggal. Kalau boleh meminjam istilah batur sakasur (serumah) batur sasumur (tetangga) dan batur salembur .Hampir tidak ada yang visinya lebih mengglobal, katakanlah tidak seperti komik Jepang Kapten Tsubasha, main bola dengan kesebelasan anak-anak dari negara lain, malah cita-cita si pembuat komik seolah-olah memberi semangat kepada kesebelasan negaranya supaya bisa berkiprah didalam Piala Dunia. Kalaupun ada bermain sepakbola pada cerita anak-anak Sunda paling juga antar kampung. Atau apabila kita membaca lagi tetap seputar dongeng seperti sakadang peucang atau sakadang monyet jeung kuya ngala cabe.

Didalam cerita anak-anak Sunda hampir tidak ada tokoh yang diidolakan, tidak ada hero dalam cerita anak-anak Sunda, yang bisa dijadikan pahlawan dalam imajinasi keseharian seorang anak. Ketika hal ini mengemuka, selalu timbul keprihatinan dengan seraya menyalahkan perubahan jaman. Keajegan cerita anak yang digagas oleh para pengarang jaman dulu hampir diam ditempat, tidak ada perubahan.
Begitu juga ketika mencoba menyimpan berdampingan dua buah buku sebutlah buku bacaan anak berbahasa Sunda yang bercerita tentang sebuah misteri dengan sebuah buku cerita misteri dari karya Hitomi Akino yang telah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia diantaranya berjudul Double Murder, Dark Forest Mystery (Elex 2004). Dengan melihat sepintas ilustrasi cover buku dan ukuran buku, nampaknya buku Sunda kalah pamor. Mungkin dari segi cerita tidak kalah serunya, tetapi itulah hanya dengan melihat desain cover saja buku bacaan anak-anak berbahasa Sunda sudah bertekuk lutut bila dibanding dengan bacaan sejenis dalam bahasa Indonesia.

Menurut Irfan Amalee, anak muda yang bergelut di dunia animasi untuk anak, peserta KDKBK, gambaran komik pada tahun dasawarsa enampuluhan, contohnya cerita wayang karya RA Kosasih atau Ardisoma, pada masanya cukup digemari. Tetapi ketika disodorkan kepada anak-anak jaman sekarang, hal itu sudah tidak laku lagi, walaupun telah dikemas berbentuk buku yang lebih luks.
Ternyata ada persepsi yang berbeda antara generasi tua dengan generasi muda tentang sebuah bacaan anak-anak semacam buku komik, tentang selera sebuah bacaan anak-anak jaman sekarang dengan masa lalu. Jurang pemisah (gap) ini terasa sulit untuk dijembatani, setidaknya harus ada kompromi antara generasi masa lalu dan generasi sekarang. Kompromi ini diperlukan dimana generasi masa lalu harus mempercayai kreatifitas generasi muda, begitu juga generasi muda sekarang dengan kepercayaan yang diembannya harus menampilkan kreasinya yang bisa dimaklumi semua kalangan dengan tetap inti ajaran moral etika Sunda tidak dilanggar.

Melalui perbincangan santai, KDKBK (Kelompok Diskusi Kota Bandung Kidul) mencoba menawarkan Wastu untuk dijadikan tokoh didalam cerita anak-anak Sunda. KDKBK sebuah kelompok diskusi kecil yang digagas beberapa orang yang tertarik akan budaya Sunda yang masing-masing pesertanya bertempat tinggal di sekitar Bandung Kidul, minimal mengadakan pertemuan sebulan sekali dengan tempat secara bergilir. Wastu bukan saja ditawarkan untuk menjadi tokoh cerita anak, tetapi juga diharapkan menjadi local hero, menjadi pahlawan bagi anak anak Sunda. Menurut Iip D Yahya pengamat kebudayaan Sunda, salah seorang peserta KDKBK, kalau mau dicari-cari kemiripannya barangkali tokoh Wastu tidak jauh beda dengan Avatar, The Legend of Aang.

Wastu adalah kata dan sekaligus nama yang dianggap mudah diingat oleh anak-anak, mudah diucapkan oleh anak-anak yang baru belajar bicara sekalipun. Kata Wastu mengandung arti hal, keadaan, perkara, restu, berhak dinobatkan (Kamus Bahasa Naskah dan Prasasti Sunda, Elis Suryani dkk, 2001), ada juga yang menganggap wastu artinya watu (batu) yang diperluas maknanya menjadi senjata, malah Romo Mangunwijaya mengartikan wastu sebagai bangunan atau arsitektur. Wastu yang digagas oleh KDKBK adalah kependekan Wastukancana, putra dari Linggabuana sang raja Sunda. Kehidupan masa kecil Wastu seperti yang dapat dibaca pada buku Sejarah Jawa Barat (Yoseph Iskandar, Geger Sunten 1997), pada usia sembilan tahun sudah ditinggal oleh ayah dan kakaknya Diyah Pitaloka yang meninggal akibat tragedi Bubat. Dinobatkan menjadi raja Sunda pada usia dua puluh tiga tahun. Selama dalam asuhan pamannya, Bunisora, antara usia sembilan tahun sampai dengan saat sebelum dinobatkan menjadi raja, itulah kesempatan untuk menggali kreativitas latar cerita yang diangkat menjadi local hero.
Pengalaman apa saja yang didapat selama dipersiapkan menjadi raja, gemblengan apa saja yang didapat dari pamannya Bunisora Suradipati, termasuk sikap hidupnya yang dapat mengelola dendam akibat peristiwa Bubat menjadi sikap bijaksana, menjadi hade gawe untuk kesejahteraan masyarakat Sunda. Hal ini tercermin setelah dinobatkan menjadi raja dan memegang tampuk kekuasaan selama seratus empat tahun. Secara hiperbolis tentang masa pemerintahan Prabu Niskala Wastukancana, naskah berbahasa Sunda kuno Carita Parahyangan menyebutkan “Jangankan manusia, bahkan apah (air), teja (cahaya), bayu (angin), akasa (langit) dan bu (eter) pun merasa betah (nyaman) berada di bawah kekuasaannya”. Kehidupan masa kecil Wastu tentu sangat menarik untuk ditrasformasikan ke keadaan sekarang, terutama dalam hal kedisiplinan, kesungguhan belajar, kejujuran dan ketangguhannya. Visualisasi tokoh Wastu untuk raut wajah dan dedeganana tidak terlalu sulit, wajah anak yang kasep (tampan) dengan paroman Sunda itu sudah cukup, hanya pada saat masuk ke asesoris, seperti baju, hiasan kepala atau hiasan lainnya disitulah mulai timbul kesulitan. Kata Dian Hendrayana, sastrawan Sunda sekaligus peserta KDKBK mengatakan cerita yang sudah ditulis sejumlah orang tentang Wastu, akan sangat membantu kita untuk merekonstruksi kehidupan Wastu muda. Memang akan ada kendala pada detil asesoris yang digunakan saat itu, tapi mungkin di situlah ruang kreasi buat kita.
Itulah Wastu, adakah yang lain yang ingin urun rembug ?.



MAMAT SASMITA
Penggiat Rumah Baca Buku Sunda, peserta KDKBK.

15 December 2007

SAWALA MANAKIBAN

Poe Jumaah tanggal 14 Desember 2007, kuring nepi ka PSS tek kira-kira tabuh satu bada Jumaahan, pas keur hujan ngagebret, dina hate aya kahariwang boa-boa anu datang ngahadiran sawala ngan saeutik alatan hujan. Tapi geuning geus loba barudak Mahasaswa ti UPI, sihoreng maranehna tas praktek maca jeung make microfilm reader, malah dosenna Ibu Ruhaliah ge nyampak, keur mukaan mikcofilm keneh.
Untungna hujan teu lila, Alhamdulillah dina waktuna sawala nu hadir teh aya kana 30 jalma mah, kaasup Kang Maman Gantra ge hadir. Julian jeung kang Iip nu jadi panyatur ge samemeh waktuna geus aya, jadi rada reug-reug.
Teh Lia ti PSS nu jadi sahibulbet cuh cih ngasongkeun susuguh, ieu mah lain susuguh siga dina manakiban tapi susuguh keur nu hadir.
Sawala teh ieu mah sawala terbatas, terbatas teh lain nanaon tapi tempat, nu teu lega, jadi enyaan terbatas, dukdek kana tuur batur.
Tabuh dua leuwih saeutik sawala dimimitian, bubuka ku Kang Hawe ditumbu ku sim kuring nu jadi panumbu catur. Julian menta waktu pikeun nerangkeun manakiban anu kungsi kapanggih jeung mere conto, muter sora keur manakiban tina kaset.
Ceuk Julian aya hal-hal anu perlu di ditengetan diantarana nyaeta teks naratif dipahami sabage kabudayaan tapi aya pakaitna jeung kontek ritual tug nepi ka anu disebut ritual setting, nu dimaksud ritual setting leuwih nyoko kana nyayagikeun kalengkepan keur der manakiban diantarana nyaeta ngaleuyana susuguh ti mimiti bubuahan, beubeutian, neépi ka bubur beureum bubur bodas, cai kopi jeung pangradinan.
Samemehna Julian mere heula penjelasan hal manakiban nyaeta aya nu dilakukeun ku masyarakat hartina masayarakat didieu leuwih bersifat perseorangan anu hayang ngalakukeun manakiban biasana di luluguan ku “sesepuh” anu memang jadi anker (jangkar) dina maca riwayat Kangjeng Syeh. Jeung aya deui manakiban anu memang ayana kulantaran aya pakaitna jeung hiji pasantren, jadi aya tuturus jeung pasantren saperti anu mindeng dijalankeun ku pasantren Suryalaya.
Tah anu leuwih jero ditalungtik ku Julian Millie nyaeta manakiban anu dijalankeun ku masyarakat perseorangan anu teu aya pakaitna jeung hiji pasantren. Dina derna manakiban ceuk Julian aya nu disebut “nguningakeun maksad” nyaeta aya pamaksudan naon pangna hiji kulawarga ngayakeun manakiban, inyana mere conto aya kulawarga Bapa X, anu sapaopoena boga bengekl mobil jeung boga angkot, maksadna supaya bengkelna maju tur usaha angkotna maju. Kitu deui dicontokeun aya hiji Ibu Y anu sapopoena ngusahakeun warung sangu sangkan usahana maju.
Nguningakeun maksad ieu teh dina emprona lain ku anu niat ngayakeun manakiban tapi ku “Sesepuh” atawa ku anu ngalakonkeun, ditatan hiji-hiji kalawan gemet ti mimiti kulawarga sing salamet, terus nepi ka usaha sangkan maju.
Samemeh nepikeun hal nguningakeun maksad aya heula bubukana nyaeta anu disebut “pamuntangan” teu beda jeung tawasul, ieu oge ditataan hiji-hiji, ti ngawitan Kangjeng Nabi tug digi ka guru-guru anu aya sabudeureun didinya, teu kalangkung nau jadi sepuh pribumi.
Anu leuwih narik aya hal anu rada diluar pangbade, Julian kungsi nanya ka Bapa X atawa ka Ibu Y saha ari anu dimaksud Kanjeng Syeh, behna boh Bapa X boh Ibu Y teu apaleun saha-sahana, jadi didinya aya hal anu rada pikahemengeun, jadi pikeun pribumi lain eta anu penting tapi leuwih nyoko kana kalengkepan anu disebut ritual setting tea, sabab hal ieu aya patalina hasil jeung henteuna manakiban. Tah anu disebut hasil teh meureun lamun dina usaha aya kamajuan atawa henteuna, ceuk pameleng anu pribumi lengkep henteuna ritual setting aya pakaitna jeung hasil henteuna eta manakiban, anu penting teh geuning lain nyurahan riwayat Kangjeng Syeh pikeun tuladeun.
Ceuk Julian keneh manakiban saperti kitu kaayeunakeun geus ngurangan, utamana sanggeus krisis moneter, saba keur kaperluan ritual setting tea jadi mahal ditambah ku pucunghulna barudak hasil pendidikan anu aya dilingkungan masyarakat eta, barudak anu masantren atawa lulusan UIN.
Julian Millie teu ngabahas manakiban anu sok dilakukeun ku kelompok, sebut we kelompok anu aya patalina jeung pasantren.

Kang Iip dasarna ngengklokan pamanggih Julian, bari jeung ngaenyakeun naon anu ditalungtik ku Julian, yen enya di masyarakat aya nu ngalakukeun manakiban saperti kitu, ceuk Kang Iip lamun ditilik tina sisi da’wah bisa disebut da’wah anu can anggeus, maksudna masyarakat pra Islam anu percaya ayana kakuatan supranatural kalawan leuwih deukeut kana kakuatan para dewa, atawa para hyang, terus ku ayana karomat-karomat ti sisi tasawuf Islam, nya didieu gumulungna eta kapercayaan. Lain bae manakiban tapi aya deuih anu disebut ratib haddad tapi kalan kalan siga anu leupas tina tarekat Alawiyah, kitu deui aya nu disebut deba’an, ceuk Kang Iip hal ieu teh pikeun masyarakat anu ngalakukeunana nyaeta jadi meduim pikeun ngalengkepan ibadah-ibadah poko.
Ceuk Kang Iip keneh perkara anu aya pakaitna jeung Dewi Sri, nya ieu anu disebut kompromi tina da’wah anu can anggeus tea. Awalna tradisi manakiban ditarima sabage cara islami, dai harita masih keneh mere toleransi kabiasaan buhun anu sok susuguh ka Dewi Sri asal doa anu dibaca mangrupa pangaosan Layang Syeh, ngariwayatkeun Kangjeng Syeh. Tah didieu masyarakat Sunda pra Islam anu boga konsep ka-dewa-an pinanggih jeung kosep tawasul, asupna Islam ka Sunda jadi logor, ngaguluyur.

Dina jirangan (sesi) tanya jawab, Pa Dede Kosasih dosen ti UPI salian nanya oge ngajelaskeun harti pangradinan, ceuk inyana, pangradina leuwih nyoko kaperluan keur awewe, dina kontek ieu nya keur Dewi Sri, eta teh ciri ritualna masyarakat agraris buhun, anu dipake keneh ayeuna, nanya na pedah anu dicontokeun ku Julian apan Bapa X teh lain patani, tapi muka bengkel mobil jeung usaha angkot, tah pertanyaanana, naha aya dina pangradinan ditambahan ku momobilan upamana. Julian ngajawab bari rada seuri euweuh cenah ari momobilan mah, tah didieu matakna simbol eta rada teu dipake, pokona nu baheula kitu nya diturutan we ayeuna ge kitu.
Anu nanya teh loba malah Kang Maman Gantra ge nanya kumaha kontekna jeung purifikasi kaislaman, anu ngajawab hal ieu Kang Iip, ceuk Kang Iip nyaeta pisan aya musabab tina kajadian da’wah anu can anggeus tea.
Anu nanya pangheulana nepi ka genepan dibere buku beunang nyieun Julian Millie anu judulna Celebration of The Desires, hal manakiban.

Keur kuring anu jadi panumbu catur dina sawala model kieu, maksudna sawala anu aya pakaitna jeung hiji kayakinan, karasa rada hese, kudu kumaha ngaguluyurkeun sawala sangkan keuna kana sasaran, anu dimaksud sasaran teh aya kahayang sangkan urang Sunda ulah dianggap teuing dina hirupna nyoko kana hal-hal anu mistis. Misalna lamun aya hiji pribadi ngayakeun manakiban kalawan sanggeus “nguningakeun maksad” teh ulah nganggap anggeus pagawean, padahal anu satemenna kudu hade gawe, anu kudu gawe kalawan cerdas. Hasilna usaha angkot atawa hasilna usaha warung sangu kulantaran geus ngalaksanakeun manakiban, ulah usaha teh jadi lelewoda, ulah sahayuna, tah eta nu disebut cul dogdog tinggal igel teh.
Kuring rada ngagebeg basa acara sawala ditutup, Julian ngajak sasalaman bari nyebut nganuhunkeun ceuk inyana kuring alus jeung sumanget jadi anker (panumbu catur) jadi audien ge teu bosen, teu loyo. Kuring mikir euh kieu meureun gaya bule dina mere apresiasi, saharita tur saluyu jeung kereteg hatena harita, henteu dikemu dikeueum dina hate, togmol jeung jujur. Meureun lamun kuring loyo ge diketrok tah ku Julian anu boga pangkat doktor ti Monash University anu judul desertasina Splashed by The Saint : Ritual Reading and Islamic Sanctity in West Java..
Nuhun Kang Iip, Julian, aranjeun geus mere pangalaman keur kuring.
Sawala maneuh di PSS (Pusat Studi Sunda) bulan hareup, Januari 2008 dina jejer Teknologi Content Provider Jeung Budaya Sunda, panyatur Insya Alloh ti Telkomsel jeung ti Telkom. Alamat PSS di JL.Taman Kliningan II No.5 Buah Batu Bandung.

Sakitu laporan sawala di PSS tea, hapunten bilih aya hal-hal anu hil.

TAMU JEUNG NGOBROL SABULANGBENTOR

Enya, aya genahna keur kuring mah anu geus teu boga pagawean anu maneuh, sapopoe ngan ukur ulukutek diimah, kalan-kalan kurunyung “tamu”.
Minggu ieu diimah teh aya tukang ngecet, da kabeneran ningali cet imah geus rada bulukan, atuh dina saminggu mah diimah teh ngawangkong jeung tukang cet, sanggeus sababaraha poe digawe tukang cet teh isuk-isuk memeh prak digawe nanya, ceuk inyana eta katingalna sok aya bae tamu, sareng sok uplek ngobrol, eta teh bade naon..?.
Atuh kuring nerangkeun yen eta tamu teh anu nareangan buku buku basa Sunda atawa buku buku ngeunaan Sunda. Ceuk manehna deui……euh manawi teh aya kaperyogian naon we anu sanes….., kuring rada kerung nampa jawaban kitu, terus diseleksek, ari breh teh panyangka manehna kuring teh jadi tempat pananyaan hal-hal kahirupan,….atuh kuring rada ngagakgak, ceuk kuring naha disangka paranormal atawa dukun kitu..?. Tukang cet teh seuri bari jeung unggeuk. Dina hate kuring melengek baruk nepi ka disangka kitu..?.
Tamu teh enya rupa-rupa anu datang, ti barudak sakola nepi ka anu kolot geus kundang iteuk,tujuanana mah apan geus jelas hayang maca buku basa Sunda atawa buku ngeunaan Sunda. Eta cenah osok ngobrol uplek apan eta mah bagian tina silaturahim, wawanohan tur silih kanyahokeun.

Geura urang nyokot we tiluan tamu keur conto mah, kahiji Pa Andi, dedeganana rada pendek bayuhyuh, urang Rancaekek, mindeng ulin ka kuring teh pangpangna neangan buku bag-bagan agama dina basa Sunda, pedah anjeuna sok ngajar di Diklat Pos, majarkeun hayang nyonto-nyontokeun dina kahirupan urang Sunda anu saluyu jeung agama. Buku kieu teh keur kuring mah saeutik, maksud teh anu togmol asup kana bag-bagan agama, tapi kapan kabeh carita oge anu dina basa Sunda dasarna mah apan saluyu jeung agama. Lamun majalah iwal ti Langlangmitra anu dasarna agama Kristen. Jadi rek kerewek kana buku basa Sunda naon oge eta tangtu aya hubunganana sok sanajan teu langsung jeung agama Islam. Rek bacaeun barudak, rek novel, kumpulan carpon, wawacan atawa carita pantunna oge. Tah didinya sok uplekna ngobrol teh. Jeung ongkoh deuih Pa Andi teh nurutan muka Rumah Baca diimahna, ti mimiti ngan ukur puluhan buku ayeuna mah geus aya kana sarebu leuwih buku, eta buku buku teh lolobana sumbangan ti papada tatanggana. Jadi ngobrol teh silih simbeuhan pangalaman ngarumat Rumah Baca.

Tamu kadua nyaeta Kang Adi Raksanagara, tah nu ieu mah munggaran ulin ka kuring, ka Rumah Baca, datangna bada lohor. Dedeganana jangkung rada begang, can kolot-kolot teuing ceuk taksiran umurna aya kana 40 taun.
Barang datang teh langsung ningalian buku buku basa Sunda, terus nanya aya henteu buku Sunda anu bisa mere inspirasi keur kompetisi, utamana dina wangun panalungtikan. Puguh we kuring rada pungak pinguk ditanya kitu mah, terus nanya deui buku anu aya pakaitna jeung usaha tina falsapah Sunda, kadenge kitu ge tetep kuring hulang huleng. Kudu buku naon anu diasongkeun.
Tungtungna ngobrol sabulangbentor, geuning inyana teh pimpinan tabloid Bobotoh, ningali ngaranna nu make Raksanagara nya kuring nanya hubunganana jeung Ami Raksanagara garwana Pa Yus Rusyana, ari pek teh Ibu Ami teh lanceukna, kitu deui jeung istrina Pa Ahmad Rustandi. Paingan atuh mani norolang nyaritakeun perkara Sunda, da geuning aya teureuh tidituna.
Ngobrol nepi ka bada magrib, bari jeung teu disuguhan ngan ukur cai herang we tamba garingeun tikoro.
Maksudna neangan buku buku kitu teh pedah rek mere motivasi ka para pegiat kreatif di sabudeureun Suci, ka tukang kaos. Kahayang inyana kreatifitas anu basisna budaya setempat, tah ngompa eta sumanget neangan buku buku keur mere conto. Ku kuring dicoba dibere buku Bujangga Manik, Siksa Kandang Karesian, atuh teu kaliwat Pandangan Hidup orang Sunda, tapi kitu geuning teu payu keur inyanana mah. Tapi aya hiji buku anu diinjeum nyaeta Kabudayaan Sunda Edi S Ekajati.
Jadi enya geuning can aya buku anu ngabahas elmu ekonomi tina jihad ugeran hirup manusa Sunda, can aya buku ragam hias Sunda, can aya buku Estetika Sunda, can aya buku elmu komunikasi anu dadasarna budaya Sunda. Ceuk kuring ka Kang Adi, hampura nun, kuring can boga bukuna, maksud teh can ngoleksi bukuna. ( tapi aya teu nya bukuna..?).
Inyana ge nyaritakeun hal Bobotoh Persib, cenah inyana kungsi ngobrol jeung jalma ti Balai Bahasa, terus inyana ngusulkeun supaya kecap bobotoh diasupkeun kana KBBI lantaran ieu teh tarjamah tina kecap asing suporter, lamun kecap bobotoh asup kana KBBI rek meuncit hayam. Tujuanana nyieun tabloid Bobotoh sangkan para bobotoh teh jadi nyakola tur nyunda, atuh ka Persibna sangkan maen alus, keun ari soal eleh jeung meunang mah lain hal eta mah. Ceuk inyana ngan Persib anu bisa ngahijikeun jelema nepi ka puluhan rebu bari jeung kabeh ngomong Sunda. Kitu tah nyaritakeun tamu anu kadua. Aeh aya nu kaliwat ceuk Kang Adi lamun diacak aksara INDONESIA teh sarua jeung INI SOENDA, he he kuring seuri heueuh we nya.

Tamu katilu tah nu ieu mah tamu maneuh, da geus rada mindeng ulin ka kuring, jelemana ngora keneh, dedeganana jangkung henteu pendek henteu, imbang we lah jeung awakna, teu lintuh teu begang. Nyaeta Kang Iip D Yahya, enyaan ngobrol jeung Kang Iip mah rada hese rek ngudagna, lantaran lumpatna tarik pisan, loba kamandangna hal Sunda. Ari ngaku dina tulisanana mah inyana sok ngaku pengamat pasantren, da enya hirupna lila di pasantren, kuliahna kungsi di IAIN ayeuna mah UIN tea. Sapopoe nya jadi penulis, budakna kakara hiji kakara umur opat taun, teu di asupkeun ka TK tapi ngayakeun home scholing, istrina dosen di STSI.
Ayeuna unggal ngobrol jeung Kang Iip pasti nyokona kana pikiran pikiran Oto Iskandar Dinata, sabab inyana keur nulis perkara Oto, hayang nulis buku Oto, ceuk inyana sabab buku anu aya ayeuna teu kabeh hal Oto kakemot, aya nu kaliwatna. Duka teuing palebah mana kaliwatna, ngan ceuk inyana loba pikiran-pikiran Oto anu sabenerna gede pisan hartina kana kamekaran Sunda harita. Sabab ceuk Oto lamun ngomong Sunda hartina ngomong Indonesia, lain bae keur kamajuan Sunda tapi keur kamajuan Indonesia.
Nyucruk pikiran pikiran Oto, kang Iip mindeng ngadekul di Pusnas, hanjakal sok beakeun bekel cenah, basa minggu kamari ge sarena di Kantor PN NU pedah aya kenalan didinya, mimitina mah nghubungi kang Kandar (kumincir) tapi kapan kang kandar kudu kilir ka Bandung.
Nyucrukna neangan tulisan Oto atawa warta ngeunaan Oto tina koran Supatahunan, ceuk Kang Iip neangan hal Oto teh sok kabengbat ku tulisan sejen, saperti Tajuk dina Sipatahunan, geuning cenah anu dipadurenyomkeun soal Sunda meh sarua jeung anu sok dipadurenyomkeun jaman kiwari. Ceuk Kang Iip naha bet teu anggeus-anggeus, sola kapamingpinan, kabanjiran kakurangan dahareun jste.
Kalan-kalan ngobrol jeung Kang Iip sok loba luak leokna, samisal nyaritakeun sajarah Sunda, Sunda teu kungsi diereh nepi ka jaman Pajajaran. Ku Majaphit anu majarkeun saIndonesia geus kaereh kapan Sunda mah henteu, tapi naha waktu ku Mataram bet bisa kajajah, naha..?. Naha Mataram boga naon harita, kucara kumaha bet pangaruhna masih aya keneh nepi ka ayeuna. Nu kudu ditalungtik naha Mataram harita make elmu naon, nepi ka Sunda awut-awutan. Atawa Sunda geus teu malire dirina, keuna supata ku Wastukancana pedah geus teu ngamumule kabuyutan.
Naon hartina kabuyutan didinya, ceuk rarasaan lamun ngan sakadar tempat heug disebut kabuyutan asa leutik teuing, sigana kabuyutan didinya dina harti ide, gagasan atawa naon..?
Balik deui ka Oto, lamun tea mah rek mere sesebutan Bapa Urang Sunda keur hiji inohong dina mangsa kiwari, lain mangsa bihari, mana anu pantes Oto, Juanda atawa saha..?
Lamun tea mah Oto, kumaha lamun nyieun Museum Oto Iskandar Dinata, asana urang Sunda can boga inohong anu kudu ditalungtik nepi ka bubuk leutikna utamana pikiran-pikiranana dina ngamajukeun Sunda (Oto teh anu mimiti ngajukeun dina Sidang BPUPKI sangkan Sukarno Hatta jadi Presiden tur Wakilna anu disatujuan ku balarea anu sidang harita, tapi tragis ahirna Oto aya nu nelasan).

Sakitu tah dongeng “tamu” teh, nulis kieu teh pedah we sok aya tamu ka imah, disangka weh kuring teh paranormal ku tukang nge-cet.

09 December 2007

ULIN KA KABUYUTAN CIBURUY.


Ku : MAMAT SASMITA

Basa poe Saptu 3 Nop 07, kuring ngilu ulin ka Kabuyutan Ciburuy Garut, ngilu ka rombongan ti PSS, samobil pinuh, karunya anu kuru we, kadempet. Merenyeng hayang ngilu, pedah eta loba kacaturkeun apan di Ciburuy Garut teh tempatna intelektual Sunda jaman bihari, nepi ka loba karyana dina wangun tulisan dina media daun lontar jeung nipah. Anu geus katalungtik nyaeta naskah Amanat ti Galunggung jeung Sewaka Darma. Hayang nyaho kumaha bungkeuleukanana naskah dina daun lontar di lingkungan aslina. Rombongan teh aya dalapan urang, kaasup Ceu Tien Wartini filolog ti Musium Sribaduga, malah Julian Millie ge ngilu, Julian antropolog ti Australi anu keur nalungtik perkara manakiban.
Ti Bandung miang meh tabuh satengah sapuluh da ngadagoan Kang Dhipa nu rek nyupiran kasarean. Resep di jalan teh ari sarombongan jeung jalma nu "balageur" mah, sagala dikomentaran. Palebah Cibatu kuring ngagereyem nyambat Kang Deni. Di Garut tepung jeung Kang Darpan, da Kang Darpan nu jadi tuduh jalan. Geuning jauh keneh ti Garut ge aya kana 23 km ka Ciburuy teh, palebah desa Pamalayan jalan rada netek tur jalanna leutik ukur asup samobileun.
Meh lohor kakara nepi ka anu dituju, kasampak panto gerbangna dikonci, atuh ngadagoan heula kuncen.
Komplek Kabuyutan Ciburuy legana ampir satengah hektar (5230 m2), dibagi dua tempat utama, nyaeta Patamon jeung Padaleman. Di Patamon (patamuan, tempat narima tamu) aya tilu bangunan, leuit, bale tamu, nu hiji deui mah disebut saung lisung, lisungna mah euweuh ngan didinya teh loba suluh.
Ari di Padaleman mah ngan aya hiji bangunan, ngan lamun rek kadinya ngaliwatan heula sekat rohang, ceuk kuncen mah eta teh nunjukeun hambalan keur nuju ka nepi ka tempat utama, bangunan Padaleman aya di tungtungna.
Rek asup ka komplek Ciburuy teu sagawayah kudu ijin heula ka kuncen. Malah dina poe Salasa jeung Kemis dipahing pisan, teu bisa narima tamu. Tamu anu kabaca dina buku tamu rupa-rupa pamaksudanana, aya nu nulis "maksud khusus" aya nu nulis neangan jodo, jste. Anu jadi kuncen ngora keneh, umurna kakara 27 taun, ceuk inyana jadi kuncen teh anu ka 124, turunan ti bapana.
Rombongan teh kabeneran bisa ningali naskah jeung parabot sejen kayaning kujang jago, peso pangot, seuseukeut tumbak, loceng, anu aneh naha bet aya gunting jeung rurumah (frame) kacapanon sagala. Gunting wangun tungtungna cagak tilu, rurumah kacapanon mah siga dijieun tina tanduk atawa batok (sigana ieu barang mah titinggal kabehdieunakeun, atawa titinggal kuncen da asa pamohalan jaman abad ka 16 aya kacapanon, kumaha lensana).
Anu matak prihatin, naskah teh dipetian bareng jeung parabot anu tadi, ngan naskah make heula kotak kai anu leuwih leutik, disebut koropak, tuluy dibulen ku lawon bodas, siga keur boeh. Petina aya tilu anu hiji leuwih gede, kurang leuwih ukuranana 70x50x50 cm, anu dua deui leuwih leutik, kira-kira 60x40x40. Peti nu leutik nu hiji deui geus koropok pisan, ceuk kuncen mah sok digorogot ku beurit. Beu kumaha lamun naskahna digegelan beurit. Naskah anu dibuka kamari ngan hiji, da cenah sabenerna mah teu meunang dibuka, ari dibukana sataun sakali dina bulan Muharam, sakalian diberesihan dina acara Seba.
Sarombongan teh abong kena lolobana tukang nulis, waktu ngobrol jeung kuncen teh ting kusiwel kana catetan, anu pogot ngawawancara Kang Hawe jeung Kang Deden Abdul Azis katut baladna, ari kang Dadan mah pogot kana motret malah hayang dipotret di hareupeun hawu sagala. Anu ripuh Kang Atep Kurnia lantaran hayeuh bae dipenta tulung motret anu keur ngagaya. kang Dipa loba reureuh, sigana cape tas nyupiran.
Ceu Tien loba nerangkeun wangun tulisan, disebutkeun dina kumpulan naskah teh aya nu make aksara Buda sagala. Julian mah ukur palahak polohok bari nyebut amazing amazing kitu.
Kudu aya upaya nyalametkeun naskah, lantaran eta naskah teu bisa dibawa kaluar ti Ciburuy atuh anu perlu teh nyieun peti anu wedel, tina jati dibulen ku aluminium supaya teu teurak digegel beurit. Kamari ge aya kasapukan rek ngusahakeun nyieun peti, sugan we cenah urang Sunda aya nu haateun keneh.
Bada Asar kakara mulang, di Garut nyimpang heula ka bumina Kang Darpan di Gordah. Tabuh lima sore mangprung ka Bandung, sakali deui palebah deukeut ka Cibatu ngagereyem deui ka Kang Deni Suwarja, hampura teu ngabejaan jeung teu kaburu nyimpang. Enyaan ngagereyemna kuring katampa ku Kang Deni da buktina basa Senen isuk-isuk nampa SMS neuteuli pedah teu ngajak jeung teu nyimpang. Hampura ah.
Tulisan ieu teh ku Kuring dikunclungkeun ka milis Kusnet, Alhamdulillah aya nu nyamber ngengklokan utamana hal peti anu koropok tea, nya aya nu udunan pikeun nyieun peti. Peti dijieun di Madiun, lain nanaon pedah aya kasanggupan ti Kang Ukas anu dumuk di Madiun, jeung deuih kaina tina jati jadi bakal awet, hargana teu mahal teuing.
Pertengahan Desember 2007 peti rek anggeus, sugan we bisa buru-buru kaganti, lebar bisi naskah kaburu digegelan beurit.

04 November 2007

BUKU SUNDA JEUNG GUTENBERG

Ku : MAMAT SASMITA.


Sabenerna ti imah ka pasar buku Palasari teh teu jauh teuing, paling ge lima kilometer. Lamun seug Bandung siga baheula keneh, siga antara taun 1950 – 1960 leumpang ge moal karasa cape, lantaran jalan linduk keneh, loba tatangkalan keur iuh-iuh, jadi lamun leumpang teh moal panas turta harita mah suhu kota Bandung ge teu panas siga kiwari.
Aya data taun 1926 suhu kota Bandung pangpanasna ukur nepi ka 26,5 derajat celcius, kitu deui dina taun 1950-1960 teu jauh ti kitu, kacida jauh bedana jeung mangsa kiwari, geura we dina bulan Nopember taun 2006 suhu kota Bandung kungsi nepi ka 34,6 derajat celcius. Hiji fenomena anu luar biasa, lantaran Bandung teh kawentar kota anu suhuna tara leuwih ti 30 derajat celcius, tapi kiwari kungsi ampir nepi ka 35 derajat celcius.
Jadi lamun ayeuna kudu leumpang di jalan kota Bandung sapanjang lima kilometer, kacipta bakal ngoprot kesang, komo lamun tengah poe keur ereng-erengan, katambah ku pagaliwota kendaraan, leumpang dina trotoar kandeg ku kios nu jualan, leumpang dina jalan aspal tangtuna ge bakal disalahkeun ku supir mobil.
Tungtungna bet siga ogoan indit deukeut ge kudu we kana kendaraan, boh angkot boh ojeg.
Indit ka pasar buku Palasari teh keur kuring mah geus jadi ritual maneuh, dina sabulan teh kudu we sakali mah, salian ti neangan buku sakalian silaturahmi jeung aktivis buku didinya, sukur-sukur manggihan buku Sunda, sok sanajan nyamos pisan ge teu nanaon. Indit-inditan kitu teh salian ti ka Palasari aya deui nyaeta ka pasar buku ngampar di jalan Dewi Sartika, atawa ka pasar Cihaurgeulis.
Beuki kadieu buku Sunda beuki hese, ari wedalan anyar mah remen manggih, eta nu hese teh buku buku basa Sunda wedalan Bale Pustaka atawa wedalan samemeh taun dalapanpuluhan. Lamun dina manggihna ge sok geus kuleuheu atawa geus ruksak, hese pisan dihadeanana. Tapi ketah buku basa Sunda nu kaasup wedalan anyar ge can tangtu aya di unggal kios, can tangtu aya sa-pasar Palasari.
Hal ieu teh naha promosina anu kurang atawa geus euweuh nu butuheun, tapi lamun ngabandungan dina paguneman, boh langsung atawa ngaliwatan email sok remen anu nanyakeun buku buku basa Sunda. Meureun ana kitu ge aya keneh anu butuheun ngan teu nyaho kudu kamana neanganana.

Hirup tur huripna hiji basa teh aya pakaitna jeung lobana buku anu bisa dibaca, kitu deui basa Sunda, sok sanajan aya anggapan yen basa Sunda geus mimiti teu dipalire ku anu ngagunakeunana, tapi eta anggapan teh asana ngan ukur di kota gede kayaning Bandung, da ari di pasisian mah masih keneh dipake, malah apan di sakola ge aya keneh anu jadi basa panganteur keur sakabeh pelajaran nu aya. Tong jauh-jauh cobaan we ngalongok ka sakola SD Karanglayung nu aya di Desa Kadakajaya Tanjungsari Sumedang didinya basa panganteurna basa Sunda keur sakabeh mata pelajaran. Komo meureun lamun anu leuwih jauh ti puseur kota.
Parendening kitu buku buku basa Sunda kacida diperlukeunana, keur bacaeun jeung tangtu loba mangpaatna sabab bakal manggih kecap-kecap anu can tangtu dipake sapopoe, da dihenteu-henteu ge basa lisan bakal beda jeung basa Sunda tulis, bisa jadi leubih euyeub dina basa tulis.
Pangalaman jadi moderator dina hiji milis (mailing list) dina internet salila genep taun, loba anu salah nulis samisal kecap punten ditulis punteun, wilujeng ditulis wilujeung, peuyeum ditulis peyem, tangtu kasalahan siga kitu ku alatan arang langka maca buku basa Sunda, da asana pamohalan aya kasalahan siga kitu lamun mindeng maca buku basa Sunda. Atawa sigana media masa citak basa Sunda teu konsisten make ejaan anu bener samisal anu bisa ngabedakeun e siga dina kecap punten jeung é siga dina kecap beda.

Tah palebah nyadiakeun buku bacaeun dina basa Sunda, duka teuing ieu teh kawajiban pamarentah atawa kawajiban saha, lamun tea mah enya kawajiban pamarentah (daerah) atuh tinggal der we asupkeun kana APBD, eta cenah bisi disebut etnosentris teuing atuda eta mah masalah teknis tinggal kudu kumaha luyuna tapi sahenteuna aya sumanget ka palebah dinya, ulah dicullaurkeun teuing. Ongkoh apan aya Perda nu ngatur hal ngamumule basa katut budaya Sunda, jadi aya dadasar hukumna.
Buku buku basa Sunda digolontorkeun ka masyarakat, bisa bae ngaliwatan sakola, desa atawa perpustakaan anu aya di desa desa, sugan ku cara kitu basa Sunda leuwih nanjung, lain bae keur kaperluan masyarakat nu macana tapi sahenteuna geus mere luang keur pangarang basa Sunda.
Ceuk beja bawaning angin dina program ngayakeun buku buku taun 2007 anu dikokojoan ku hiji Badan/ Dinas di Pemda Jabar anu waragadna nepi ka welasan milyar rupiah pikeun ngalengkepan perpustakaan di Kabupaten, bagean buku buku basa Sunda mah teu nepi ka sa-persen-na. Eta beja teh matak hanjelu, cik atuh minimal sapuluh persen ge geus mere kasempetan anu kawilang alus kilang bara nepi ka duapuluh lima persen mah.

Dina mangsa kiwari, salian ti buku citak aya deui media sejen anu disebut internet keur nyimpen hasil karya tulis atuh beh dituna aya anu disebut e-book tea. Ari nu disebut buku mah geus puguh mediana tina keretas, ari e-book mah mediana CD atawa DVD atawa Harddisk.
Dina internet aya anu disebut blog atawa webblog, ieu teh hiji tempat keur nyimpen tulisan pribadi, teu beda jeung catetan sapopoe (diary). Anu nyadiakeunana kawilang loba saperti blogspot, multiply, friendster jeung sajabana ti eta. Unggal jalma bisa ngiluan ngabogaan blog kalawan mandiri tur haratis, tapi tetep kudu tukuh kana aturan anu dijieun ku anu nyadiakeun blog.
Blog anu dipiboga ku individu ngeunaan Sunda boh make basa Sunda boh make basa Indonesia kawilang rea, geura dicobaan disusud dina mesin juru susud (search engine) bakal ngaburudul. Contona http://galuh-purba.com, http://sireum-hideung.blogspot.com , http://ascheve.multiply.com , http://www.urangsunda.net , http://burdansyah.blogspot.com , http://rumahbacabukusunda.blogspot.com.

Aya hiji situs internet anu kawilang popiler sok disebut Gutenberg (Gutenberg nyutat tina ngaran jalma urang Jerman, ngaran lengkepna Johann Gutenberg anu hirup antara taun 1400-1468 M. Dina bukuna Michael Hart, Seratus Tokoh, asup kana urutan nomer dalapan dianggap boga jasa keur kamekaran sajarah dunya lantaran geus mampuh nyiptakeun alat nyitak buku) di alamat http://www.gutenberg.org . Ieu situs teh kaasup situs nirlaba anu nyadiakeun e-books, bisa dikunjal (download) ku saha bae kalawan haratis. Lamun urang hayang maca buku karya Jules Verne anu judulna Around the World in 80 Days tangtu we dina basa asing, tinggal klik, langsung bisa dibaca. Hasil pangarang sejen ge nyampak kayaning karya Charles Dickens, Oscar Wilde, Edgar Allan Poe jeung sajabana ti eta.

Sigana lamun urang Sunda nurutan siga kitu asana teu salah-salah teuing, boga situs samodel Gutenberg, dikokojoan ku LBSS (Lembaga Basa jeung Sastra Sunda). Pangna kudu dikokojoan ku LBSS pedah we apan LBSS teh hiji lembaga anu dihenteu-henteu ge boga otoritas kana kamekaran basa katut sastra Sunda.
Carana teu hese-hese teuing, entong ari dina webblog anu haratisan mah, era bisi majarkeun LBSS teu boga biaya jeung bisi disangka amatiran. Anu penting aya niat heula kalawan jejem, dina derna mah pasti loba anu mantuan.
Eusina, nyakitu samodel Gutenberg, ngadigitalkeun buku buku basa Sunda, bisa dikunjal (download) ku saha bae kalawan haratis jadi sipatna nirlaba, lain komersial. Ngan tangtu aya aturan, buku basa Sunda anu mana anu bisa didigitalkeun, kalawan disebarkeun dina internet. Ulah nepi ka aya sangkaan ngalanggar HAKI ( Hak Kekayaan Intelektual), ceuk legegna mah ulah nepi ka ngalanggar copyright, kudu bener-bener buku anu geus right to copy. Keur saheulaanan ngadigitalkeun buku buku anu umurna geus lima puluh taun ti mimiti dipedalkeun (hal ieu ge kudu ditalungtik deui naha enya nu geus umurna lima puluh taun, kudu disaluyukeun deui jeung Undang-Undang HAKI), atawa menta ijin heula ka pangarang jeung pamedalna.
Salian ti sipatna nirlaba kudu terbuka deuih, maksudna kudu ngawadahan saha bae anu rek jadi kontributor sakalian ngawadahan anu rek jadi donatur. Nu disebut kontributor nyaeta anu sadia jadi relawan pikeun mantuan ngeusian situs, sedengkeun donatur mah nya anu mantuan mere biaya. Didieu ge tetep aya aturan, tulisan anu dikirim ku kontributor kudu disortir heula ku administratur samemeh dianggap layak tayang. Ngaran eta situs bisa bae http://www.lbss.or.id dina salah sahiji menu-na nyadiakeun e-book Sunda. Lamun tea mah aya nu perlueun, misalna, ku buku Mantri Jero, tinggal klik, gorehel we manggih, apan teu kudu kokotetengan neangan ka pasar buku loakan. Kitu deui lamun anu neangan buku karya-karya Moh Ambri, Caraka, DK Ardiwinata, Ajip Rosidi, Memed Sastrahadiprawira, Juhana jeung lian ti eta, tinggal klik, gorehel we manggih.
Ari soal ngadigitalkeun buku mah dina jaman kiwari geus lain pagawean hese, teu kudu diketik ulang dina komputer, da geus aya alatna nu disebut scanner lengkep jeung program anu diperlukeunana.
Enya nyieun situs internet anu bergengsi teh lain pagawean enteng, tapi kapan sagala rupa oge kudu dinawaetuan heula, ngimpi ngimpi atuh tibatan bolostrong pisan, entong atuh Sunda teh bisa ngigelkeun jaman, ti hiji sisi bisa ngigelan jaman ge geus kacida alusna. Ahlina nyieun situs di Bandung mah ngabadeg, atuh lamun minangsaraya ka paguron luhur ge tangtu bakal dibageakeun.

Sabenerna geus aya hiji situs internet alamatna di http://sunda.web.id, eusina keur saheulaanan aya 30 kategori diantarana Adat Istiadat, Agama dan Kepercayaan, Alam dan Lingkungan, Arsitektur, Sastra Sunda, Kamus Sunda jeung sajabana ti eta. Ieu situs teh dikokolakeun ku perorangan, lamun nilik kana eusina anu sakitu euyeubna matak reueus, sanajan eusina unggal kategori can lengkep. Tapi lamun ningali paniatanana jeung dikokolakeun ku perorangan lain ku hiji organisasi, sakuduna nu jadi urang Sunda nganuhunkeun malah lamun jadi donatur teh asa pantes. Situs LBSS mah teu kudu aya kategori sejen tapi panceg dina ngadigitalkeun buku buku sastra Sunda jeung kamekaran basa Sunda, luyu jeung pancen LBSS.

Pangna kuring nepikeun ieu pamanggih, itung-itung ngabejaan bulu tuur we atuh, jeung deuih dunya internet beuki dieu beuki dipikawanoh. Kapan barudak tingkat SD, SMP oge, utamana di kota gede, geus pada apal ayana internet, geus lain dianggap barang aheng, ongkoh kahareupna bakal beuki dipikabutuh.
Cag. Bobot pangayon timbang taraju mangga nyanggakeun.


MAMAT SASMITA
Ngokolakeun Rumah Baca Buku Sunda di Bandung
(Dimuat dina Rubrik KOLOM Mangle No.2141 Tgl 1-7 Nopember 2007)

19 October 2007

MIMPI KAMPUNG BUKU DI BANDUNG

Oleh : MAMAT SASMITA


Ada istilah “biblioholism” atau disebut juga “literary addiction” atau bisa juga diterjemahkan sebagai kecanduan buku, hal ini agak berbeda dengan pembaca buku biasa, mereka lebih rakus lebih ekstrim karena mereka lebih tamak membeli buku, mengumpulkan buku dan lebih rakus membaca dan kesemuanya itu menempatkan mereka dalam dunia yang eksotis yang disebut biblioholic (orangnya).
Pada Abad ke 18 ada seorang pakar perundang-undangan Perancis, Boulard, begitu bernafsu mengoleksi buku sampai sampai harus membeli rumah ke enam untuk menampung semua koleksi bukunya, tetapi dia bibliomania, membeli buku tetapi belum tentu dibaca, yang lebih masuk akal adalah bibliofil (bibliophile), dia juga rakus membeli dan rakus membaca.
Ada istilah lain yang sejalan dengan itu tetapi ada perbedaan yang melatarbelakanginya, seperti bibliotaf (bibliothap) yaitu orang yang ingin buku-bukunya aman, sehingga buku buku tersebut dikubur setelah merasa akan awet. Bibliocast yaitu orang yang tak tahan ingin merobeknya bila melihat halaman buku yang baik, ini bisa disebut penghancur buku. Lain lagi dengan biblionarsis, membeli buku yang mahal, dipajang dengan baik, ini hanya untuk pamer, hanya untuk makan (mendapat) pujian, itulah menurut Tom Raabe didalam bukunya Biblioholism, The Literary Addiction (Fulcrum Publishing, 1991)

Kita sepakat bahwa buku merupakan pintu menuju ke dunia ilmu pengetahuan dan membaca adalah kuncinya, tetapi ketersediaan buku yang kadang menjadi kendala. Apalagi harga buku saat sekarang terasa masih mahal. Menjadi keahlian tersendiri untuk menyiasatinya supaya bisa membaca buku yang diminati. Ada banyak cara, diantaranya mendatangi perpustakaan baik pribadi maupun institusi, mendatangi rumah baca atau nongkrong dipinggir jalan di penjual buku loakan. Yang terpenting adakah kita mempunyai minat baca. Tidaklah perlu kita menjadi biblioholic, cukup senang membaca saja sudah menguntungkan, paling tidak tudingan bahwa bangsa kita malas membaca bisa semakin terkikis

Di sisi lain ternyata Indonesia menempatkan diri dalam urutan ke 21 sebagai negara yang telah mempunyai Kampung Buku (book village), kedua di Asia Tenggara setelah Malaysia. Kampung Buku di dunia ini awalnya digagas oleh Richard Booth dengan membuat Book Town di Wales Inggris dengan disebut Hay-On-Wye, selanjutnya diikuti oleh beberapa negara diantaranya Redu Village du Livre (Belgia), Bredevoot (Belanda), Miyagawa (Jepang), Kampung Buku Langkawi (Malaysia).
Di Indonesia, Kampung Buku disebut Desa Buku terletak di Desa Kyai Langgeng di kota Magelang Jawa Tengah, berada di kawasan obyek wisata Taman Kyai Langgeng.
Konsep Kampung Buku adalah merupakan pengembangan dari taman bacaan yang banyak bermunculan disetiap kota, buku yang disediakan bisa buku baru, buku bekas sampai ke buku yang tergolong antikuariat, bagi peminat buku bisa membeli atau hanya sekedar membaca.

Nah mari kita mimpi bersama, mumpung mimpi belum dilarang oleh siapapun, bagaimana kalau di kota Bandung ada sebuah Kampung Buku dengan konsep yang agak berbeda dengan kampung buku yang sudah ada. Konsepnya mirip mirip dengan Cibaduyut yang terkenal dengan sepatu, Cihampelas yang terkenal dengan jean, Gang Tamim dan Cigondewah yang terkenal dengan kain kiloan, Cibuntu yang terkenal dengan tahu-nya. Memang benar telah ada Palasari yang terkenal dengan pasar buku, entah buku baru maupun buku bekas, tetapi yang dimaksud dengan kampung buku bukan seperti itu. Kampung Buku juga bukan ditempatkan disebuah kawasan wisata seperti Desa Buku Kiayi Langgeng atau Langkawi di Malaysia, tetapi di perumahan hunian biasa.
Hanya sebelum menuju kesana harus ada kegiatan rutin yang mengawalinya, misal mengadakan pameran atau bazar buku di sebuah perumahan, memanfaatkan ruang terbuka atau taman di komplek perumahan selama musim kemarau supaya tidak terganggu hujan.
Penyelenggara bisa dari IKAPI atau organisasi perbukuan lainnya yang bekerjasama dengan RT/RW setempat. Bukankah pelaksanaan pameran buku tidak selalu harus di gedung, bisa dicoba penggiat perbukuan mendatangi warga, bukan harus selalu warga atau peminat buku yang mendatangi gedung yang ada bazar bukunya.
Pelaksanaan kegiatan ini harus rutin dilaksanakan, dengan tempat yang tetap sehingga bisa merangsang penghuni sekitarnya untuk turut berpartisifasi. Walaupun dilaksanakan kegiatan demikian tetapi kenyamanan sebagai komplek hunian tetap tidak ditinggalkan. Di Bandung banyak komplek perumahan yang memungkinkan untuk menyelenggarakan kegiatan seperti itu. Ada ruang terbuka yang dipergunakan untuk ruang publik, semacam taman perumahan, jalan di perumahan tersebut relatif lebar sehingga dapat dilalui kendaraan dua arah dengan leluasa, penghuni relatif lebih teratur. Dengan adanya kegiatan rutin seperti itu diharapkan adanya keikutsertaan masyarakat sekitar, entah langsung berkecimpung dengan dunia perbukuan atau hanya ikutan-nya saja, tetapi setidaknya ada rangsangan kearah itu.
Bisa dibayangkan sebuah komplek hunian menjadi sentra penjualan buku tetapi tetap kenyamanan lingkungan hunian tidak terganggu, apabila mulai mengarah kepada kesemrawutan disitulah ketegasan dari RT/RW setempat diperlukan. Pembeli berlalu lalang meyambangi dari rumah ke rumah, disuguhi katalog buku, menatap dan membuka buku. Setiap rumah keluarga berjualan buku, setiap penghuninya ada kegiatan bisnis tanpa meninggalkan rumah. Katakanlah ada sekitar seratus rumah yang melakukan kegiatan itu, dengan sejumlah itupun sudah cukup mejadi kampung buku, pembeli akan datang dengan sendirinya.

Yang menjadi latar belakang mimpi ini adalah Bandung sebagai kota besar tetapi belum ada tempat wisata buku yang memadai, padahal Bandung menjadi tujuan belajar bagi segenap pemuda dari seluruh Indonesia, begitu banyak perguruan tinggi, begitu banyak ilmuwan, budayawan maupun seniman, begitu banyak orang cerdas disekitar kita, yang hidupnya tidak lepas dari buku.
Memang benar di Bandung banyak toko buku yang besar dengan tempat yang nyaman, tetapi kita, sebagai pembeli, disana tidak ada bedanya dengan robot, karena antara penyedia/penjual dengan peminat/pembeli tidak terjadi interaksi, benar ada penjaga toko buku yang cantik tetapi ketika ditanya tentang buku tidak terjadi interaksi yang cerdas, paling menjawabnya “ada” atau “tidak ada” dan biasanya hanya menunjukan tempatnya, di rak yang mana, ada kekosongan dialog antara peminat buku dengan penyedia buku. Dengan konsep kampung buku, kekosongan dialog tersebut diharapkan menjadi terisi, antara penyedia dan peminat dapat berdialog sekaligus diskusi tentang isi buku, dan bisa juga dialog antar peminat buku, ada kehangatan tersendiri.
Kenapa selama ini kegiatan, umpamanya, bedah buku atau peluncuran buku seolah-olah harus selalu di gedung ternama atau harus di kampus. Alangkah menariknya apabila dilaksanakan disekitar perumahan hunian, pengarang dan penerbit mendatangi peminatnya. Pengarang dan penerbit jangan merasa jadi rendah apabila harus berhubungan dengan pejabat setingkat RT atau RW, bukankah pembaca sebenarnya ada disana, memang pemilihan tempat komplek hunian harus menjadi pertimbangan.

Lomba Minat Baca, Bazar dan Pameran Buku 2007 yang digagas oleh Perputakaan dan Arsip Daerah Kota Bandung untuk tahun berikutnya sebaiknya dicoba dilingkungan pemukiman, tidak harus selalu disekitar perkantoran pemerintah daerah seperti yang sudah diselenggarakan pada pertengahan bulan Agustus 2007 lalu. Kegiatan minat baca seperti itu ada baiknya melibatkan langsung masyarakat sekaligus mendekatkan diri antara penggagas dengan target. Jangan selalu masyarakat sebagai target yang selalu dipaksa untuk mendekat. Bandung Cerdas 2008 barangkali bisa dicapai dengan cara itu, Bandung jangan hanya terkenal dengan wisata kuliner, wisata pakaian jadi, harusnya bisa menjadi tujuan wisata buku, wisata yang mencerdaskan, bukan melulu wisata bebal.
Di Bandung diyakini banyak tokoh atau inohong budayawan, seniman terkenal, atau pejabat atau mantan pejabat yang dirumahnya sudah pasti banyak bukunya. Ada baiknya membuka diri, koleksi bukunya bisa dibaca oleh umum, entah menjadi rumah baca atau apapun namanya. Resikonya hanya satu yaitu rumah jadi kagiridig ku batur, tapi bukankah disitu ada hikmahnya yaitu menjalin silaturahim dengan siapa saja.

Adakah yang akan ikut mimpi ini…? .


Mamat Sasmita
Penggiat Rumah Baca Buku Sunda, tinggal di Bandung.
(Dimuat di Kompas Jabar Jumat 19 Oktober 2007)

22 September 2007

MEMBACA ORANG SUNDA

Oleh : MAMAT SASMITA

Kota Bandung mempunyai moto: bermartabat, atau bersih, makmur, taat, dan bersahabat. Moto ini sekaligus dijadikan sebagai visi-misi Kota Bandung. Moto sebelumnya adalah Bandung atlas atau aman, tertib, lancar, dan sehat. Setelah Bandung atlas, moto itu berubah lagi menjadi Bandung berhiber alias bersih, hijau, dan berbunga. Kemudian Bandung genah merenah tumaninah, dan sekarang bermartabat itu.

Kalau itu disebut sebagai moto Kota Bandung, mungkin ada benarnya walaupun Kota Bandung sendiri telah mempunyai moto: gemah ripah wibawa mukti. Kata-kata ini telah terpampang pada lambang Kota Bandung sejak tahun 1953. Menurut situs http://www. bandung.go.id, arti gemah ripah wibawa mukti adalah tanah subur rakyat makmur.

Bandung atlas diperkenalkan oleh Ateng Wahyudi, Wali Kota Bandung periode 1983-1993. Bandung berhiber diperkenalkan Wali Kota Bandung Wahyu Hamidjaja periode 1993-1998. Bandung genah merenah tumaninah diperkenalkan Wali Kota Bandung AA Tarmana periode 1998-2003. Dada Rosada, Wali Kota saat ini, memperkenalkan Bandung bermartabat.

Dari sekian moto yang ada hampir tidak satu pun yang diambil dari kata kerja. Kita ambil contoh kata martabat yang adalah kata benda (nomina). Kata martabat mendapat awalan ber menjadi bermartabat, artinya mempunyai martabat. Bermartabat, yang menjadi moto Kota Bandung, ternyata singkatan dari bersih, makmur, taat, dan bersahabat. Bersih adalah kata sifat (adjektiva); makmur (kata sifat); taat (kata sifat); bersahabat berasal dari kata dasar sahabat yang adalah kata benda (nomina). Begitu juga kata aman, tertib, lancar, dan sehat (atlas) adalah kata sifat.

Kata sifat adalah kata atau gabungan kata yang dipakai untuk memberikan penjelasan terhadap nomina atau verba. Jika dia berdiri sendiri, artinya hanyalah kata itu sendiri. Tentang kata sifat ini, pujangga Perancis, Voltaire, mengatakan, kata sifat adalah musuh bebuyutan kata benda. Seorang pengarang mengatakan, kita harus senantiasa merasa gagal ketika menggunakan kata keterangan (adverb) atau kata sifat ketika tak bisa menemukan kata kerja yang benar atau kata benda yang benar.

Malah ada yang ekstrem mengatakan, setiap kata sifat sering kali digunakan pihak penguasa untuk membatasi pelaksanaan demokrasi sebagaimana mestinya sehingga demokrasi kehilangan fungsi dalam aktualisasi kehidupan suatu sistem politik di suatu bangsa dan negara. Penguasa di beberapa negara otoriter bahkan sering kali bersembunyi di balik kata-kata sifat itu untuk mengebiri demokrasi dan tegaknya kedaulatan rakyat.

Etos kerja lemah

Kata moto, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, artinya kalimat atau frase atau kata yang digunakan sebagai semboyan, pedoman, atau prinsip. Lahirnya sebuah semboyan atau moto sebuah kota tentunya hasil perenungan yang disesuaikan dengan pemahaman akan segala aspek yang melingkupinya, termasuk aspek budaya dan pandangan hidup masyarakatnya. Karena Kota Bandung adalah ibu kota Tatar Sunda, sudah tentu pandangan hidup yang melatarbelakangi lahirnya semboyan Kota Bandung tidak akan jauh dari pandangan hidup orang Sunda.

Sebagai tujuan yang ideal, betapa sempurnanya pandangan hidup orang Sunda. Hal ini bisa dibaca dalam buku Pandangan Hidup Orang Sunda seperti Tercermin dalam Tradisi Lisan dan Sastra Sunda (P dan K, 1987), hasil penelitian Prof Suwarsih Warnaen dan kawan-kawan.

Sayang etos kerja orang Sunda, menurut Herman Suwandi melalui penelitiannya, sangat lemah (makalah berjudul "Etos Kerja Orang Sunda" dalam buku Prosiding Konferensi Internasional Budaya Sunda Jilid 2, Penerbit Kiblat 2006).

Kelemahan tersebut meliputi (1) tidak ada orientasi ke depan. Umumnya orang Sunda cuek tentang hari esok. (2) Tidak ada growth philosophy atau keyakinan bahwa hari esok dapat dibuat lebih baik daripada hari ini. (3) Cepat menyerah. Dengan kata lain orang Sunda bersifat tidak ulet atau cengeng. (4) Berpaling ke akhirat. Sifat cepat menyerah berkaitan dengan berpaling ke akhirat karena bila tidak sukses di dunia, orang Sunda menghibur diri dengan harapan bahwa bila di dunia kehabisan, nanti di akhirat akan memperoleh. (5). Lamban. Dalam dunia bisnis lamban memberikan respons bila ada kesempatan.

Bertolak belakang

Pandangan hidup dan etos kerja seperti diuraikan di atas mempunyai kutub yang hampir bertolak belakang. Satu kutub pandangan hidup orang Sunda demikian ideal dan kutub yang lain, yaitu etos kerja orang Sunda, demikian terpuruk. Seharusnya pandangan hidup dan etos kerja berjalan beriringan. Mungkin salah satu penyebab etos kerja orang Sunda demikian lemah adalah karena terlalu mengandalkan kata sifat atau kata benda.

Kata sekolah atau kampus ketika dianggap sebagai nomina, itu hanya menunjukkan sebuah benda, baik berupa bangunan yang ada ruang kelas maupun tanah lapang. Lain halnya apabila kata sekolah atau kampus dianggap sebagai verba (kata kerja). Di sana ada proses; ada pekerjaan yang harus dilakukan, yaitu menerima ilmu dan memberi ilmu.

Sama halnya dengan kata wali kota atau bupati atau gubernur, bila dianggap sebagai nomina, itulah akhir dari sebuah perburuan. Di sana berhenti setelah ada kekuasaan yang digenggam. Sebaliknya bila dianggap verba, dari situlah titik awal melaksanakan sebuah gagasan; sebuah harapan yang berproses terus-menerus sesuai dengan dinamika masyarakat.

Namun, tokoh-tokoh manusia Sunda yang dapat dijadikan acuan mempunyai etos kerja yang tinggi dapat ditemukan dalam buku Manusia Sunda (Ajip Rosidi, Idayu Inti Press, 1985).

Tema memperingati Hari Kemerdekaan RI tahun ini di antaranya adalah menyangkut etos kerja. Kalau memang benar bahwa etos kerja orang Sunda lemah, seperti hasil penelitian Prof Herman Suwandi, kita akui saja bahwa itu benar demikian adanya. Hal itu kemudian dijadikan titik awal untuk memperbaiki diri. Bukankah apabila kita telah mengetahui kelemahan diri akan lebih mudah untuk memperbaikinya.

Itulah hasil membaca orang Sunda dari tiga buku ditambah banner di pinggir jalan. Bobot pangayon timbang taraju mangga nyanggakeun.

MAMAT SASMITA

Penggiat Rumah Baca Buku Sunda; Tinggal di Bandung

01 September 2007

NGUMBARA DI FAKFAK

Ku MAMAT SASMITA

Pangna kuring buru-buru kawin gé kulantaran meunang béja kuring rék dipindahkeun ka Fakfak Irian Jaya, ayeuna mah ngaran Irian téh geus diganti ku Papua, satuluyna mah rék disebut Fakfak wé.
Enya atuda ningali dina peta Indonésia, Fakfak téh ayana dina beuheungna pulo Papua, lamun Papua diibaratkeun manuk téa mah, jauh melamelu, sedengkeun harita kuring keur dines téh di Jambi Sumatra. Ari ieu kudu pindah ti beulah kulon ka wetan anu sakitu jauhna.
Miang ti Bandung, dianteur ku kulawarga mertua, kana mobil ka bandara Halim Perdanakusumah, da harita mah bandara Sukarno Hatta can aya. Perjalanan téh teu langsung ka Fakfak, tapi ka Jayapura heula, da kudu lapor ka kantor wilayah.
Nepi ka airport Sentani téh pasosoré, kira-kira tabuh opat, pungak pinguk, mikiran kudu ka mana nya jung, kuring tungtungna diuk heula dina babantar gedong, pamajikan mah ngajengjen wé nangtung gigireun. Keur kitu aya nu nyampeurkeun pokna ;” Bapa harus naik taksi sekarang, kalau tidak habis taksinya…!”. Kuring teu bisa majar kumaha, naék we kana mobil manéhna, tadina mah sugan téh heueuh we taksi siga di urang, ari pék mobil anu ngompréng téh disebutna taksi.
Rada hemar hemir, éta tuda nu nyupir teh jangkung badag urang dinya, tapi geuning sanggeus diajak ngobrol mah hih galecok wé kacida bageurna, kuring dianteur ka Stasiun Bumi Satelit di Jayapura, perenahna di mumunggang disebutna daerah Bhayangkara.
Perjalanan Sentani ka Jayapura téh rada lila, jauhna aya kana 40 km mah. Rada kesel teu népi bae. Liwat Magrib kakara nepi ka komplek Stasiun Bumi Satelit di Bhayangkara. Kuring manggihan salah saurang pagawe didinya, maksud téh rék tatanya nu rada pantes keur meuting, ari pék kalah diaku di imahna, atuh asa mobok manggih gorowong. Anu ngaku téh kang Dendi sakulawarga urang Sumedang, boga budak dua laleutik kénéh.
Kurang leuwih saminggu di Jayapura téh, ari laporna mah ukur sapoé, tapi nu mawa lila téh jadwal penerbangan ka Fakfak, da saminggu sakali, kitu gé teu langsung ka Fakfak, tapi hiber heula ka Manokwari jeung ka Sorong, kalan-kalan transit heula di Biak.
Transit di Sorong, lain di kota Sorong, da Sorong mah aya di mainland (daratan gede), ari airportna di Jeffman, di hiji pulo anu mandiri, raména pédah aya lapang udara. Lapangan udara Jeffman kaitung gedé da bisa dipaké mendarat ku Hercules, cenah mah éta nu nyieun téh Mc Arthur, panglima tentara sekutu jaman keur perang dunya kadua.
Kulantaran jadwal hiber ka Fakfak kakara aya isukna, nya kapaksa kudu meuting di Jeffman, ari penginepan mah aya jeung langsung nyadiakeun restoranana. Genah sabenerna mah ngan euweuh tingalieun, ngan sora lambak wé séah. Ma’lum da di pulo anu ngan ukur aya lapangan udara, nu meuting didinya ge ukur sababaraha jelema anu rék bareng miang ka Fakfak.
Lamun rék ulin ka kota Sorong, kudu meuntas laut maké parahu speedboat atawa ngadagoan kapal fery, harita mah ngaran fery téh Mangimangi. Teu wudu meuntas laut téh rada lila nya aya kana sa-jam-na. keur kuring nu teu bisa ngojay, ningali laut anu umpal-umpalan téh sok kukurayeun. Kungsi éta gé maksakeun meuntas da aya kaperluan dines ka Sorong, meneran keur usum angin gedé, atuh laut ngélépék semu bodas ku budah. Meuntas da kudu buru-buru nepi, teu ngadagoan kapal fery, naék téh maké speedboat, beungeut laut ukur sajeungkal, kapal nyemprung ngalawan ombak, sanajan diteger-teger gé haté mah teu weléh degdegan.

Poe éta munggaran nincak taneuh Fakfak, bulan Juni 1981, poe naon jeung tanggal sabarahana mah poho deui. Kapal udara nepi pabeubeurang ka airport Toréa, airport kota Fakfak. Alhamdulillah geus aya nu ngajemput. Mobil aya geus ngabagug, sanggeus nungguan barang, terus ngadius mudun, tapi teu lila reg eureun di sisi laut. Sugan téh eureun téh rék aya nu didagoan, simanahoréng didinya kudu turun ganti ku parahu. Beu, kana parahu téh haroréam, tapi kumaha mun mugen embung téh era, siga nu euweuh kawani. Tapi ti Toréa ka kota Fakfak mah teu lila ngan ukur saparapat jam, jeung deuih nyisi, teu ka tengah laut.
Di kota Fakfak geus disadiakeun tempat reureuh jeung keur meuting, nyéwa imah saheulaanan, saméméh imah dines kosong.
Kota Fakfak perenahna di sisi laut, kotana méh nyéngkéd, nanjak beuki ka luhur, lamun ditingali tipeuting ti tengah laut, da ngempur siga kota gedé, éndah. Meureun gedéna mun di urang mah sarua jeung Banjaran, da lamun diubek maké mobil teu leuwih ti satengah jam geus kakurilingan.
Pangeusina loba nu ngagem agama Islam, sabab aya pangaruh ti Ternaté, malah aya katurunan raja raja Ternaté, saperti Raja Atiati, Raja Rumbati, Raja Fatagar. Ceuk urang dinya, Fakfak mah serambi Mekahna Papua.
Sugan téh euweuh urang Sunda anu séjén, ari béhna mah aya, malah loba anu jeneng di pamaréntahan. Atuh anu sakantor gé aya, duaan. Kuring ditugaskeun téh nyekel kalungguhan sabagé Kepala Stasiun Bumi Transmisi Satelit. Leutik leutik gé jadi hulu sireum, aya kawenangan jeung boga otoritas, tibatan jadi buntut gajah ngan sakadar nutur nutur bujur batur.

Sanggeus rada lila di Fakfak kanyahoan geuning jalan ka Torea téh keur dijieun, supaya lamun rék ka airport teu kudu liwat laut. Ceuk béja harita, jalan téh kudu anggeus saméméh pemilu 1982.
Sababaraha bulan ti harita rék nyanghareupan bulan puasa, nu rada karunya ka pamajikan da kakara jauh ti kolotna, dibawa anclang-anclangan ku kuring, salakina. Tapi geuning suasana puasa di Fakfak raména teu jauh ti di urang, lamun waktuna saur ramé barudak ngora taratakolan nguriling ngahudangkeun nu rék saur. Di Fakfak sakitu kota leutik aya dua masjid anu kaitung gedé. Nu hiji di tonggoh deukeut ka kantor kuring, hiji deui di sisi laut, nu di sisi laut anu kasebut pangkolotna, ceuk beja masjid munggaran di Papua.
Palebah rék lebaran, barudak Remaja Masjid sok nguriling ka unggal kulawarga muslim nanyakeun naha rék meuli daging sapi atawa moal, lamun rék meuli kudu disebutkeun sabaraha kilo. Mimitina mah rada hémeng naha kudu ditanyakeun sagala, ari pék téh lamun anu pesen nyukupan meuncit sapi hiji, nya kakara meuncit, lamun henteu mah nya teu tulus, da bisi sésana teu kajual. Pangna kitu urang dinya kana daging teu sabaraha, da kabeukina kana lauk laut.
Sapopoé lamun hayang daging, éta ge sok aya tapi daging embé atawa daging uncal (menjangan). Uncalna beunang moro ti leuweung, sakapeung mah sok kawénéhan aya daging kasuari, lamun aya daging kasuari atawa daging uncal di pasar Tambaruni, sok silih béjaan, atawa silih titip. Ari nu unggal poe aya mah lauk laut, lauk anu seger keneh. Lauk laut ngeunahna di beuleum, “ikan bakar” téa, dibeuleumna dina ruhay batok buah pala, seungitna mani melenghir, komo mun diulas alés ku mantéga. Bumbuna disebut colo-colo, nyieunna mah gampang pisan, ukur kécap dicampur tomat beunang nyiksik, bawang beureum, cengek, jeruk nipis, lamun hayang leuwih seger ditambahan ku jahé disiksikan. Laukna anu ngeunah, dagingna pulen, lauk maubara atawa kakap beureum. Ngadaharna, sanguna mah saeutik we, laukna dicocolkeun kana colo-colo. Komo lamun daharna bari ngariung dibasisir, uyahna cukup ku nyiuk cai laut, pedo kabina-bina. Keur kitu mah poho wé hayang balik ka Bandung téh.
Néangan batok buah pala di Desa Werba, di sisi basisir, di Werba mah masyarakatna loba nu nyieun manisan pala, katonggohnakeun kebon pala upluk aplak. Sihoreng buah pala anu mahalna teh lain dagingna lain sikina tapi kulumud antara batok jeung siki. Warnana semu beureum, batokna di pekprek, kulumudna diturih, ngagolomong, dipisahkeun tina sikina.
Geus ka sababaraha tempat ditugaskeun téh, kabeneranana di unggal daerah teh sok disebut gudangna kadu, buah durian téa. Mimiti dines di Pontianak, tuluy Jambi, tuluy Fakfak, di Pontianak jeung di Jambi, lamun keur usum kadu, loba pisan, murah deuih, padu hayang, masing rék béak sabaraha hulu ge asal kuat we ukur beak rerebuan jaman harita mah.
Nu teu nyangka di Fakfak geuning loba tangkal kadu, tapi di desa Danawiria. Ti Fakfak kudu meuntas laut heula saeutik, ukur maké parahu leutik nu diwelah, pamajikan anu merenyeng hayang ulin ka Danawiria téh. Enya we di Danawiria kadu geus mayak da keur panén, ngadaharna mah béak sahulu ge geus eungap, pulen jeung amis.

Sabenerna hirup di Fakfak téh pikabetaheun, masyarakatna akuan, babari wawuh. Ngan éta asa jauh pisan ti lembur, sakalieun hayang mulang téh kudu bebekelan kacida gedéna, utamana keur ongkos. Transportasi ukur jalan laut jeung ngapung, da ari jalan darat mah pimanaeun, éta wé jalan ka airport gé apan kakara aya, padahal teu jauh teuing. Piknik téh ukur ka laut atawa ka leuweung. Hiburan anu sejen euweuh pisan, harita mah hiburan téh ukur ngadéngékeun radio RRI da TV can aya, kakara aya taun 1982 akhir. Kungsi kuring gé ngaprak ka leuweung, pamajikan gé ngilu. Ngabubuhan jeung nu sejen, tujuan téh rék ulin ka base camp-na anu boga HPH (Hak Pengelolaan Hutan). Miang teh isuk-isuk kénéh antara tabuh tujuh, hawana seger, bebekelan teu loba da cenah ari keur dahar mah di tempat tujuan gé geus disadiakeun, ukur mawa cai wé inumeun di jalan. Miang téh leumpang, da jalan ukur jalan satapak. Abus ka leuweung, anu kabayangkeun téh geueuman, pikakeueungeun, tapi anéhna ceuk rarasaan leuweung téh euweuh kesan mistis, béda deui jeung rarasaan basa ngasruk mapay-mapay leuweung di Sancang taun 70an. Padahal waktu di Sancang gé teu asup ka jero leuweungna ukur disisi.
Leumpang bari ngobrol, kalan kalan gogonjakan, teu karasa geus méh opat jam can tepi kénéh, ceuk anu mawa paling gé sa-jam deui ogé nepi. Bréhna geus méh jam satu beurang can nepi kénéh ka anu dituju. Kuring mimiti hemar hemir, kuring nanya ka pamajikan, naha rék terus atawa rék balik deui. Anu kabayangkeun téh kumaha balikna, jam satu can tepi, lamun tepi sajam deui terus lila ditempat, balikna pasti kapeutingan. Sedengkeun lamun kudu meuting matak barabé, utamana keur pamajikan, da ngan manéhna sorangan awéwéna mah. Tungtungna kuring mutuskeun balik deui baé, teu tulus ka base camp.
Kabeneran aya nu hayangeun balik, asana mah ngaranna téh Om Hans urang Manado. Pangna manéhna hayang balik deui cenah mah lantaran keur bisul dina pengpelangan, bisul beunyeur tea meureun.
Balik téh ngan tiluan, katilu jeung pamajikan. Leumpang rada gagancangan ngan orokaya Om Hans rada tinggaleun, atuh kuring ngendoran manéh.
Keur kitu kadéng aya anu gogorobasan, na ari kurunyung téh aya jelema hideung, ti sisi jalan ngurumuy ti leuweung, awakna ngaliglag teu maké baju ukur maké calana pondok, ari beungeutna siga diwedak bodas makplak. Rada ngalenyap reuwas, kuring téh teu pati ngawas-ngawas, api-api téa. Éta jelema, budak ngora, jangkung, leumpangna ditukangeun, dititah di hareup téh embungeun, tadina mah sina miheulaan, bisi keur rurusuhan.
“Ade,….ayo jalan dimuka…” ceuk kuring bari rada kasisi méré jalan.
“Tidak bapak….saya dibelakang saja..” tembalna.
Tungtungna kuring leumpang deui, manéhna keukeuh ditukang, enya aya kasieun, sieun aya niat goreng heug ngabongohan ti tukang. Saterusna mah ku kuring diajak ngobrol, ari pék téh manéhna rék indit ka kota, rék meuli obat nyamuk olés jeung dahareun, cenah mah dititah ku bos-na. Ceuk manéhna deui, aya sababaraha jelema di leuweung keur moro, béakeun dahareun.
Ceuk kuring téh ari éta beungeut naha diwedak bodas kitu, jawabna ambih teu ku reungit cenah, jeung ambih teu tiris. Ceuk kuring deui ambih teu tiris mah diharudum lain bubuligiran kitu, manéhna ukur ngahéhéh seuri. Biasa nu moro téh sok ngabubuhan, moro menjangan, atawa kasuari atawa babi.
Tungtungna mah leumpang téh rinéh wé da asa nambahan batur, geus asup ka kota misah jeung éta budak ngora téh, nepi ka imah méh tabuh genep soré.

Aya balad batur sakantor, ngaranna Yusuf Kilian, urang Kokas, agamana Islam, leket pisan, ceuk dongéng manéhna di daérah Kokas mah loba kénéh ruruntuk kapal laut, kapal laut sekutu urut perang dunya kadua, malah aya kénéh anu ngabagug teu jauh ti basisir. Kuring teu apal bener atawa henteu-na mah, da teu kabiruyungan ulin ka Kokas, harita jalan darat can aya, kudu ka laut maké parahu. Asa horoream ari kudu ngangkleung di laut téh, malum apan kuring mah urang Bandung, urang gunung, teu pati wanoh ka laut, asa sieun baé. Komo lamun ningali caina motah mah, tapi asa leuwih keueung lamun ningali cai laut nu ngagalimbeng, cai laut nu teu motah, warnana siga nu kulawu semu hideung, pantesna jero.
Éta bangké kapal laut téh jadi rumpon, mun nguseup didinya sok meunang lauk anu gedé jeung bangénan deuih. Ceuk béja, ayeuna mah ka Kokas téh geus aya jalan darat, malah apan aya béja dina bulan Juli 2007 kungsi aya dokter awewe nu asalna ti Bandung meunang kacilakaan di jalan, tigebrus kana jungkrang nepi ka hanteuna.
Ceuk dongéng Yusuf kénéh, méméh manéhna digawé di Telkom, manéha kungsi jadi pamayang, tukang ngala lauk hiu, nu dialana ukur buntut jeung siripna, da eta anu mahalna. Asa watir ngadéngéna, lauk hiu anu sakitu gedéna ukur diala siripna, awakna mah sok terus dipiceun deui ka laut bari gugurinjalan kénéh.

Keur mimiti di Fakfak sok héran ari ningali masyarakat didinya, lamun leumpang tipeuting tara di sisi jalan, tapi di tengah jalan, manghariwangkeun bisi kasabet mobil, sanajan balawirina mobil henteu ramé, tapi paur mah aya wé. Sanggeus ngarti mah kuring gé malah sok nurutan leumpang téh tara di sisi jalan, tapi di tengah jalan, komo tipeuting mah. Lantaran lamun leumpang di sisi jalan, bisi dipacok ku sowa-sowa, lain dipacok meureun tapi digégél. Sowa-sowa (hydrosaurus amboinensis) téh sabangsaning kadal gedé, ku urang dinya mah sok disebut ular kaki émpat. Ditingali sarérétan mah siga kadal, tapi luewih gedé, jeung wangun huluna leuwih segi tilu, seukeut ka hareup.
Liarna sok tipeuting, nyumputna dina nu bala ku jukut, bakal bahaya lamun digégél ku sowa-sowa geus ngahakan bangké, tapi kapan urang teu nyaho naha éta sowa-sowa téh geus ngahakan bangké atawa acan.
Kungsi kuring gé nangénankeun sowa sowa, pasosoré asup ka imah, keur kekelentengan wé di tengah imah, pamajikan mah barang ningali gé gégéréwékan bari naék kana korsi. Kuring ngarawél sapu, dibabuk ku sapu téh kalah malikan, kuring mundur bari jeung rada muriding deuih. Na sia téh, dibabuk satakerna, ku gagang sapu, na atuh belenyeng téh gagang sapuna nu luncat, kuring hareugeueun, gagang sapu negtog kana korsi ngabeletrak sorana tarik. Biricit si sowa-sowa lumpat blus ka kamar barudak bujang, kuring kakara eungeuh, sowa-sowa téh meureun lain sieun ku diamang-amang paneunggeul, tapi ku sora anu tarik ngaguluprakna gagang sapu, tayohna kitu. Panto kamar dipeundeutkeun, bisi kaburu balik deui, tapi kumaha mun barudak pagawé nu bujangan daratang heug teu nyahoeun aya sakadang sowa-sowa di kamarna. Rék dibeledig ku sorangan hororéam bari jeung rada sieun, tungtungna mah nyieun we tulisan dina keretas salambar diteundeun handapeun panto “Hati hati ada ular kaki empat masuk..!”. Enya wé isuk isuk barudak raribut, ribut isuk-isuk téh pédah we peutingna teu baralik, tayohna meuting di kantor. Cenah sakadang sowa-sowa téh teu kapanggih, tapi barang rék rap make baju aya nu ngajleng tina gantungan baju, sigana éta sakadang sowa-sowa téh nyumput dina baju anu digantungkeun. Teuing kumaha bet bisa kitu.
Sigana barudak marondok di kantor ngadon maén pingpong atawa siaran pédah éta aya radio pemancar. Geus disebutkeun diluhur di Fakfak euweuh deui hiburan salian ti ngadéngékeun RRI, da TVRI acan aya, harita téh keur dibangun kénéh.
Di tempat kuring gawé aya gudang eusina teu pararuguh, loba alat-alat pemancar titinggal Belanda, geus bulukan, tapi teu bisa dipiceun da aya kénéh catetanana, kaasup barang inventaris, asét pausahaan. Lamun rék dipiceun kudu puguh administrasina, tah palebah dieu héséna mun teu salah harita mah usulan “pemusnahan” barang inventaris téh kudu disatujuan ku Menteri.
Tungtungna barang-barang téh numpuk digudang jadi barang rongsokan. Kasebutna kuring kungsi ngilu pendidikan jurusan radio, nya nyobaan ngutak ngatik radio pemancar, ngoméan sugan bisa dipaké deui. Kabeneranana deuih bet aya nu alus kénéh, masih kénéh bisa hirup kalawan daya pancarna alus kénéh, frekuénsina pas aya dina gelombang AM. Antena radio kabeneran aya nu nganggur di hareupeun kantor, ngan rada jauh, tapi da feeder-na aya tur cukup kénéh, make kabel coaxial. Atuh der wé siaran hiburan ngirim-ngirim lagu, mimitina kitu wé ka papada pagawé, keur muterkeun lagu make cassété. Tungtungna jadi kawentar, loba ti nu séjén menta lagu kirim-kirim ka baladna deui. Malah aya nu ménta lagu jam tilu peuting méh subuh, bari cenah manéhna téh keur dina kapal di laut, keur nguseup lauk, ngahaja ka pelabuhan heula nginjeum telepon keur ménta lagu.
Balad balad di kantor jadi resep ulin di kantor, ngadon siaran. Di Fakfak téh kuring jadi Kepala Stasiun Bumi Sedang, stasiun transmisi satelit, disebut sedang pédah transmisi boh incoming boh outgoing teu loba teuing, jumlahna ukur 12 kanal, make sistem SCPC (Single Channel Per Carrier). Lamun gawé di trasnmisi aya kacapangan lamun euweuh gawé, gawena ngan ukur ngobrol atawa maca buku éta hartina gawé alus, hartina sakabeh sistem transmisi keur normal, euweuh karuksakan. Tapi sabalikna lamun aya karuksakan teu nyaho diwaktu kudu singkil saharita sanajan keur tengah peuting, sanajan keur dordar gelap, kudu der digawe, jaba kudu bisa ngungkulan karusakan. Sistemna ngadukung sabab aya nu disebut sistem redundant, aya hot line jeung cool line, hot line hartina keur dipaké, ari cool line hartina keur standby sakabeh daya pancar asup kana dummy load.
Jadi lamun pagawé ngan saukur ngariung bari ngawadul, ngobrol kaditu kadieu, atawa kalan-kalan maén gapléh, lain hartina goréng gawé.
Siaran téh teu lila, ngan ukur sababaraha bulan, da rumasa éta ngarempak aturan, kapan teu meunang sagawayah ngagunakeun frekuensi radio, komo deui dipake siaran keur umum, kudu aya ijin. Euweuh ari nu ngalarang mah, da ka Stasiun Bumi teh sok jul jol patugas séjén ngadon ulin, malah aya nu togmol gegedén di Fakfak harita ngahucuhkeun majarkeun teu nanaon siaran diteruskeun gé, tapi kuringna wé nu éra, kapan kuring téh nyaho aturan tapi kuring nu ngarempak.
Salah sahiji hiburan séjén nyaéta “ngebrik”, maké alat radio Transciever CB (Citizen Band Transmitter Receiver), ngebrikna biasana tipeuting, da daya pancarna sok leuwih alus, jeung deuih sok leuwih ramé, nu ngebrik téh lain baé jeung nu aya di Fakfak, tapi osok nembus nepi ka pulo Jawa. Pamajikan ge sok ngiluan ngebrik, malah kungsi aya kawawuhan jeung urang Sumedang nu ngirim kere belut ka Fakfak. Da sigana jaman harita mah kakara aya awéwé nu ngebrik dina CB ti Fakfak, jadi mun manehna on line téh jadi sok ramé dina jalur éta. Kuring ge kungsi wawawuhan jeung breaker anu ti Australi, mimiti wawuhna mah pedah eta nyaritakeun nyieun antena tina batangan aluminium siku anu aya di toko beusi, keur matching impedansi make capasitor variable nu tina logam. Ngobrol teh keur kuring mah leuwih loba hal teknis kana nyieun antena, malah aya nu menta gambarna lengkep jeung ukuranana, antena anu dijieun teh make wanda antena Yagi.

Pamajikan kawilang aktip salila di Fakfak mah, malah kungsi jadi Sekretaris Dharma Wanita Kabupatén Fakfak. Rada dititah kudu aktip babarengan jeung ibu-ibu anu séjén, alesanana mah ambih teu nguluwut aya di lembur batur.
Hiji waktu pamajikan meunang tugas ti Kabupaten supaya indit ka Jayapura ka Dharma Wanita propinsi, bareng jeung ibu-ibu séjén urang Fakfak, teu lobaan ngan ukur tiluan kaasup pamajikan.
Poé harita kénéh pasosoré nampa télépon pamajikan geus nepi ka Jayapura, kagiatanana sababaraha poé, poé kaopat isuk-isuk nampa deui télépon yén pamajikan teu bisa mulang poé harita lantaran pesawat udara dikénsel, tah ti poe éta pleng euweuh béja. Atuda jaman harita mah telepon téh hésé kénéh, tong boro aya HP siga ayeuna, di Fakfak gé téléponna can otomat tapi masih keneh CB (Central Battery).
Poé katilu sanggeus kalingeutan, kakara aya telepon ti Sorong, ti balad kénéh anu dines di Sorong, pokna “ Kaleungitan pamajikan euy…?”, kuring ngaheueuhkeun, ceuk manehna “Aya didieu jeung nu bosongot duaan….”, kuring seuri nyebut aya nu bosongot marengan téh da geus nyaho eta teh ibu-ibu ti Fakfak. Kuring ngobrol jeung pamajikan dina telepon, cenah kakara bisa ka Fakfak poe isuk lantaran tiket kakara keur diusahakeun, pimeunangeunana keur poe isuk. Peutingna rek meuting di Jeffman ambih babari kana pesawat.
Ceuk pamajikan salila tilu poe teh ngandon ulin ka Camat Sentani di Jayapura, bari ngadagoan aya pesawat, malah kungsi ulin ka tugu Mc Arthur. Tugu Mc Arthur téh tugu peringetan yén didinya kungsi kasaba ku Mc Arthur panglima tentara sekutu Asia Pasifik waktu perang dunya kadua. Pamajikan nyarita teu bisa nelepon da aya di pasisian, telepon can aya.
Enya ari kituna mah pamajikan téh rada gedé kawani, geura we kungsi aya kajadian di imah keur ngalobrol jeung ibu-ibu nu sejen, ditukangeun imah luareun pager kawat duri, aya lalaki urang Fakfak teu eucreug make jeung nembong-nembong bebegug bobogaanana. Pamajikan mah langsung nyirintil bari ngamang ngamang bedog,
“Sini kau…biar aku potong punyamu itu….” ceuk manehna, éta lalaki ngabiricit lumpat, tayohna teu nyangkaeun aya awéwé “rambut lurus” wanian. Kajadianana pabeubeurang mangsa keur lalaki aya di kantor, nu aya di imah téh ngan ibu-ibu wungkul keur ngararujak. Istilah rambut lurus téh keur pendatang utamana ti pulo Jawa.

Nyanyabaan ti Fakfak ka kota séjén nu aya di Papua rada mindeng, ari nu utamana mah ka Jayapura, ka kantor wilayah, pamajikan gé sok ngilu. Kitu wé indit-inditan téh bari dines ti kantor. Kabeneran ampir sakabeh kepala Stasiun Bumi teh babaturan saangkatan jeung ampir kabéh ti Bandung.
Ari balik ti Jayapura bisa liwat Biak terus ka Sorong, atawa liwat Manokwari, Nabire, malah kungsi liwat Kaimana. Tujuan ka Fakfak pesawatna leutik, jadi hiberna teu luhur teuing, kalan-kalan siga ngan ukur aya dina luhureun tatangkalan. Kaayaan leuweung bisa katingali. Enyaan Papua mah leuweungna geledegan kénéh, jeung deui kontur tanahna ambuing ningalina matak kukurayeun, loba jungkrang.
Dines di Fakfak teh salila opat taun, ti taun 1981 nepi ka taun 1985, dina bulan Juni taun 1985 kuring nampa tugas kudu pindah ka Mataram Lombok. Ninggalkeun Fakfak teh rada sedih, eta tuda jeung balad-balad geus kompak pisan, boh dina pagawean boh hirup kumbuh sapopoé. Ngumbara salila opat taun di tanah papua, loba pangalaman anu teu bisa dipopohokeun, sok sanajan teu bisa ari disebut ngumbara mah, komo lamun harti ngumbara tarjamah tina merantau, da sabenerna kuring ka Fakfak teh lain ngumbara tapi ngan sakadar ngajalankeun parentah ti pausahaan.
Sagala keur kahirupan geus dicukupan, imah geus aya, tinggal betahna. Kapan ari disebut merantau mah lain kitu, merantau mah ngajugjug ka hiji daerah anyar bari jeung can karuhan naon pagawean, dimana panganjrekan, didinya aya sumanget berjuang, survive. Tapi ketah sugan we aya mangfaatna keur pieunteungeun nu ngarora, kasebut meunang tugas kamana bae ge kudu daék, da sabenerna dimana baé gé jelema mah balageur tinggal kumaha urangna dina mawa diri, kapan aya paribasa pindah cai pindah tampian teu beda jeung paribasa urang Minang anu unina dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung.

Mamat Sasmita
Pangsiunan Pagawe Telkom, kungsi dines di Fakafak ti taun 1981 - 1985