14 June 2008

MAKNA DIBALIK NAMA BEDOG.

Oleh MAMAT SASMITA


“Ih Den, ari lalaki lembur mah kamamana teh tara lesot bedog. Da bedog teh sami sareng calana” tembalna deui “ Mun lalaki lesot bedog, lain lalaki deui ngaranna” ( Kalau lelaki di kampung kemana-mana tidak pernah ketinggalan membawa golok. Golok itu sama dengan celana, katanya lagi, kalau lelaki tidak membawa golok itu bukan lelaki namanya). Itulah sepenggal dialog didalam buku Si Bedog Panjang karya Ki Umbara, terbit cetakan kedua tahun 1983 oleh penerbit Rachmat Cijulang, cetakan pertama terbit tahun 1967. Dari dialog tersebut bisa dimaknai pada waktu dulu bahwa bedog bukan saja sebagai alat praktis, tetapi juga punya makna simbolis, setidaknya sebagai simbol kejantanan.

Bedog (bahasa Sunda) sering diterjemahkan sebagai golok dalam bahasa Indonesia. Padahal didalam naskah Sunda kuno yaitu Sanghyang Siksakandang Karesian (1518) yang disebut adalah kata golok, sebagai sebuah nama senjata raja. Kata Bedog ditemukan didalam kamus bahasa Sunda-Inggris karya Joathan Rigg (1862) yang dijelaskan sebagai sebuah alat untuk memotong dan menetak, tetapi didalam naskah naskah Sunda kuno kata bedog tidak ditemukan hal ini ditandai dengan tidak adanya kata bedog didalam Kamus Bahasa Naskah dan Prasasti Sunda karya Elis Suryani dkk (2001). Nampaknya kata bedog lebih dikenal dikalangan rakyat, sedangkan kata golok dikalangan raja, walaupun artinya itu-itu juga. Disini mungkin terjadi desakralisasi fungsi golok yang tadinya sebagai alat perang raja, menjadi bedog sebagai alat praktis dikalangan rakyat biasa. Bedog adalah sebuah alat untuk memotong, menetak atau membacok berupa bilah logam besi atau baja yang salah satu sisinya diasah tajam, lebih besar dan kokoh dibanding pisau (terjemahan bebas dari beberapa kamus bahasa Sunda).

Bermacam-macam bentuk bedog, apabila diambil garis besarnya terdapat empat macam bentuk utama yaitu tonggong lempeng (punggung lurus), tonggong bentik (punggung agak melengkung), beuteung lempeng (bagian tajam, ada yang menyebut huntu, lurus) dan beuteung ngagayot ( bagian tajam melengkung) sedangkan yang lain merupakan varian dari bentuk utama. Bentuk punggung dibagi menjadi tiga yaitu nonggong munding (berbentuk seperti punggung kerbau), nonggong kuya ( seperti punggung kura-kura) dan punggung rata, sebagian punggung ada yang diberi jegongan (bagian ujung diberi cowak, seperti dibuat tajam). Jegongan ini disamping sebagai variasi dari bentuk punggung tetapi ada juga fungsi praktisnya yaitu untuk membelah kelapa tua yang telah dikupas bagian sabutnya.

Pada badan bilah bedog ada juga yang memakai ruruncang (lekukan memanjang ke arah ujung), ini bukan saja sebagai bentuk variasi tetapi ada juga yang menganggap sebagai jalan darah ketika bedog dipakai menyembelih binatang besar (kambing, kerbau atau sapi). Penampang bilah bedog biasanya disebut beuteung siraru, mengambil bentuk badan atau perut satwa bernama laron.

Supaya bedog enak dipakai dan aman tatkala dibawa, maka perlu diberi perah (gagang, pegangan) dan sarangka (sarung). Perahpun mempunyai nama dan bentuk yang cukup banyak termasuk ukiran hiasan yang beragam, sedangkan sarangka lebih mengikuti ke bentuk bedog. Antara bilah bedog, perah dan sarangka merupakan kesatuan yang utuh akan makna sebuah bedog.

Di daerah Kecamatan Cibingbing Kabupaten Kuningan, ada tradisi yang disebut bedog wali yaitu pada saat memberikan hantaran dari pengantin pria kepada pengantin wanita salah satu pengantar pria harus ada yang membawa bedog. Tentunya bedog yang dibawa bukan bedog yang telanjang (belum memakai perah dan tidak memakai sarangka), tetapi bedog yang lengkap, bergagang dan bersarung, pastinya juga dilipih bedog yang bagus.

Tujuannya selain untuk keperluan praktis tetapi juga mempunyai makna simbolis terutama bagi kedua mempelai, kata bedog katanya dari dibebed (diikat) supaya ngajedog (diam). Ini mengandung arti bagi kedua mempelai setelah menikah harus mengikatkan diri, jiwa maupun raga untuk satu tujuan yaitu kebahagiaan dunia maupun akhirat. Pernikahan itu tiada bedanya dengan peribahasa bedog manjing sarangka. Suatu perbuatan yang tidak elok apabila sudah menikah masih juga mencari sarangka lain, bilah bedog itulah laki-lakinya dan sarangka adalah perempuannya.

Masyarakat Sunda sangat erat hubungannya dengan alam sekitarnya, hal inipun tercermin dari memberikan nama pada bilah bedog dan perah. Nama berdasarkan tumbuhan atau bagian tumbuhan : Bilah : Sintung Bening, Paut Nyere, Salam Nunggal, Jambe Sapasi, Sogok Iwung, Kembang Kacang, Malapah Gedang, Janur, Gula Sabeulah, Beubeut Nyere, Sulangkar (Leea sambucina Willd).

Perah : Balingbing, Eluk Paku (pakis), Pendul, Kembang, Potongan Kai, Sopak Lodong, Jejengkolan.

Nama berdasarkan satwa : Bilah : Simeut Pelem, Buntut Lubang, Tambak(ang). Perah : Buhaya, Ekek, Soang Ngejat, Jawer Hayam, Cinghol (Ucing Nonghol), Pingping Hayam, Kucuit, Simeut Bako, Meong, Monyet/Lutung, Lauk Cai, Kuda Laut, Garuda, Mear, Lutung Moyan, Ceker Kidang.

Nama bilah yang berkaitan dengan pekerjaan : Pamilikan (pabilikan), Pamoroan, Pameuncitan atau Pamotongan, Sadap, Nyacag Daging, Soto.

Nama bilah karena bentuk : Betekok, Petok, Gayot, Bentelu. Masih didapat nama lain seperti untuk bilah Hambalan, Jonggol, Narimbang. Untuk perah : Wayang Arjuna, Kresna, Cepot, Semar.

Dari beberapa sumber ternyata nama bilah bedog bukan hanya nama tetapi ada makna simbolik disebalik nama tersebut, memang tidak setiap nama bilah bedog mengandung makna simbolik. Salam nunggal, umpamanya, nama ini dikaitkan dengan awal penyebaran agama Islam di Tatar Sunda. Hal ini bisa dibaca pada Wawacan Gagak Lumayung baris ke 340 karya MO Suratman, yang selesai ditulis pada akhir tahun 1956 “Sampurna Iman Islam, jaga ieu kubur janten lembur rame pisan, mugi-mugi sing tepi paneda kami, nelahna Salam Nunggal”. Kata salam didalam bahasa Sunda bisa diartikan sebagai nama pohon yang daunnya untuk penambah aroma sayuran, arti lain adalah doa untuk keselamatan, sedangkan nunggal dari kata dasar tunggal. Makna salam nunggal pada bedog adalah walaupun kita mempunyai atau membawa bedog, tetapi keselamatan tetap harus berserah diri kepada Yang Maha Tunggal, Allah Swt. Untuk itu menggunakan bedog harus mempunyai tujuan yang pasti, yang diridloi oleh Allah Swt. Salam Nunggal juga adalah nama sebuah desa di Leles Garut. Bentuk bedog salam nunggal berpunggung lurus begitu juga bagian yang tajam, diujung (congo) melengkung dari bagian yang tajam menyerupai seperempat bulatan ke arah punggung. Ukuran panjang dan lebar tidak ada ukuran baku hampir untuk semua jenis bedog, tergantung ketersediaan bahan tetapi tetap berbentuk harmonis antara panjang dan lebar.

Paut Nyere, bentuknya lebih berkesan panjang dan ramping, berpunggung lurus tetapi pada bagian yang tajam tirus meruncing ke arah congo, pada bagian belakang mendekati buntut (paksi atau pekis dalam istilah keris) sedikit lebih mengecil ke arah punggung dari bagian yang tajam. Nama bedog paut nyere kadang kadang tertukarkan dengan nama salam nunggal. Arti paut nyere pada dasarnya adalah menarik lidi dari sebuah ikatan, seperti menarik sebuah lidi dari ikatan sapu lidi. Semakin sering mencabut lidi dari ikatannya yang akan semakin melonggarkan sebuah ikatan, semakin tak bermakna ikatan tersebut. Bedog dan sarangka tiada bedanya dengan lidi dalam ikatan. Begitu semakin sering mencabut bedog, semakin memperlihatkan lemahnya penguasaan diri, apalagi mencabut bedog tanpa tujuan yang pasti. Bedog adalah senjata tajam akan bermanpaat apabila dipergunakan untuk kebaikan dan sebaliknya akan sangat berbahaya bila digunakan untuk kejahatan. Disinilah diperlukannya penguasaan diri dari setiap pemakainya.

Ujung Turun atau suka disebut Lubuk, punggung lurus bagian yang tajam juga lurus, dibagian ujung dari punggung membentuk seperempat bulat ke arah yang tajam, sebaliknya dengan salam nunggal. Didaerah Ciomas Banten lebih terkenal dengan nama Candung. Bentuk ini memberi peringatan kepada pemakainya bahwa semakin ke ujung kehidupan atau semakin tua harus semakin bijaksana, tiada bedanya dengan ilmu padi semakin berisi harus semakin menunduk. Menggunakan bedog harus dengan ilmunya, supaya tidak mencelakakan diri sendiri. Apabila dirasa tidak mampu jangan memaksakan diri, diujung kehidupan suatu saat akan terpaksa turun.

Makna simbolik ini tiada bedanya dengan makna simbolik perah, dimana bentuk perah pada dasarnya seperti eluk (lengkung tunduk mengarah bulat) dengan nama eluk paku atau jejengkolan atau jengkol sagendul, tiada bedanya dengan makna ilmu padi. Disamping makna simbolik ada fungsi praktis bentuk eluk, yaitu untuk penahan pada jari kelingking saat dipegang supaya tidak mudah terlepas disaat licin karena keringat.

Itulah sedikit makna tentang bedog dari makna yang pasti masih banyak dibelantara kearifan lokal. Bedog merupakan benda budaya warisan karuhun yang patut dihargai, hasil dari perenungan ide yang mengalir menjadi sebuah bentuk bernilai seni, filosofi dan teknologi, disitu ada unsur simbolis yang bisa dikuak, disamping sebagai benda pajangan. Dan itupun bisa menjadi bahan penelitian, menjadi objek keilmuan dan kebudayaan. Dari nama-nama bilah bedog ataupun perah yang terasa eksotis dan ada juga yang cenderung feminim. Sepertinya pemilihan nama itu disengaja untuk menghilangkan kesan menyeramkan akan ketajaman mata bedog, disini nampak bahwa urang Sunda lebih mengedepankan nilai estetis dan filosofis. Benda setajam bedog lebih bertujuan untuk keperluan defensif, ketimbang untuk ofensif. Bobot pangayon timbang taraju mangga nyanggakeun.


MAMAT SASMITA

Penggiat Rumah Baca Buku Sunda

Setelah diedit oleh Redaksi maka dimuat di Kompas Jabar Sabtu 14 Juni 2008

07 June 2008

ASAL-USUL NGARAN TEMPAT TATAR SUNDA

Laporan Sawala Maneuh PSS
Dinten Jumaah kaping 9 Mei 2008.
Panyatur : Dede Kosasih sareng Elin Syamsuri, duanana dosen UPI Bandung.
Jejer : TOPONIMI di Tatar Sunda


Mang Ayat (Ayat Rohaedi) suwargi kungsi nga-Indonesia-keun istilah toponimi ku widyaloka, hartina mah eta-eta keneh, nyaeta elmu anu nyusud perkara asal-usul ngaran hiji patempatan. Toponimi teh bagian tina onomatologi, elmu nu ngabedah sajarah ngaran, aya deui nu nyebut anomastika (onomastics).
Pikeun ngaguar ieu perkara, tangtu bae kudu weweg dina sababaraha paelmuan, teu bisa ngan ukur ningali tina hiji aspek, tapi deuih kudu nyaho kasang tukang folklore anu aya sabudeureunana.
Tangtu hiji masarakat mere ngaran tempat teh teu sagawayah, tangtu aya alesanana boh sacara etimologi atawa kaayaan lingkungananana atawa sacara topografi. Upamana ngaran hiji tempat nu make kecap ranca, aya Rancaekek, Rancacili, Rancabadak jeung sajabana ti eta. Geus katohyan yen kecap ranca teh kecap tina basa Sunda anu hartina tanah anu salawasna becek, caian, malah siga embel. Lamun ditincak teh sok ngabelesk jero. Kecap ranca meh saharti jeung kecap rawa, naha cukup kukitu ngahartikeunana, geuningan henteu cukup kukitu.
Kumaha pakuat pakaitna hal ieu ditingali tina Toponimi, pikeun ngaguar masalah ieu pisan diayakeun sawala di PSS dina poe Jumaah tanggal 9 Mei 2008, anu jadi panyaturna nyaeta Sdrk Dede Kosasih (DK) jeung Sdrk Elin Syamsuri (ES), duanana staf pengajar di UPI (Universitas Pendidikan Indonesia) Bandung.

Tilu Juru.

Cek DK ngaguar nu aya patalina jeung sasakala ngaran tempat paling copel kudu ngawengku tilu aspek nyaeta aspek fisikal, aspek sosial jeung aspek kultural.
Tumali aspek fisikal, geus kawentar yen urang Sunda mah kahirupanana raket pisan jeung alam sebudeureunana. Alam teh bagian tina dirina, kitu deui sabalikna alam ge kudu dimumule ku manusa. Demi fenomena alam teh bisa ngawengku unsur hidrologis, morfogeologis jeung biologis. Lian ti eta aya dua pola anu maneuh tur raket sacara asosiatif, biasana ku cara matalikeun ngaran tempat jeung kaayaan alam tadi. Pola linier jeung pola barung (tina pola linier jeung sesebutan sejen jadi hiji konsep ngaran). Urang Sunda bisa disebut hydrolic society, nyaeta masarakat anu teu leupas tina cai. Ari kituna mah bisa kamaphum da geuning alam tatar Sunda teh kawentar daerah anu subur ma’mur curcor caina. Unsur hidrologis anu aya patalina jeung pola linier bisa dicontokeun loba pisan ngaran tempat anu aya ngandung harti cai saperti, Coblong, Ledeng, Parigi, Empang, Bendungan, Lengkong jste. Sedengkeun unsur hidrologis dina pola barung saperti ngaran tempat Sawahkurung, Parakansaat, Rancaekek, Rancapurut, Solokanjeruk, Tambaksari jste.

Unsur morfogeologis (dumasar kana kontur beungeut taneuh), dina pola linier saperti ngaran tempat Punclut, Lebak, Legok, Lamping, Talun jste. Ari pola barung nyaeta ngaran tempat Tajurhalang, Lemahneundeut, Bojongsoang, Legokhuni, Bojongkacor, Pasirjambu jste.
Unsur biologis biasana dicirian ku unsur flora (tutuwuhan) atawa fauna (sasatoan). Ngaran tempat nu aya unsur tutuwuhan tur linier saperti Kosambi, Caringin, Paseh, Kopo, Sentul, Katapang, jste. Ari pola barung saperti Salammanjah, Kasomalang, Kiaracondong, Warudoyong jste.
Sedengkeun nu aya patalina jeung unsur sasatoan anu linier saperti ngaran tempat Merak, Tomang, Sanca. Kitu deui anu pola barung nyaeta Rawabogo, Rancabadak, Leuwigajah, jste.

Aspek Sosial. Contona ngaran Banceuy deukeut alun-alun Bandung, kapan kecap banceuy teh sacara etimologi mah hartina kompleks kuda (kuda, istal jeung tempat anu ngurusna). Baheulana Banceuy teh tempat pangreureuhan kuda jeung tempat bagantina kuda dina mangsa jalan raya pos kakara dijieun. Conto sejen nyaeta Balubur, eta ge teu leupas tina aspek sosial dina jaman pangawulaan baheula. Balubur teh cek kamus Sunda Danadibrata mah tempat anu dihateupan pikeun nyimpen pare atawa beas beunang ngumpulkeun keur saheulaanan. Sigana eta beas atawa pare teh beunang ngumpulkeun ti rahayat anu setor ka dalem, ka gegeden jaman harita.
Ngaran tempat sejen anu aya patalina jeung aspek sosial tur aya patalina jeung patukangan : Gosali, Panday, Paledang jste.
Ngaran tempat nu aya patalina jeung lembur : Babakan, Tarikolot. Nu aya patalina jeung ekonomi : Warungjambu, Warungpeti. Nu aya patalina jeung waktu : Heubeul-isuk, Windujanten jste. Malah dina toponimi aya nami daerah tina unsur auditif, aya ngaran Curugseah, pedah eta sora cai anu nyurug kadengena seah. Aya deui unsur aromatik, upamana Legokhangseur, Cihanyir jste.

Aspek Kultural. Aya kalana ngaran tempat teu kakobet ku aspek fisikal jeung aspek sosial, nya wayahna kudu dilegaan deui ngobetna ku aspek kultural. Upamana di Cirebon aya daerah anu ngarana Palimanan, apan eta teh tina kecap liman anu hartina gajah. Gajah jaman baheula jaman karajaan dianggap sato nu jadi ciri kakawasaan jeung kasakten. Mawat gajah (salaku mitos) dipercaya bisa jadi lambang kaagungan sarta kakuatan raja.

Ngaran Anyar.

Ampir sawanda dina uraianana, tapi ES leuwih nyoko kana ngaran anyar nu jul-jol dina mangsa kiwari, utamana sanggeus jlug-jleg kompleks perumahan anu dijieun ku para pengembang (developer real estate).
Ngaran tempat kaayeunakeun geus kurang merhatikeun ciri-cir anu maneuh siga baheula, malah aya kesan sakahayang. Mangsa kiwari dina mere ngaran teh sarwa hayang praktis jeung simpel.
Orientasina keur kapentingan administrasi pamarentahan, diala gampangna mere ngaran sok ukur make selatan, timur, barat, tengah, utara. Hal ieu dimimitian ku Daendels nu ngabagi pulo Jawa jadi tilu wilayah administrasi, Jawa Barat, Tengah jeung Timur. Hal ieu ge mere pangaruh satuluyna, siga Bandung Barat dijadikeun ngaran kabupaten, naha teu bisa neangan ngaran sejen anu teu ngaharib-harib kecap Bandung. Alesanana mah ambih teu kaciri teuing nyokot ngaran anu geus kawentar, siga Bandung. Naha teu disebut Kabupaten Padalarang upamana, apan eta teh mere ngaran anu mandiri, teu siga nu ngilu kahieuman ku ngaran Bandung.

Eksklusive anu anu dicirian ku dug-degna lembur anyar anu diwangun ku para pengembang (developer). Ngaran lembur anyar sok ditungtungan ku kecap Griya, Asri, Permai, Kencana, Estat jste. Bari jeung loba anu teu ngaharib-harib kana kaayaan tempat eta. Geura we timana jolna bet aya ngaran jalan tina widang astronomi, siga jalan Jupiter, Saturnus, Venus upamana. Padahal di tempat eta teh euweuh pisan tapak nu ngaharib-harib kana widang astronomi. Sigana eta mah ku kreativitas pengembang bari jeung teu didadasaran ku pangaweruh hal toponimi atawa teu maca alam lingkunganana. Sasatna mere ngaran teh ngan ukur sakahayang sorangan. Baheula ngan sakadar boga jobong, atuh ganti-ganti ngaran ambih karasa rohaka terus we make Estate. Padahal kitu-kitu keneh.

Mode. Ngaran tempatna biasana mangrupa akronim atawa ngarobah sora. Upamana Budapes tina singgetan Bukit Dago Pakar East, Ciwok asalna tina Cihampelas Walk. Ieu kacirina siga nu reueus ku lembur batur, pedah kawentar di dunya internasional tuluy we dipake, hayang modern bari jeung salah.
Ngaran tempat anu robah atawa leungit balukar tina pamekaran daerah. Ngaran daerah anu leungit samisal Parakan Muncang, Cigolendang, Korobokan jste. Leungitna ieu ngaran daerah teh kulantaran dihijikeun jeung daerah sejen tur dibere ngaran anyar atawa nyokot ngaran anu dianggap leuwih popiler. Sedengkeun anu robah, misalna Gehger Kalong jadi Geger Kalong, Jeungjing Rigil jadi Jingjing Rigil.

Kudu Ati-ati.

Dina jirangan pertanyaan ti pamilon sawala, aya nu nanyakeun ngaran Sukamiskin, naha eta teh pedah urang dinya resep kana kaayaan miskin. Aya katerangan Sukamiskin asalna tina basa Arab nyaeta suqmisk anu hartosna pasarseungit, mimitina mah pedah aya ceramah agama anu nyabit nyabit kana ngaran tempat. Aya konsep sejen nu aya pakaitna jeung Tritangtu, nyaeta Rama ngagurat lemah, Resi ngagurat cai, Ratu ngagurat batu, ieu teh konsep toponimi jaman bihari. Sigana ieu nyekrup jeung konsep aspek fisikal, sosial jeung kultural anu geus disebutkeun diluhur.

Pikeun kahareupna tina ieu sawala aya kahayang supaya para pengembang atawa gegeden anu boga kakawasaan, kudu ati-ati dina mere ngaran hiji tempat. Kudu nyoko kana kaayaan tempat tur sajarahna. Paling Copel ulah gehgeran.

(Laporan Mamat Sasmita, panumbu catur dina sawala PSS)

Dimuat dina majalah bulanan basa Sunda Cupumanik No. 59, Juni 2008

06 June 2008

ANGGANG KAWASA. Ngeunteung kana kasus Ceriyati


Ku : MAMAT SASMITA

Kiwari asa mindeng ngadenge jeung nyaksian dina televisi yen TKI (Tenaga Kerja Indonseia boh awewe boh lalaki) anu digawe di luar nagri meunang musibah alatan dikakaya ku dununganana. Beja pangahirna lalakon Ceriyati anu mapay-mapay jandela gedong jangkung (kondominium) ti tingkat 15, niatna hayang kabur tina pangawasa dununganana.
Asa ngangres ningalina. Meureun paniatan neangan kipayah di nagri deungeun teh pikeun kahirupan kulawargana, nganteur angen-angen hayang ngarobah kahirupan sangkan bisa nyukupan pangabutuh sapopoe. Ari buktina kalahka meunang wiwirang.
Naha
atuh bet loba kajadian siga kitu..? Tulisan ieu lain tulisan nu rek nyungsi nyosok jero nu jadi alesanana, ngan sakadar ngabandingkeun pola kahirupan di nagri deungeun jeung di urang. Kitu ge teu sagemblengna ngan ukur meunang nyutat tina sababaraha referensi. Utamana hal anggang kawasa (Indonesia : jarak kekuasaan)

Baheula jaman kolonial di Indonesia aya anu disebut menak jeung somah, menak jeung cacah kuricakan, ngabedakeun antara nu jeneng jeung nu teu kabiruyungan jadi jeneng.
Menak sok disalenggorkeun jadi dimemen-memen di enak-enak, da enya nu disebut menak teh nilik kahirupanana mah kacida ngeunahna, pakaya lubak libuk, kakawasaan aya dina dampal leungeunna, tutah titah moal aya nu wani mungpang. Sagala pangabutuh menak aya nu nyukupan, badega pabalatak.
Contona mah urang nyokot tina buku Rusdi Jeung Misnem (1920), waktu bapa Rusdi nyambungan ka Camat, pedah Camat keur kariaan rek nyunatan anakna.
Bapa Rusdi jeung emana gek dariuk, cong nyarembah, ngadeuheusan ka Juragan Camat istri. “Tah geuning bapa Lurah jeung ema, wanci kumaha daratang ?” saur juragan istri.
“Sumuhun timbalan, nembe dongkap bieu pisan, kaulan” piunjuk Pa Rusdi.
“Gamparan, “ ceuk ambu Rusdi “abdi teh mung sumeja ngaheuheurinan bae teu barang bantun naon-naon, mung hatur lumayan bae dumeudeul ku congo rema, beas sakulak, cau sasikat sareng suluh sateukteuk”. Padahal Bapa jeung Ema Rusdi barangbawa teh kacida lobana, beas, cau ditanggung, embe ditungtun, nu mawa suluh ge ngabubuhan.

Tina kalimah kalimah di luhur geus kacipta kumaha rengkak paripolah Bapa Rusdi jeung Ema Rusdi waktu nepungan ka Juragan camat istri (tangtu maksudna pamajikan camat), antara nyembah jeung sila, diuk tungkul, murungkut. Ganjorna kakawasaan geus kabade, padahal Bapa Rusdi teh boga kalungguhan Lurah, tangtu sacara struktural lurah teh bawahan langsung Camat, tapi anggah ungguhna sakitu nantratna. Gambaran kahirupan jaman harita.
Komo deui lamun antara Lurah jeung Bupati jabatan anu sakitu ganjorna atawa jeung gegeden bangsa Belanda harita, teu kagambarkeun kumaha sikep jeung tingkah paripolah waktu ngadep, tangtuna nyembahna bakal leuwih acong-acongan.

Sanggeus ngaliwatan mangsa revolusi, perang pikeun ngarebut kamerdekaan taun 1945, sikep kitu tangtu aya robahna, feodalistik saeutik saeutik laleungitan contona kagambarkeun dina buku Taman Pamekar (1970) waktu Pa Sastra nyunatan Ade anak bungsuna. Pa Sastra mantri pasar di Cicalengka, waktuna kariaan nyunatan teu digambarkeun loba anak buahna anu nyambungan, dokdakna kariaan ngan ukur digambarkeun loba nu mantuan teh ku dulurna jeung tatanggana. Ciri masyarakat anu kolektip, silih bantuan kalawan kakulawargaan, hubungan atasan jeung bawahan teu digambarkeun. Beda pisan jeung dina carita Rusdi Jeung Misnem.

Ayeuna disebut jaman reformasi, antara dunungan jeung badega, antara bawahan jeung atasan, sigana ganjorna leuwih ngadeukeutan deui. Katangen dina prakprakan ngolah nagara, pangaruhna tangtu aya dina sikep budaya organisasi, boh organisasi kaparteyan, organisasi kamasyarakatan boh organisasi pausahaan. Beda pisan dina mangsa jaman orde baru. Anggang kawasa di Indonesia aya parobahan anu beuki ngadeukeutan.

Hofstede (Geert Hofstede and Gert J Hofstede,Cultural Organizations Software of the mind , 2005) nu nalungtik budaya organisasi tangtu aya pangaruh tina kasang tukang budaya masyarakatna, anu ditalungtik di 74 nagara, diantarana hal anggang kawasa (power distance). Anggang kawasa nyaeta hiji ukuran dimana anggota masyarakat narima yen kakawasaan dina institusi atawa organisasi henteu didistribusikeun kalawan sarua, henteu didistribusikeun kalawan rata ka unggal strata anggotana. Hal ieu tangtu bakal mangaruhan sikep anggota masyarakat anu kurang kakawasaanana jeung anu leuwih kakawasaanana. Jalma anu aya dina masyarakat anu anggang kawasa gede, narima posisina kalawan henteu perlu justifikasi deui, sedengkeun jalma anu aya dina anggang kawasa leutik, sok nungtut sangkan bedana kakawasaan kudu aya justifikasina. Isu pentingna nyaeta kumaha carana ngaropea ieu pangbeda.
Hasil panalungtikan Hofstede dibere ajen ranking jeung skor ( rank and score) posisi anu anggang kawasa pang gedena nyaeta nagara Malaysia jeung Slovakia rankingna 1-2, skorna 104, anu anggang kawasa pang leutikna nyaeta Austria rankingna 74 skorna 11, sedengkeun Indonesia aya dina ranking15-16 skorna 78 sarua jeung nagara Ekuador. Amerika ranking 57-59 skor 40, disebutkeun didieu teh pedah we Amerika remen jadi kiblat keur urang Indonesia. Inggris –nu kungsi jadi dunungan Malaysia- ranking 63-65 skor 35, ana kitu keuna ku kacapangan mun badega jeneng jadi raja sok kaleuleuwihi.

Jadi posisi Malaysia ceuk hasil ieu panalungtikan, antara atasan jeung bawahan beda jauh, ganjor pisan. Indikasi umumna anggang kawasa anu jauh diantarana kateusajajaran dipikaharep jeung dipikaresep, aya kadali dina kasaimbangan status, anu kakawasaanana di handap kudu mandiri jeung aya polarisasi antara mandiri (dependence) jeung teu mandiri (counterdependence), ngahormat ka anu kolot jeung dipikolot hal nu utama tur saendengna.
Sabenerna eta indikasi teh meh sarua jeung di Indonesia, teu ganjor teuing bedana, tapi sok sanajan kitu aya alusna dipikawanoh heula kumaha sikep di hiji nagara samemeh ancrub kana lingkunganana.

Nagara Malaysia teh nagara karajaan (monarki) beda jeung Indonesia anu republik. Malaysia samemeh merdeka dijajahna ku Inggris, sarua Inggris ge karajaan. Proses merdekana Malaysia beda jeung Indonesia, Indonesia mah ngaliwatan perang kamerdekaan, sedengkeun Malaysia mah ngaliwatan proses negosiasi. Di Malaysia teu kajadian aya gejolak kamerdekaan jadi teu karasa aya parobahan dina kondisi masyarakatna, nu tadina raja nya tetep raja, nu tadina tukang balantik tetep balantik, nu tadina rahayat biasa tetep rahayat biasa.
Jadi pantes lamun anggang kawasa tetep ganjor, anggang kawasa antara dunungan jeung badega tetep jauh, anggang kawasa antara atasan jeung bawahan tetep jauh, anggang kawasa antara bangsawan (menak) jeung rahayat biasa tetep jauh.
Ceuk dunungan bemo, nya bemo, badega teu bisa kukumaha deui, kudu nurut. Ceuk atasan munding, kudu tetep munding, bawahan mah teu meunang protes.
Refleksi kahirupan raja tangtu bakal napak di masyarakatna, kumaha anggah ungguhna kalawan tatakrama anu kacida kuatna, contona dina tatakrama ngomong ka raja aya aturanana, lamun raja nanya “Awak sudah makan..?”, kudu dijawab :”Ampun Tuanku, patik sudah ayap Tuanku”, lamun dijawab : “Ampun Tuanku, patik sudah makan Tuanku”. atawa “Ampun Tuanku, patik sudah santap Tuanku” eta salah, dianggap henteu hormat. Aya deui lamun raja rek “kahampangan” disebutna teu meunang “buang air” tapi kudu “ke sungai” (sumber:
http://www.malaysianmonarchy.org.my/). Conto sejen di Malaysia ge aya nu disebut pamali, ceuk urang Malaysia mah disebutna teh Pantang Larang, diantarana pantang larang keur awewe ulah sok kakawihan di dapur sok dikawin ku aki-aki, ulah sok make baju baseuh bisi awak jadi kurap, ulah sok nyapuan sangu tipeuting bakal pondok rejeki.

Istilah pembantu rumah tangga di Malaysia leuwih populer pembantu rumah, sedengkeun istilah keur laden disebut buruh kasar, mahir atawa profesional. Istilah pembantu keur pagawean anu jeneng saperti Pembantu Dekan di perguruan tinggi di Indonesia, di Malaysia disebutna Timbalan Dekan. Timbalan Perdana Mentri hartina Pembantu Perdana Mentri.

Pembantu rumah tangga ti Indonesia pikeun masyarakat Malaysia aya nu di kelas E, nyaeta kelas nu dianggap panghandapna dina kanyaho jeung kaparigelan, kumonikan anu goreng, henteu perceka. Ceuk Presiden Persatuan Agensi Pekerja Asing (PAPA) Malaysia, Datuk Raja Zulkepley Dahalan nya ti pembantu kelas E ieu nu gagal nyaluyukeun diri jeung masyarakat sabudeureunana (Malaysia) dina waktu anu singget anu ngabalukarkeun ayana masalah (Utusan Online 18 Juni 2007)

Nu jadi dunungan awalna boga anggapan (estimasi) ku ayana pembantu atawa badega bakal ngurangan pagawean, nepi ka wani ngaluarkeun duit anu gede sangkan boga pembantu. Nyatana kalahka loba masalah, pagawean teu nyugemakeun, dibere tuduh teu cukup ku sakali, dianggapna teu ngarti bae.

Palebah dinyana mah bisa kajudi, lantaran aya anu jadi TKI teh pendidikanana handap pisan, paling ge lulusan SD atawa SMP jeung deuih padumukanana lain di kota. Aya geger budaya. Tangtuna nu jadi dununganana teh ayana di kota gede, metropolitan samodel Kuala Lumpur, jeung boga pakaya, meureun pembantu teh ningali mesin cuci atawa kompor gas ge boa kakara, jeung deuih beda bahasa, beda istilah, beda adat. Dina kadaharan beda kabeuki, dina papasakan beda cara.

Ku ayana kitu anggang kawasa tangtu bakal leuwih ngagedean, bakal leuwih ngajauhan, potensi patelak (konflik) bakal beuki ngadeukeutan. Contona kasus Ceriyati anu ngageunjleungkeun. Ceriyati tangtu geus satekah polah sangkan kapake ku nu jadi dunungan, tapi kasang tukang pendidikan jeung budaya nu ngalantarankeun hese rek saluyu jeung kahayang dunungan dina waktu anu singget. Kahayang dunungan pok torolong hasilna nyugemakeun.
Nilik ka palebah dinya, sigana pikeun ngungkulanana taya lian ti mere bekel anu merenah, lain bae dina widang pangaweruh tapi deuih kudu jeung kanyaho hal budaya nagara nu bakal didatangan.
Malah lamun diloloskeun jadi TKI teh ditingali heula kasang tukang pendidikanana, minimal kudu SMP, sahenteuna ari lulusan SMP mah teu ganjor teuing, meureun bakal bisa ngigelan kahayang dunungan. Parentah dunungan moal salah teuing ditarjamahkeunana, pituduh ti dunungan cukup ku sakali, saterusna jadi patokan. Kana basa Inggris teu balilu teuing boh macana boh ngucapkeunana, sahenteuna ari lulusan SMP mah kungsi diajar, perluna keur komunikasi sanajan basa Malaysia ampir sarua jeung basa Indonesia, tapi kalan kalan sok rada lieur ngahartikeunana. Komunikasi nu efektip diantarana, ngarti, aya kasenangan, pangaruh alus kana sikep, hubungan nu beuki alus jeung tindakan nu alus.
Aya hal sejen anu kudu diperhatikeun ku para calon TKI nyaeta ulah miang ngaliwatan calo, calo orientasina kana duit, padu miang teu mikir hal sejen, nu katideresa mah dirina para TKI.
Kajadian Ceriyati kudu jadi eunteung sangkan leuwih taliti memeh miang. Ulah jadi pembantu kelas E. Hubungan pembantu jeung dunungan kudu nyoko kana hubungan anu profesional, lain hubungan kakaluwargaan, lain hubungan “belas kasihan”. Pembantu meunang panghasilan saluyu jeung kamampuhna, kamampuh anu ceuk dunungan nyugemakeun. Anggang kawasa anu jauh bisa dideukeutkeun kucara kamampuh anu nyugemakeun, cingceung kana gawe, sagala bisa tapi tetep aya dina tatakrama boh ceuk ukuran pembantu boh ceuk ukuran dunungan. Anggang kawasa bisa dideukeutkeun ku cara profesional jeung komunikasi nu efektip Cag.

MAMAT SASMITA

Nu ngokolakeun Rumah Baca Buku Sunda, nganjrek di Bandung

(Dimuat dina Majalah Mangle No. 2166 April 2008, dina Rubrik Dangiang)

05 June 2008

SEKELUMIT BUKU-BUKU LANGKA

Oleh : MAMAT SASMITA

Hampir tidak ada ukuran yang pasti mengenai apa yang disebut buku langka. Apabila memaknai kata langka itu sendiri artinya adalah jarang ditemukan atau jarang didapat. Maka bisa saja yang dinamakan buku langka artinya buku yang jarang ditemukan atau buku yang jarang didapat. Jarang didapat ada kemungkinan karena sudah lama diterbitkan atau sedikit dicetak tetapi banyak peminatnya. Mengenai ukuran waktu berapa lama setelah diterbitkan, itu juga tidak ada ukuran yang pasti. Agak beda dengan buku kuno dan buku yang disebut antiquariat. Ada yang mengatakan buku kuno setelah seratus tahun, tetapi ada juga yang lebih longgar yaitu lima puluh tahun setelah diterbitkan. Sedangkan buku antiquariat adalah buku kuno sekaligus langka.

Buku Peringatan 100 tahun Teh di Indonesia

(Ukuran buku : 19 x 28,5 cm, tebal : 2 cm, 241 halaman, berikut beberapa lampiran dan gambar, bahasa Belanda)

Buku ini judul aslinya Gedenkboek Der Nederlandsch Indische Theecultuur, berbahasa Belanda, diterbitkan pada tahun 1924 oleh Proefstation Voor Thee pada saat mengadakan kongres di Bandung. Tujuan diterbitkannya adalah untuk memperingati seratus tahun tanaman teh masuk ke Hindia Belanda (Indonesia). Seratus tahun itu dihitung sejak tahun 1824. Pada bulan Juni tahun 1924 berkumpul orang-orang dari beberapa perusahaan teh di kota Bandung atas prakarsa dari Proefstation voor Thee ( Balai Penelitian Teh). Buku ini memuat 15 makalah yang bersifat sejarah teh di Indonesia.

Salah seorang yang memberikan ceramahnya saat itu adalah Dr Ch Bernard yang menjabat sebagai Direktur Balai Penelitian Teh. Makalahnya berjudul De Geschiedenis van de Theecultuur in Nederlandsch Indie (Sejarah Budidaya Teh di Indonesia). Menurutnya teh masuk ke Indonesia sekitar tahun 1684 atau 1687. Karena ada berita bahwa pada tahun 1694 terlihat dibelakang pasanggrahan Gubernur Jendral J.Camphuis di Jakarta yang diperkirakan berasal dari Jepang. Tanaman itu tidak dianggap sebagai tanaman teh tetapi hanya dianggap sebagai tanaman hiasan saja. Diperkirakan tempatnya disekitar sebelah timur Gereja Portugis di kota lama.

Pada tahun 1728 VOC menganggap perlu mendatangkan biji teh untuk ditanam yang didatangkan dari negri Cina, disemaikan di Pulau Jawa. Tetapi yang menjadi tonggak dimulainya mendatangkan Teh adalah dengan dikeluarkannya surat No.6 tertanggal 10 Juni 1824 dari Dr Blumo yang menjabat sebagai Direktur Kebun Raya Bogor ( Buitenzorg saat itu) yang pada dasarnya memerintahkan kepada Von Siebold untuk mendatangkan teh ke Indonesia untuk dibudidayakan. Menurut Dr Ch Bernard bibit teh pertama ditanam di Kebun Raya Bogor dan di sebuah kawasan di Garut.

Yang menyampaikan makalah lainnya adalah Dr.CP Cohen Stuart, T.J. Lekkerkerker, Dr.JJB Deus, HCH De Bie. Pada dasarnya makalah yang disampaikan berisi tentang sejarah masuknya tanaman teh ke Indonesia. Sangat menarik untuk dimiliki oleh siapa saja yeng tertarik akan sejarah tanaman teh di Indonesia.


Jakarta dan Sekitarnya Tahun 1927 (Jaarboek van Batavia en Omstreken 1927)

(Ukuran Buku : 31,5 x 23,5 cm. Tebal 3 cm. Jumlah halaman 647. bahasa Belanda)

Buku ini terbit tahun 1927 sesuai dengan judulna, merupakan buku tahunan yang lebih berisi tentang kehidupan di Jakarta. Buku ini juga dilengkapi dengan foto yang bagus keadaan Jakarta saat itu termasuk beberapa gambar yang diambil dari gambar-gambar jaman Portugis masih menguasai Jakarta.

Buku ini ditujukan untuk bangsa Belanda yang ada di negri Belanda saat itu supaya lebih mengetahui keadaan negri jajahan yang nun jauh disana, baik keadaannya maupun kebiasaan kebiasaan masyarakatnya.

Buku ini terdiri dari sembilan bab, yang dikemas sedemikiann rupa untuk memudahkan pembacanya. Bab pertama menceritakan tentang Jakarta lama, yang diberi judul Iets Over Oud Batavia. Bab dua menceriterakan tentang pemerintahan saat itu, termasuk nama pejabatnya. Bab selanjutnya diantaranya menceriterakan kemajuan industri, keadaan pelabuhan dan lainnya. Begitu juga untuk daerah pemukiman dibuat dalam bab tersendiri termasuk kegiatan berkesenian diantaranya tentang toonil (drama), musik, dan perkumpulan lainnya. Untuk daerah sekitarnya dijelaskan mengenai daerah Bogor (Buitenzorg), Sukabumi, Sindanglaya, Garut dan Bandung.

Yang menarik dari buku ini yaitu sangat kaya akan gambar (foto), hampir disetiap halaman selalu ada foto yang menyertainya, sepertinya tanpa membacanyapun sudah mengerti akan maksudnya.


Buah-buahan Indonesia (Indische Vruchten)

(Ukuran buku : 23 x 16 cm, tebal : 2 cm, jumlah halaman : 330 . Dibuat oleh J.J Ochse, bahasa Belanda, terbit tahun 1927).

Buku ini memuat hampir 140 jenis buah-buahan yang ada di Indonesia. Setiap jenis dijelaskan rata-rata tinggi pohon, tumbuh disekitar daaerah ketinggian berapa dari atas permukaan laut, bentuk daun dan buahnya, termasuk musim berbuah pada bulan apa.

Yang menarik adanya nama setiap jenis buah-buahan dalam nama tradisional sepeti nama dari bahasa Jawa, Madura, Melayu dan Sunda, tentu saja dijelaskan juga nama Latinnya. Setiap jenis buah-buahan terdapat gambar yang menyertainya berupa gambar daun dan buahnya.

Buku ini bisa menjadi dokumen penting tentang ragam jenis buah-buahan yang tumbuh di Indonesia, terutama untuk mengetahui jenis buah-buahan yang langka. Contohnya mundu (Melayu), jawura atau golodog panto (Sunda), baros atau kledeng atau mundu (Jawa), mondhu (Madura), nama Latinnya garcinia dulcis, famili guttiferae.

Barangkali buku inipun bisa menjadi inspirasi bagi anak muda yang senang mendaki gunung, sebagi kegiatan tambahan ada baiknya mendokumentasikan jenis tumbuhan di perjalanan yang dilewati dengan memotret selengkapnya, toh sekarang ada kamera digital yang memudahkan untuk dicetak.

Buku sejenis seperti ini cukup banyak seperti Atlas van Indische Geneeskrachtige Planten oleh J.Kloppenburg yang terbit tahun 1933 yang memuat 143 jenis tanaman atau buku Indische Groenten oleh J.J Ochse yang khusus mendokumentasikan tanaman perdu, terbit tahun 1931 setebal 1001 halaman.


Panduan Tentang Bandung dan Priangan Tengah ( Gids van Bandoeng and Midden Priangan )

(Ukuran buku : 23 x 15 cm, tebal : 1 cm, jumlah halaman : 108, dibuat oleh SA.Rietsma dan WH.Hoogland, bahasa Belanda, terbit tahun 1927)

Ada yang mengatakan SA Rietsma pernah menjadi walikota Bandung, tetapi ada juga yang mengatakan hanya menjadi wakilnya. Nah pada saat itulah dia membuat buku panduan tentang Bandung ini. Buku ini lumayan memberikan penjelasan keadaan Bandung saat itu termasuk cuacanya, misalnya pada jam 4 sampai dengan 6 pagi, mencapai suhu sekitar 6ºC dan paling panas pada jam 12 sampai jam 2 siang yaitu sekitar 23ºC. Sungguh dingin dan nyaman untuk menjadi daerah pemukiman orang Belanda saat itu mungkin dianggap mendekati udara negrinya. Ternyata jumlah pemukim warga orang Eropa tahun 1926 hampir mencapai enam belas ribu orang. Sedangkan jumlah penduduk Bandung keseluruhan hanya sekitar seratus empat puluh ribu orang. Buku ini disamping menjelaskan akan kota Bandung juga menjelaskan daerah sekitarnya seperti Lembang, Padalarang, Sumedang dan Garut. Tidak ketinggalan juga menceriterakan legenda Sangkuriang.

Buku ini menjadi penting sebagai data dokumentasi kota Bandung, disamping buku lain tentang Bandung yang saat sekarang menjadi semarak.


Dongeng-Dongeng Perumpamaan.

(Ukuran buku : 22,5 x 16 cm, tebal : 2 cm, jumlah halaman : 239, bahasa Indonesia Penerbit Balai Pustaka tahun 1959)

Buku ini terjemahan (tidak disebutkan judul aslinya) karya Jean De La Fontaine diterjemahkan oleh Trisno Sumardjo. Berisi tentang fabel, yang dikumpulkan oleh pengarangnya dari bermacam sumber baik dari Yunani mapun dari Parsi dan oleh Trisno Sumardjo diceriterakan dalam bentuk puisi tutur. Ceritera Fabel selalu mengandung pesan moral, cocok diceriterakan kepada anak-anak dan cocok pula menjadi bahan renungan orang tua.

Melalui buku ini baru diketahui bahwa dongeng Kancil Dan Gagak bukan berasal dari Inonesia, dikisahkan seekor gagak yang gagah selalu berbunyi nyaring bertengger diatas pohon, suatu hari dia mematuk sepotong daging, ketika akan melahapnya lewatlah seekor kancil yang juga ingin sepotong daging. Dengan cerdik si kancil memuji gagak bersuara merdu, si gagak lupa diri ingin memamerkan suaranya maka patuknya terbuka akan bersuara, sayang daging jatuh melayang. Si kancil langsung melahap daging. Didalam buku ini terdapat 140 cerita fabel seperti itu, ceritera fabel perumpamaan yang patut direnungkan.


Semerbak Bunga di Bandung Raya.

(Ukuran buku : 23 x 15 cm, tebal : 7 cm, jumlah halaman : 1116, Penerbit Granesia tahun 1986 karya Haryoto Kunto)

Haryoto Kunto menulis tentang Bandung hapir dari segala segi, menilik judulnya memang benar pembaca dibawa untuk berwisata ke berbagai taman yang ada di kota Bandung, mengenal berbagai jenis tanaman. Tetapi sebelum itu, dibawa dulu ke alam masa lalu ketika Sangkuriang membendung Bandung menjadi danau, dengan memperhatikan bagian bagian sudut cekungan Bandung ternyata memang dahulu kala Bandung itu pernah menjadi danau, Danau Purba Bandung akibat tertutupnya pembuangan air Citarum karena adanya letusan gunung Sunda. Bab selanjutnya menceriterakan Bandung bagian selatan selalu terkena banjir pada musim penghujan, ada cerita duka nestapanya. Tak ketinggalan diceriterakan pada jaman kolonial dulu ada sebuah perkumpulan “Bandoeng Vooruit” suatu wadah penyaluran partisipasi warga akan keasrian kota, salah satunya adalah Insulinde Park. Sebuah taman dengan konsep Indische Tropische Park yaitu yang sekarang terkenal dengan sebutan Taman Lalu Lintas, da saat sekarang masih relatif tetap seperti dulu. Buku ini selalu menjadi buku referensi apabila membicarakan kota Bandung. Terbitnya memang belum begitu lama, baru sekitar dua puluh taunan, tetapi begitu langkanya dipasaran, kalaupun ada harganya sungguh akan menguras kantong. Mungkin ini terjadi karena bagitu banyak peminat dan nampaknya tidak ada edisi kedua.

Itulah sebagian jenis-jenis buku langka, mungkin juga ada jenis lain karena keunikannya seperti ada sebuah buku judulnya Djawa Barat Membangun, diterbitkan oleh Penerbitan Negara Bandung tahun 1950, buku ini biasa-biasa saja berisi informasi tentang keberhasilan pembangunan lima tahun setelah kemerdekaan. Tetapi ada yang unik yaitu terdapat sebuah lembar yang kosong diatasnya diberi judul Sambutan Gubernur Kepala Daerah Propinsi Djawa Barat R. Moh Sanusi Hardjadinata lantas dibagian bawah ada catatan berbunyi :

Halaman ini sudah kami sediakan bagi Sdr Gubernur Kepala Daerah Propinsi Djawa Barat, R. Moh Sanusi Hardjadinata. Dan bila ini tidak terisi adalah karena sampai pada waktu buku ini siap naik untuk dicetak sambutan yang dimaksud tidak kunjung sampai ditangan kami. Mungkin Sdr Gubernur sedang sibuk. Sayang !.


MAMAT SASMITA

Pensiunan TELKOM,Pegiat Rumah Baca Buku Sunda

Setelah melalui editing Redaksi, dimuat di Majalah Matabaca Vol 6/No.10/ Juni 2008

CANGKANG JEUNG EUSI SUNDA

Laporan sawala maneuh PSS kaping 11 April 2008 dinten Jumaah.

Panyatur : 1. Prof.Chaedar Alwasillah (Wakil Rektor UPI Bandung), 2. Yasraf Amir Piliang Phd, Dosen SRD ITB, ketua Forum Kebudayaan ITB.

Jejer : Pokona Sunda.

Lantaran ceuk pangarasana aya masalah dina kahirupan urang Sunda, anu katitenan sapopoe, nya Prof A.Chaedar Alwasilah (CA) “angkat pena” nyerat dina sababaraha media masa citak, hasil eta seratan teh tuluy dibukukeun, diterbitkeun ku Kiblat, 2006. Judulna Pokoknya Sunda. CA sapopoena jadi “pendidik” di UPI Bandung

Kataji ku judulna, PSS ngayakeun sawala, sarua dijudulan Pokona Sunda., enas-enasna mah hayang katohyan na kumaha Sunda teh dina mangsa kiwari. Pikeun aya babandingan kamandang kana kasundaan dina ieu sawala aya panyatur sejen nyaeta Sdrek Yasraf A Piliang (YP). Anjeuna leuwih kawentar hiji budayawan anu noong budaya tina sisi posmodern. Sok sanajan lain pituin Sunda tapi di Bandung geus leuwih ti tilu puluh taun, hartina geus apal kumaha Sunda. YP sapopoena jadi “pendidik” di ITB.

Ngakuna CA lain budayawan, lain antropolog, komo ari nu neuleuman filsapat, tapi pendidik anu sapopoena ngawulang di UPI , jadi konsep dina tulisanana teh lain make konsep nu neuleuman budaya, tapi leuwih nyoko kana hiji kasadaran personal dina nyakseni persoalan-persoalan anu aya patalina jeung urang Sunda anu katengetan sapopoe. Ceuk inyana asa langkung wantun nyerat ngabahas isu-isu kasundaan saparantos janten Ketua penyelenggara KIBS (Konferensi Internasional Budaya Sunda) taun 2001 tur wanoh sareng Kang Ajip.

Tujuanana eta tulisan teh sangkan aya “penyadaran” keur urang Sunda hususon anu posisina menegah keatas, penyadaran dina harti kosmopolitan. Nyaeta dipiharep sangkan urang Sunda anu geus jeneng, ulah nepi ka culjeun ka sarakan. Lantaran loba keneh pasualan di Tatar Sunda anu perlu dibebenah. Contona dina widang atikan, di Tatar Sunda rata-rata pendidikan msarakatna ngan ukur tujuh taun, hartina ngan ukur nepi ka kelas hiji SMP. Eleh ku DKI, eleh ku Jateng, eleh ku Bali. Tah anu geus jeneng teh kudu milu mikiran boh sacara pribadi boh sacara institusional. Ngilu mikiran teh alusna mah bari jeung prakna, ari wanguna mah saluyukeun we jeung kamampuh.

Nulis jeung maca teh salah sahiji ciri manusa modern, kukituna kudu ditarekahan sangkan masarakat Tatar Sunda beuki wanoh turta jadi kabutuh, boh keur para intelektualna atawa masarakat sakabehna. Buku basa Sunda salaku produk literasi, kuduna dilobaan, ieu teh lain bae pancen masasarakat tapi deuih pancen pamarentah. Pangna kitu apan bungkeuleukanana waragad teh aya di pamarentah, anu hakekatna mah eta teh duit rahayat, dikumpulkeun tina pajeg.

Samangsa aweuhan otonomi daerah geus jadi sabiwir hiji, lain bae jadi pangguyangan tukang politik tapi deuih mere lolongkrang pikeun tumuwuhna komunitas-komunitas kasundaan. Mere kamandang kana soal ieu CA kacida katajina ngan cenah ulah loba teuing ngan saukur jadi cangkang, kaditu kadieu make baju hideung, diiket barangbang semplak da anu intina mah ayana dina pendidikan. Lamun urang geus hatam pendidikan rek dina widang naon bae tah didieu sikep kosmopolitan teh diperlukeun pisan. Urang Sunda anu mancawura aya dimana mendi, ulah poho kasarakan, ulah poho kana identitas diri, yen dirina teh urang Sunda. Lain hartina cangkang teh teu perlu, da eta engke ge lamun geus kataekan dina sakola atawa pendidikan bakal nuturkeun. Nu antukna urang Sunda bakal reueus, reueus ku identitas cangkang (material culture) jeung reueus ku identitas eusi (non material culture).

Loba pola-pola strategi kabudayaan anu dipake ku unggal etnis, sigana urang Sunda kuat dina budaya literasi hal ieu kaciri dina acara Hadiah Rancage, di Indonesia kacida lobana suku bangsa (etnik) tapi mere Hadiah Rancage, anu dianggap mayeng kakara tilu nyaeta Sunda, Jawa jeung Bali, dina taun 2008 katambah ku daerah Lampung nu munggaran. Jeung deuih lain Rancage wungkul tapi aya Hadiah Samsudi (bacaeun barudak), Hadiah Harjapamekas (guru basa daerah). Tah kahareupna hal ieu teh kudu leuwih diwewegan. Sabab dina ngahirupkeun basa Sunda lain bae ngan saukur keur hirupna basa Sunda tapi deuih mere lolongkrang hirupna “kearifan lokal” anu gumulung dina basana, anu gumulung dina batin urang Sunda.

Salian ti eta, posisi paguron luhur anu aya di Tatar Sunda ge kudu ulubiung, dina ngatur strategi kabudayaan, utamana kajian-kajian lokal (kasundaan). Naha geus aya paguron luhur nu nalungtik, upamana hal penca silat, nalungtik didieu lain bae ngan sakadar jadi proyek panalungtikan tapi bisa oge jadi fakultas anu mandiri, kitu deui upamana hal pengobatan tradisional. Pikeun kasenian CA nandeskeun euweuh manajemen anu kaitung panceg tur maneuh. Lamun tea aya kawawuhan ti mancanagara hayang lalajo pintonan beluk di Bandung kudu kumaha ngajawabna. Sabab, euweuh pintonan kasenian anu maneuh anu puguh jadwalna jeung tempatna.


Budaya Sunda dina jaman posmodern.

YP ningali Sunda sabage entisitas sakaligus entitas, didinya aya budayana, tah ditingali dina mangsa kiwari dina jaman posmodern kacida pajuriwetna, ceuk basa kaayeunakeun mah kacida kompleksna. Kompleksitas ieu teh kusabab pamahaman posmodern jeung realitas posmodernna. Budaya Sunda aya dina posisi dilematis antara harepan jeung ancaman kuayana posmodern.

Nu kacida kapangaruhan pisan mah dina tingkat budaya material (material culture), ciri-ciri budaya luar bisa mangaruhan kana rupa budaya material Sunda. Budaya rupa anu pangkacirina upamana dina widang wawangunan (arsitektur) Sunda. YP ningali Sunda sagemblengna aya hal-hal anu positif atawa sabalikna. Malah YP ningali urang Sunda kurang kuat dina nyanghareupan era globalisasi, sabab teu pati kapanggih ayana akar budaya nu meungkeut. Lamun di Minang aya lembaga ninik mamak, di Sunda teu aya, di Jawa aya keraton anu jadi centre of culture, di Batak aya marga. Sikep kosmopolitan kacida diperlukeunana, urang Sunda nu aya di Jakarta, kudu inget ka lemburna, urang Sunda nu aya di New York kudu inget ka lemburna. Masih keneh inget yen dirina teh tetep urang Sunda.

Budaya posmodern nawarkeun cara maca budaya (cultural reading) nu anyar, didieu ge kaasup cara maca budaya Sunda. Kahiji cara maca restrospektif nyaeta cara maca nyawang katukang pikeun manggihan budaya inti nu tulen. Kadua cara maca prospektif nyaeta nyawang kahareup bari sakalian nawarkeun tafsiran anyar bari jeung ngaleupaskeun tina bangkol budaya anu keukeuh peuteukeuh (kaku), bisa bae mangrupa uga, adat, jeung nu sejenna. Ngaleupaskeun tina bangkol budaya teh dina harti mere tafsir anyar, nyaeta ngalampahan laku redefinisi jeung rekontekstualisai tradisi.

Hal material culture YP kacida nkenkeun perluna, malah cek YP kudu nyieun nu anyar sok sanajan eta mah bisa mangrupa cangkang (anyar), sok snajan kitu eta teh diperlukeun pisan. Pikeun mere ciri, sangkan urang inget ka sarakan.

Dina ngengklokan pananya nu kumaha jeung dina wangun naon budaya material nu kudu diwangun supaya jadi ciri kasundaan. YP teu ngeceskeun dina wangun naon, ngan tetep mere patokan sangkan tetep ajen kasundaan jadi patokan. Enya geus aya Gedong Sate kalan-kalan apan jadi ciri Jawa Barat, tapi meureun pedah eta mah gedongna para birokrat, jadi kudu leuwih nyoko kana wangunan nu orientasina ruang publik. Kumaha upamana lamun nyieun hiji Gedong Kujang anu monumental, dingaranana gedong kujang teh bisa bae wangunan anu futuristik make ugeran arsitektur modern, ngan tetep make falsapah kasundaan, satuluyna aya ciri make kujang.

Pertanyaan ti pamilon kacida euyeubna, tapi intina mah urang Sunda kudu wani ngoreksi diri, boga sikep kosmopolitan tur boga identitas boh anyar atawa ngajembaran nu geus aya dina wangun material jeung non material, harti non materian didieu leuwih nyoko kana eusi batin urang Sunda.

(Mamat Sasmita, panumbu catur matuh dina sawala bulanan di PSS)

Dimuat dina Majalah Basa Sunda Cupumanik No.58 Mei 2008

SEKILAS RAGAM HIAS "PAKARANG"

Oleh : MAMAT SASMITA

Ketika membaca sebauh buku tentang Arsitektur Tradisional Jawa Barat, disana disebutkan bahwa ragam hias di rumah Sunda tidak ditemukan, alasannya mungkin karena masyarakat Sunda dahulu lebih bersifat semi sedenter (berpindah-pindah), sehingga rumah dianggap bukan harta kekayaan sebagai milik pribadi yang sangat didambakan sehingga tidak perlu dihias.

Tetapi apabila membaca naskah Sunda kuno Sanghyang Siksakandang Karesian (SSK) disana disebutkan beberapa ahli yang pada dasarnya berkaitan dengan seni diantaranya keahlian mengukir yang disebut maranggi, keahlian melukis, keahlian mengolah logam, membatik dan sebagainya. Tome Pires pada tahun 1512 telah mendeskripsikan keadaan keraton mempunyai 330 tiang kayu yang tebal seperti tong anggur dan pada baian puncaknya dihias dengan ukiran yang indah.

Kemungkinan ragam hias untuk bangunan (rumah) sudah ada, bisa jadi bukan hanya di keraton tetapi juga di kabuyutan. Bagaimana di rumah rakyat biasa?, mungkin karena berpindah-pindah itu maka ragam hias di rumah tidak menjadi suatu keharusan. Barangkali ada baiknya untuk menemukan ragam hias ini di benda lain, bukan hanya selalu berkutat pada pencarian di rumah hunian. Tetapi mengarahkan pencarian ke benda lain yang dianggap sebagai banda pakaya anu masket dina dirina yang tidak pernah ditinggalkan walaupun harus pindah tempat. Setidaknya ada empat macam benda tersebut yaitu : pakarang (perkakas seperti pisau, golok, kujang, kudi), wadah (tempat untuk menyimpan sesuatu) atau parabot seperti parabot dapur termasuk lisung, jubleg atau halu, amparan (tikar, lampit atau benda anyaman tertentu untuk digelar sebagai tempat duduk atau tempat tidur) dan kain atau pakaian.

Didalam SSK juga disebutkan beberapa nama pakarang termasuk siapa yang memakainya, untuk para prabu (raja) yaitu pedang, abet (pecut), pamuk, golok, peso teundeut, keris. Untuk para petani yaitu kujang, baliung, patik, kored, pisau sadap. Untuk para pendeta yaitu kala katri, peso raut, peso dongdang, pangot dan pakisi.

Yang menarik kedudukan antara kujang dan golok (bedog?), disebutkan didalam SSK bahwa kujang pakarangnya para petani (tukang tatanen) dan golok pakarangnya raja. Apabila diamati ternyata saat sekarang ada pergeseran nilai baik untuk kujang maupun golok. Diawal golok sebagai pakarang raja, tapi sekarang menjadi pakarang jalma rea, siapa saja berhak memilikinya. Disitu terjadi semacam desakralisasi fungsi, mungkin karena bentuknya yang sederhana dan familiar juga sangat berguna untuk pekerjaan kudak-kadek terutama untuk pekerjaan di kebun, seperti membelah bambu, memotong kayu.

Sebaliknya dengan kujang yang tadinya sebagai pakarang para petani, artinya yang memiliki masarakat kebanyakan, saat sekarang kujang seolah-olah menjadi pakarang pusaka, disini terjadi sakralisasi terhadap fungsi kujang tersebut.

Tentu saja supaya kujang atau golok enak dipegang harus dilengkapi dengan gagang atau pegangan (Sunda: perah), dan supaya terasa aman saat dibawa maka harus memakai sarangka, wadah untuk kujang atau golok.

Ternyata di perah dan sarangka ini terdapat beberapa ragam hias, termasuk bentuk dari perah dan sarangka tersebut, terutama pada golok, tentunya yang ditemukan saat sekarang. Nama-nama perah golok seperti eluk paku, eluk duhong, eluk tanjung karang, eluk golong tambang, eluk bogo nolol, eluk jengkol sabeulah. Nama perah yang berasal dari nama burung seperti ekek galing, ekek bolong, soang ngejat, kucuit. Nama perah lainnya seperti maung kuru, maung depa, sopak lodong, ceker kidang, pingping hayam, ranggeum endog dan lain-lainnya.

Penamaan ini lebih memperhatikan kepada bentuk atau rupa dari perah tersebut, sedangkan ukiran yang menyertainya tidak terlalu dominan, ada ukiran yang berbeda pada nama perah yang sama. Pada sarangka bedog, ada bagian yang dinamakan simeut meuting, yaitu sebentuk kayu yang diberi lubang yang sengaja ditempelkan pada sarangka disimpan di sebelah atas disalah satu sisinya. Tujuannya sebagai alat penahan tali yang diikatkan ke pinggang pemilik (Sunda : disoren). Nama simeut meuting diantaranya eluk paku tungtung, daun lake, papatong eunteup, huntu kala, simeut batu, cacag buah, godobos dan lainnya.

Begitu juga pada kujang, terdapat ragam hias pada gagang dan sarangka. Walaupun gagang dan sarangka merupakan asesoris tambahan yang bisa jadi dibuat kemudian. Ada anggapan pada sebagian pencinta kujang bahwa kujang sesungguhnya senjata yang telanjang, artinya tidak memerlukan gagang ataupun sarangka. Tetapi apabila menilik beberapa bilah kujang terutama pada bagian paksi (bagian untuk dimasukan kedalam gagang, istilah didalam keris Jawa adalah pesi) tentunya memperlihatkan bentuk untuk diberi gagang. Tidak mungkin kalau dipegang begitu saja, selain tidak nyaman untuk digenggam dan bisa jadi malah membuat luka pada telapak tangan (Anis Jatisunda, makalah, 2000). Bentuk gagang pada kujang hampir sama seperti bentuk gagang pada golok, walaupun lebih banyak dalam bentuk ukiran kepala harimau atau seolah seperti harimau yang utuh. Penggambaran pada sarangka lebih menggunakan teknik cukil, sedangkan pada gagang pada bagian eluk secara langsung merupakan kepala harimau. Pemilihan bentuk gagang yang berbentuk kepala harimau begitu juga pada sarangka nampaknya lebih didekatkan kepada mitos maung siliwangi, sepertinya ingin supaya lebih meyakinkan ada kesetaraan antara legenda maung pajajaran dan kujang sebagai senjata khas Sunda. Walaupun bentuk kujang yang diberi gagang tersebut cenderung kepada kujang ciung atau bentuk kujang lainnya. Malah diantara beberapa pecinta kujang bentuk gagang atau sarangka tidak menjadi ukuran akan nilai sebuah kujang, kadang-kadang hanya diberi gagang sekedarnya atau malah dibiarkan telanjang.

Kujang didalam bentuknya yang unik terdapat beberapa ornamen yang nampaknya baku setidaknya ditemukan diantaranya bentuk bulat atau setengah bulat dan runcing mengarah ke segitiga, terutama pada bagian tonggong (punggung) yang bergerigi. Bentuk bulat pertama terdapat pada lubang, jumlah bulat berupa lubang ini bisa berbeda pada setiap kujang. Fungsi praktis dari dibuatnya lubang ini tidak diketahui secara pasti, ada yang mengatakan bahwa lubang ini pada awalnya adalah tempat hiasan mas yang bermatakan intan. Semakin banyak lubang pada sebuah kujang menandakan semakin tinggi kedudukan pemilik kujang.

Dibagian punggung yang bergerigi terdapat bentuk setengah bulat dan runcing mengarah ke segitiga, fungsi praktis dari bentuk ini untuk memberi tanda dengan mengerat atau seperti menggergaji. Memang tidak semua kujang pada bagian punggung bergerigi tidak berbentuk runcing mengarah ke segitiga, ada yang hanya berbentuk setengah bulat dan tajam. Mungkin saja disini terdapat arti lain sebagai arti simbolis.

Terdapat beberapa nama bentuk kujang diantaranya kujang ciung, kujang jago, kujang bangkong, kujang badak, kujang daun dan sebagainya. Nampaknya pemberian nama ini lebih mengacu kepada bentuk metamorposis dari bentuk alam terutama binatang yang diamati. Seperti nama kujang jago, jago disini lebih mengarah ke bentuk sebagai ayam jago yang sedang tengadah, rubahan rupa dari gambar ayam jago sedang tengadah secara dua dimensi menjadi bentuk kujang. Bagian yang runcing adalah patuk, bagian bergerigi adalah jengger dan lainnya. Begitu juga kujang ciung diambil nama dari burung ciung. Ragam hias dalam bentuk lain salain pamor dapat ditemukan yang berpola geometris baik didalam badan kujang ataupun di gagangnya seperti pola segiempat, bulat, segitiga, dan malah ada yang berbentuk kaligrafi huruf Arab.

Nama-nama pakarang di Sunda bukan hanya bedog (golok) dan kujang, tetapi masih banyak yang lain. Nama pakarang tersebut selain yang ada di SSK ada juga seperti sekin, condre dan badi.

Ragam hias pada benda wawadah, amparan ataupun kain tentunya masih banyak dan perlu pengamatan tersendiri. Dari daerah Ciamis terdapat ragam hias pada sebuah jubleg, walaupun jugleg itu tidak terlelu tua diperkirakan dibuat pada tahun 1930-1940.

Menurut beberapa sumber keterampilan anyaman masuk ke Indonesia sejak beberapa ribu tahun lalu, ketika migrasi besar-besaran penduduk dari dataran Asia Tengah menuju ke Nusantara ini. Ternyata keterampilan itu terus berlanjut hingga sekarang, salah satu tempat yang dianggap menjadi sentra anyam-anyaman adalah di Rajapolah di Tasikmalaya. Dari anyam-anyaman apabila membentuk pola tersendiri sehingga nampak hiasan tentunya berbentuk geometris, bisa juga disebut sebagai ornamen atau ragam hias.Entah itu dari bahan bambu ataupun dari bahan daun pandan. Bendanya bisa berbentuk wawadahan seperti besek, pipiti, kameuti, tolombong, boboko atau tikar.

MAMAT SASMITA

Penggiat Rumah Baca Buku Sunda

Dimuat di Pikiran Rakyat (Teropong) Senin 14 April 2008

CONTENT PROVIDER DAN BUDAYA LOKAL

Oleh : MAMAT SASMITA

Ketika pesawat telepon semakin canggih dengan ditandai oleh munculnya handphone (baca : hape), fungsi pesawat telepon tersebut bukan hanya untuk berbicara, tetapi juga untuk mengirim teks seperti short message services (SMS) dan data.

Saat sekarang diawal tahun 2008 ini menurut beberap sumber jumlah pelangga selular (pelanggan yang menggunakan hape) diperkirakan sekitar delapan puluh juta, malah diakhir tahun 2008 ada prediksi akan mencapai sembilan puluh juta pelanggan. Suatu hal yang sangat menarik dalam ceruk bisnis komunikasi, dari jumlah pelanggan tersebut diperkirakan sepuluh persennya adalah pelanggan 3G (baca triji).

Layanan 3G merupakan pengembangan dari GPRS (General Packet Radio Services, biasa juga disebut 2,5G) yang sudah lama ada di Indonesia yang terkenal dengan pengiriman data berupa multimedia message services (MMS).

Tentunya layanan 3G harus ada lebihnya dibanding GPRS, salah satu layanan yang menjadi andalan adalah layanan video call, yaitu penelepon bisa saling tatap muka dengan lawan bicaranya melalui layar hape yang digenggamnya. Layanan video call ini bukan hanya untuk jual tampang di layar hape, tetapi juga bisa dipergunakan untuk tujuan lain. Seperti e-learning atau malah bisa dipergunakan untuk berkonsultasi dengan dokter, atau bisa juga melihat-lihat rumah yang bakal dijual umpamanya.

Selain video call masih ada layanan lain seperti audio dan video streaming, layanan ini dianggap efektip karena tidak perlu mengunduh (download) file tersebut tetapi langsung bisa melihat dilayar hape, entah itu live ataupun rekaman (video on demand).

Untuk mendapatkan layanan tersebut biasanya ada kerjasama antara technology provider dengan content provider. Technology provider (TP) adalah perusahaan yang bergerak dibidang jasa telekomunikasi seperti PT.Telkom, Telkomsel dan lainnya. Sedangkan Content Provider (CP) adalah perusahaan yang menyediakan isi layanan atau konten, berupa video call atau audio streaming dan video streaming seperti yang disebutkan diatas tadi.

Sebenarnya CP tidak hanya memberikan layanan untuk 3G, tetapi bisa juga untuk layanan SMS. Saat sekarang marak dalam iklan baik di televisi maupun di media cetak, misalnya untuk games, berita dan i-ring (ring backtones). Contohnya kita sering diminta mengirim SMS ke nomor 123xxx denga mengetik REG(spasi)NAMA atau yang lainnya, sampai-sampai meramalpun menjadi salah satu produk CP.

Nampaknya belum satupun CP yang melirik ke konten budaya lokal. Peristiwa budaya yang hampir setiap tahun terjadi dan berkesinambungan di daerah Jawa Barat seperti acara Nyangku di Panjalu, acara Seren Taun di Cigugur Kuningan, acara Seba di Kabuyutan Ciburuy Garut bisa direkam untuk dijadikan video streaming sebagai bahan pengetahuan sekaligus tontonan budaya. Termasuk jenis-jenis kesenian seperti kuda renggong, sisingaan, bebegig Sukamantri, calung, reog Sunda dan lain lain.

Begitupun untuk hal-hal yang lebih sederhana, seperti pengiriman SMS untuk bertanya misalnya tentang paribasa Sunda, kirim SMS ke nomor 123xxx dengan mengetik PARIBASA(spasi)A, artinya meminta peribahasa Sunda yang dimulai dengan huruf A, lantas CP mengirim 5 buah peribahasa tersebut.

Memang untuk memasukan budaya lokal sebagai program CP bukan perkara mudah setidaknya harus melalui survey terlebih dahulu untuk mengetahui animo masyarakat, itu apabila benar-benar akan diperhitungkan sebagai bisnis murni. Mati hidupnya sebuah perusahaan CP tergantung dari program yang ditawarkan. Apabila mendapat sambutan dari masyarakat dengan baik, artinya sering diakses, semakin hidup CP tersebut dan yang penting lagi pembagian pendapat antara CP dan TP, jangan hanya menguntungkan TP tanpa melihat program yang ditawarkan. Saat sekarang pembagian pendapat masih lebih besar untuk TP yaitu sekitar sebesar enam puluh persen. Apabila program yang ditawarkan mengandung misi pendidikan dan pelestarian budaya sebaiknya ada peninjauan ulang pembagian hasil tersebut, jangan disamakan dengan program ramal-meramal atau kuiz yang justru membebalkan masyarakat. Benar yang merajai saat sekarang adalah program i-ring atau ring backtones bukan saja hasil karya pemusik asing tetapi juga hasil karya pemusik nasional termasuk pemusik lokal tradisional.

Hal lain yang mesti diingat adalah layanan 3G tanpa konten tiada bedanya dengan kolam tanpa ikan. Begitu juga apabila konten lebih berorientasi ke asing tanpa melirik ke konten lokal sama juga dengan kacang yang lupa pada kulitnya. Pengusaha CP ada juga dari pemodal asing yang tentu saja tidak pernah kenal akan budaya lokal, disini peran regulator (pemerintah) dan IMOCA (Indonesia Mobile & Online Content Association) bisa memberikan pengarahan akan makna budaya lokal.

Untuk membuat konten berbasis budaya lokal akan memerlukan keterlibatan beberapa profesi yang handal seperti fotografer, desainer grafis, cameraman termasuk seniman, budayawan, sejarawan. Itulah kerja kreatif dan sekaligus memberikan sumber penghidupan kepada banyak pihak yang pada dasarnya merupakan bagian dari industri kreatif dan jangan dilupakan dari unsur hak kekayaan intelektual supaya tidak terjadi pembajakan hasil produksi.

Kini banyak pihak yang mengatakan bahwa generasi muda sepertinya sedang meninggalkan budaya daerahnya, walaupun asumsi itu patut dipertanyakan kebenarannya. Tetapi anggap saja asumsi itu benar, barangkali cara pendekatannya untuk kembali meraih simpati para generasi muda adalah dengan mendekatkan penggiat budaya atau kegiatan budaya melalui teknologi yang lekat dengan generasi muda tersebut. Teknologi yang lekat pada generasi muda dan malah dianggap trendy bila memakainya tiada lain handphone dan komputer.

Keterlibatan pemerintah daerah dalam hal ini Disbudpar bisa tingkat propinsi, kotamadya atau kabupaten sangat diperlukan terutama untuk pendekatan kepada TP dan tentunya yang mempunyai alokasi dana dari uang rakyat melalui pajak. Pendekatan kepada TP supaya hal ini tidak melulu dipandang sebagai bisnis yang selalu berdasarkan perhitungan untung rugi secara finansial. Tetapi ini adalah pendidikan, ini adalah pelestarian budaya yang tidak dapat dihitung untung rugi secara finansial. Dalam hal keterlibatan Dispbudpar bisa saja sekaligus membuat CP yang bisa diakses oleh semua pelanggan TP, atau mengadakan kerjasama dengan CP yang telah ada.

Sekarang saatnya untuk memasuki ranah itu, jangan sampai terlambat. Kalau terlambat para kreator asing akan segera masuk dan mengeksplorasi semua kekayaan budaya lokal, dan kita hanya akan menjadi penonton budaya sendiri di negri sendiri. Tren ke depan content is the king, rebutan kue bisnis selular akan ditentukan oleh keberagaman konten, TP tanpa melibatkan CP yang handal akan menjadi garing dan ditinggalkan oleh pelanggannya.

Satu hal lagi yang harus menjadi perhatian yaitu layanan 3G menawarkan akses data kecepatan tinggi, maka mobile internet merupakan salah satu konten yang mempunyai daya tarik lainnya.

Untuk itu membuat portal budaya (Sunda) di internet nampaknya sudah menjadi keharusan, yang memuat Sunda Sapuratina (all about Sunda), sekali lagi karena ini merupakan kekayaan budaya Sunda, siapa lagi kalau bukan oleh Urang Sunda sendiri melalui Disbudpar Jawa Barat. Semoga.

MAMAT SASMITA

Pensiunan Telkom, penggiat Rumah Baca Buku Sunda.

Setelah melalui editing oleh Redaksi dimuat di Kompas Jabar Kamis 24 April 2008