16 December 2007

WASTU DAN BUKU BACAAN ANAK-ANAK SUNDA.

Oleh : MAMAT SASMITA

Hadiah Sastra Samsudi untuk tahun 2007 nampaknya tidak ada, hal ini karena buku bahasa Sunda untuk anak-anak tidak ada yang layak untuk mendapat hadiah yang terbit pada tahun 2006 (Buku Rancage 2007). Sedangkan hadiah Samsudi untuk tahun 2006 dengan menilai buku bacaan anak-anak berbahasa Sunda yang terbit tahun 2005 didapatkan oleh Darpan A Winangun dan kawan-kawan dengan judul bukunya Dongeng-dongeng ti Karawang.
Hadiah Samsudi merupakan hadiah tahunan yang digagas oleh Yayasan Rancage, pemberian hadiahnya selalu bersamaan dengan pelaksanaan pemberian hadiah Sastra Rancage.
Samsudi adalah pengarang yang nampaknya lebih banyak membuat karya bacaan untuk anak-anak dengan berbahasa Sunda. Karya-karyannya diantaranya Carita Budak Teuneung (Anak Pemberani,1930), Carita Budak Minggat (Caerita Anak Minggat, 1930), Carita Si Dirun (Kisah Si Dirun, 1930), Jatining Sobat (Sahabat Sejati, 1931), Babalik Pikir (Insyaf, 1931).
Buku bacaan anak-anak berbahasa Sunda tentu saja tidak melupakan bacaan yang sengaja diterbitkan untuk bacaan anak sekolah rakyat pada jaman kolonial, semacam Rusdi Jeung Misnem (ada anggapan buku ini terbit pertama kali tahun 1911 yang hanya diberi judul Bacaan Pikeun Barudak Sakola Rayat), Panggelar Budi, Gandasari dan yang lainnya. Rusdi jeung Misnem pada dasarnya menceritakan kehidupan seorang anak bernama Rusdi, laki-laki, dan mempunyai adik perempuan bernama Misnem. Ceritanya seputar dirinya dan seputar kampung dimana dia tinggal, dan yang paling utama adalah memberi semangat supaya anak-anak sebaya dia mau bersekolah untuk menuntut ilmu, hal ini selain digambarkan oleh kakaknya Rusdi yang bernama Ramlan yang sedang sekolah di Bandung juga digambarkan bagaimana pintar dan semangatnya Rusdi menuntut ilmu, sampai Rusdi bisa sekolah di Bandung.
Buku Gandasari juga demikian tidak terlalu jauh berbeda dengan Rusdi Jeung Misnem, hanya pada buku Gandasari penggunaan bahasa Sunda sudah demikian berbeda dengan Rusdi jeung Misnem, dimana bahasa yang dipakai sarat dengan undak usuk bahasa Sunda dan berkesan itulah bahasa Sunda lulugu. Buku Rusdi jeung Misnem untuk sementara orang menganggap bahasanya kasar, seolah-olah tidak cocok digunakan oleh anak-anak, walaupun demikian Ajip Rosidi menganggap buku Rusdi jeung Misnem adalah buku paling baik, karena secara jujur menggambarkan kehidupan anak-anak apa adanya pada jaman itu (Dur Panjak 1957). Hal bahasa yang digunakan dianggap kasar karena itu adalah bahasa sub kultur yang dipakai, maksudnya bahasa anak-anak yang dipakai dengan anak-anak lagi. Misalnya obrolan antara Rusdi dengan temannya atau dengan adiknya, memang bahasa yang digunakan adalah kasar tetapi pada saat berbicara kepada gurunya atau kepada yang dianggap lebih tua, bahasanya menjadi halus.
Buku bacaan anak-anak berbahasa Sunda adalah buku yang secara sengaja dibuat untuk dibaca dan pantas dibaca oleh anak-anak dengan menggunakan bahasa Sunda. Bisa saja dibuat atau hasil karya orang dewasa atau bisa juga sebagai karya anak-anak sendiri. Buku semacam ini sempat terbit cukup banyak terutama pada tahun dasawarsa delapanpuluhan dan sembilanpuluhan. Begitu juga para pengarangnya cukup banyak.
Hanya jalan cerita lebih banyak seputar lemburnya, seputar daerah tempat anak-anak bertempat tinggal. Kalau boleh meminjam istilah batur sakasur (serumah) batur sasumur (tetangga) dan batur salembur .Hampir tidak ada yang visinya lebih mengglobal, katakanlah tidak seperti komik Jepang Kapten Tsubasha, main bola dengan kesebelasan anak-anak dari negara lain, malah cita-cita si pembuat komik seolah-olah memberi semangat kepada kesebelasan negaranya supaya bisa berkiprah didalam Piala Dunia. Kalaupun ada bermain sepakbola pada cerita anak-anak Sunda paling juga antar kampung. Atau apabila kita membaca lagi tetap seputar dongeng seperti sakadang peucang atau sakadang monyet jeung kuya ngala cabe.

Didalam cerita anak-anak Sunda hampir tidak ada tokoh yang diidolakan, tidak ada hero dalam cerita anak-anak Sunda, yang bisa dijadikan pahlawan dalam imajinasi keseharian seorang anak. Ketika hal ini mengemuka, selalu timbul keprihatinan dengan seraya menyalahkan perubahan jaman. Keajegan cerita anak yang digagas oleh para pengarang jaman dulu hampir diam ditempat, tidak ada perubahan.
Begitu juga ketika mencoba menyimpan berdampingan dua buah buku sebutlah buku bacaan anak berbahasa Sunda yang bercerita tentang sebuah misteri dengan sebuah buku cerita misteri dari karya Hitomi Akino yang telah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia diantaranya berjudul Double Murder, Dark Forest Mystery (Elex 2004). Dengan melihat sepintas ilustrasi cover buku dan ukuran buku, nampaknya buku Sunda kalah pamor. Mungkin dari segi cerita tidak kalah serunya, tetapi itulah hanya dengan melihat desain cover saja buku bacaan anak-anak berbahasa Sunda sudah bertekuk lutut bila dibanding dengan bacaan sejenis dalam bahasa Indonesia.

Menurut Irfan Amalee, anak muda yang bergelut di dunia animasi untuk anak, peserta KDKBK, gambaran komik pada tahun dasawarsa enampuluhan, contohnya cerita wayang karya RA Kosasih atau Ardisoma, pada masanya cukup digemari. Tetapi ketika disodorkan kepada anak-anak jaman sekarang, hal itu sudah tidak laku lagi, walaupun telah dikemas berbentuk buku yang lebih luks.
Ternyata ada persepsi yang berbeda antara generasi tua dengan generasi muda tentang sebuah bacaan anak-anak semacam buku komik, tentang selera sebuah bacaan anak-anak jaman sekarang dengan masa lalu. Jurang pemisah (gap) ini terasa sulit untuk dijembatani, setidaknya harus ada kompromi antara generasi masa lalu dan generasi sekarang. Kompromi ini diperlukan dimana generasi masa lalu harus mempercayai kreatifitas generasi muda, begitu juga generasi muda sekarang dengan kepercayaan yang diembannya harus menampilkan kreasinya yang bisa dimaklumi semua kalangan dengan tetap inti ajaran moral etika Sunda tidak dilanggar.

Melalui perbincangan santai, KDKBK (Kelompok Diskusi Kota Bandung Kidul) mencoba menawarkan Wastu untuk dijadikan tokoh didalam cerita anak-anak Sunda. KDKBK sebuah kelompok diskusi kecil yang digagas beberapa orang yang tertarik akan budaya Sunda yang masing-masing pesertanya bertempat tinggal di sekitar Bandung Kidul, minimal mengadakan pertemuan sebulan sekali dengan tempat secara bergilir. Wastu bukan saja ditawarkan untuk menjadi tokoh cerita anak, tetapi juga diharapkan menjadi local hero, menjadi pahlawan bagi anak anak Sunda. Menurut Iip D Yahya pengamat kebudayaan Sunda, salah seorang peserta KDKBK, kalau mau dicari-cari kemiripannya barangkali tokoh Wastu tidak jauh beda dengan Avatar, The Legend of Aang.

Wastu adalah kata dan sekaligus nama yang dianggap mudah diingat oleh anak-anak, mudah diucapkan oleh anak-anak yang baru belajar bicara sekalipun. Kata Wastu mengandung arti hal, keadaan, perkara, restu, berhak dinobatkan (Kamus Bahasa Naskah dan Prasasti Sunda, Elis Suryani dkk, 2001), ada juga yang menganggap wastu artinya watu (batu) yang diperluas maknanya menjadi senjata, malah Romo Mangunwijaya mengartikan wastu sebagai bangunan atau arsitektur. Wastu yang digagas oleh KDKBK adalah kependekan Wastukancana, putra dari Linggabuana sang raja Sunda. Kehidupan masa kecil Wastu seperti yang dapat dibaca pada buku Sejarah Jawa Barat (Yoseph Iskandar, Geger Sunten 1997), pada usia sembilan tahun sudah ditinggal oleh ayah dan kakaknya Diyah Pitaloka yang meninggal akibat tragedi Bubat. Dinobatkan menjadi raja Sunda pada usia dua puluh tiga tahun. Selama dalam asuhan pamannya, Bunisora, antara usia sembilan tahun sampai dengan saat sebelum dinobatkan menjadi raja, itulah kesempatan untuk menggali kreativitas latar cerita yang diangkat menjadi local hero.
Pengalaman apa saja yang didapat selama dipersiapkan menjadi raja, gemblengan apa saja yang didapat dari pamannya Bunisora Suradipati, termasuk sikap hidupnya yang dapat mengelola dendam akibat peristiwa Bubat menjadi sikap bijaksana, menjadi hade gawe untuk kesejahteraan masyarakat Sunda. Hal ini tercermin setelah dinobatkan menjadi raja dan memegang tampuk kekuasaan selama seratus empat tahun. Secara hiperbolis tentang masa pemerintahan Prabu Niskala Wastukancana, naskah berbahasa Sunda kuno Carita Parahyangan menyebutkan “Jangankan manusia, bahkan apah (air), teja (cahaya), bayu (angin), akasa (langit) dan bu (eter) pun merasa betah (nyaman) berada di bawah kekuasaannya”. Kehidupan masa kecil Wastu tentu sangat menarik untuk ditrasformasikan ke keadaan sekarang, terutama dalam hal kedisiplinan, kesungguhan belajar, kejujuran dan ketangguhannya. Visualisasi tokoh Wastu untuk raut wajah dan dedeganana tidak terlalu sulit, wajah anak yang kasep (tampan) dengan paroman Sunda itu sudah cukup, hanya pada saat masuk ke asesoris, seperti baju, hiasan kepala atau hiasan lainnya disitulah mulai timbul kesulitan. Kata Dian Hendrayana, sastrawan Sunda sekaligus peserta KDKBK mengatakan cerita yang sudah ditulis sejumlah orang tentang Wastu, akan sangat membantu kita untuk merekonstruksi kehidupan Wastu muda. Memang akan ada kendala pada detil asesoris yang digunakan saat itu, tapi mungkin di situlah ruang kreasi buat kita.
Itulah Wastu, adakah yang lain yang ingin urun rembug ?.



MAMAT SASMITA
Penggiat Rumah Baca Buku Sunda, peserta KDKBK.

2 comments:

noe2n said...

Sae pisan ide,pamaksadan KDKBK, leres tos waktosna dingawitan nampilkeun tokoh sunda kanggo barudak urang,mudah mudahan baris janten idola sadayana.Sok prihatin ari ngalangkung ka Cihampelas, sajajalan nu rapang di tiap toko teh gambar batman, spiderman, ultraman, robinhood sste. Ari gambar tokoh sunda na mana ? Padahal pan ieu teh di Bandung, sanes dilemburna spiderman, batman... Der ah, percanten ka urang Bandung kidul kanggo naratas kantenan hebat pisan pami diantawis gambar spiderman, batman sste aya gambar antik, gambarna cep wastu tea. Kaci pan eta gambar teh dipasang diluhureun FO anu husus ngical barang pernak pernik has sunda, buku bacaan anu nyunda. Suer ngiring ngadukung

RUMAH BACA BUKU SUNDA said...

Hatur nuhun komentarna, ahir sasih Des 07, KDKBK bade ngawangkong deui, saur nu ngagarap animasina, Wastu nuju dipisieup karakter-na.
Nuhun Pisan kana pangrojongna.