05 June 2007

HASIL WAWANCARA 7

Cinta Bahasa Sunda Lewat Dongeng

INGAT dongeng sebelum tidur yang pernah dibacakan orang tua kita saat kita kecil dahulu? Dan, bagaimana pengaruh dongeng itu terhadap jalan hidup kita? Mungkin tidak semua orang jalan hidupnya terpengaruh dongeng.

Namun, bagi Mamat Sasmita (55), sebuah dongeng di masa kecil, berperan besar dalam kisahnya hidupnya. Melalui dongeng, pensiunan PT Telkom itu sangat perhatian terhadap bahasa Sunda, dan semua yang terkait dengan budaya Sunda.

”Dongeng yang pertama kali saya dengar dari bapak saya ialah wawacan ‘Purnama Alam’. Di dalamnya ada pupuh. Bahasanya indah, saya sangat terkesan,” tutur Mamat, ketika ditemui ”PR” di kios bukunya di Pasar Cihaurgeulis, pekan lalu. Kini, koleksi buku berbahasa Sunda dan segala hal terkait kesundaan yang dimiliki Mamat mencapai lebih 4.000 buku, dari berbagai bahasa, mulai bahasa Sunda, Indonesia, Inggris, hingga Belanda.

Salah satu koleksi buku tertua soal Sunda yang Mamat miliki ialah Kamus Bahasa Sunda-Inggris cetakan tahun 1862. Buku itu karya seorang juragan teh asal Inggris, Jonathan Rigg, yang kala itu bermukim di Bogor. Kamus yang sangat langka itu diperolehnya di sebuah kios buku di Pasar Cihaurgeulis, tak jauh dari kiosnya sekarang. Ia yakin kamus 400 halaman itu, merupakan kamus pertama bahasa Sunda. ”Kamus Sunda-Melayu saja baru ada dekade 1940-an,” ucapnya.

Dongeng dan seni

Dari buku-buku koleksinya itulah, rasa cintanya terhadap bahasa Sunda dan kesundaan, kian tebal. Rasa cinta itulah yang berusaha ia tebar ke berbagai kalangan. Salah satunya dengan membuka taman bacaan di rumahnya, Jln. Margawangi. ”Semua koleksi buku saya bisa dibaca di sana. Dipinjam juga boleh. Semuanya gratis,” kata Mamat.

Diakuinya, sangat sedikit orang yang datang ke taman bacaannya. ”Belum tentu tiap hari ada pengunjung. Mereka yang datang biasanya untuk menyelesaikan tugas dari guru atau dosennya,” ucapnya.

Kurangnya minat terhadap bacaan Sunda, khususnya dari kawula muda, disebabkan adanya kesalahan dalam sistem pengajaran bahasa Sunda di sekolah-sekolah. ”Selama ini, yang diajarkan di sekolah ialah ilmu bahasa Sunda. Karenanya, para murid tidak suka. Jadi cukup asal lulus saja,” katanya.

Ia menganjurkan, mempelajari bahasa Sunda dimulai dari bercerita. ”Ya seperti mendongeng atau lainnya. Murid tidak perlu pakai bahasa Sunda yang halus dulu. Biar mereka mengeksplorasi dirinya. Dengan begitu, akan muncul rasa ketertarikan. Setelah itu, baru diarahkan dengan memakai bahasa Sunda yang baik dan benar,” kata pria beranak satu ini.

Selain dari dongeng, rasa ketertarikan bisa dibuka dari seni. “Budaya Sunda kan punya banyak kesenian seperti angklung, tarling, dan lainnya. Coba dimulai dari sana, mungkin murid lebih tertarik terhadap kesundaan. Bukan sekadar ingin mendapat nilai bagus dan lulus,” ucapnya. (Satrya/”PR”)***

PR Jumat, 02 Juni 2006 ( http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/062006/02/0209.htm )

5 comments:

Mr. Sob Zerowaste said...

Leres kang, abdi ge sok sieun nyarios ku basa Sunda, sok di sengseurikeun. Punten we da abdi teh ti wilayah Galuh pangwetana pisan, ti Yogya. Maju terus rumah baca buku Sunda/ sobirin:
www.sobirin-xyz.blogspot.com
www.clearwaste.blogspot.com

sobirin said...

Maju terus kang, mari kita kembangkan bahasa Sunda. Jangan sampai mati di tatar sendiri.

Anonymous said...

Naha tiasa dipedar dina blog ieu nu kumaha wawacan "Purnama Alam" teh?
Abdi oge hoyong maca

RUMAH BACA BUKU SUNDA said...

Wawacan Purnama Alam, saur tukang kritik sastra mah wawacan anu pangsaena. Upami kedah dipedar didieu mah atuda bukuna ge kandel pisan.
Hatur nuhun kana komentarna

garila.com said...

rek kitu, rek kieu. sunda jeung basa na milik urang.
Hayu urang pupujukeun, tong sieun salah, bener mah pimanaeun. braL, urang nawaituan ngamumule basa sunda