24 December 2007

Museum Otista, Sebuah Mimpi

Oleh : MAMAT SASMITA

BUKU Max Havelaar yang ditulis Multatuli atau Eduard Douwes Dekker, menempati peringkat ketiga sebagai buku terbaik, hasil jajak pendapat pada Pekan Buku 2007, yang diselenggarakan di negeri Belanda. Hal ini menarik karena buku tersebut ditulis lebih dari 150 tahun yang lalu dan meyangkut negeri jajahan, yaitu Hindia Belanda, yang kemudian menjadi Indonesia. Buku ini berkisah tentang penguasa yang korup, baik yang kulit putih maupun yang cokelat.
Diketahui pula apa latar belakang di balik pertentangan antara Asisten Residen Lebak, Douwes Dekker dan atasannya, Residen Brest van Kempen dan Gubernur Jenderal Daymaer van Twist. Begitu juga gugatan Douwes Dekker terhadap Bupati Lebak Karta Nata Negara yang dituduhnya memeras dan menindas rakyat.
Ternyata, di Amsterdam Belanda, ada Museum Multatuli (http://www.multatuli-museum.nl), yang mengabadikan bermacam buku, brosur termasuk artikel dan foto, berkenaan dengan Multatuli. Artefak lainnya seperti kursi, lemari, dan benda lain yang pernah dipakai Multatuli, juga ada di dalamnya.
Di Bandung, seperti ditulis dalam situs pemerintahan kota Bandung (http://www.bandung.go.id), terdapat tujuh museum, yaitu Museum Konferensi Asia Afrika, Barli, Geologi, Mandala Wangsit Siliwangi, Pos Indonesia, Sribaduga, dan Zoologi. Bercermin kepada Museum Multatuli, tampaknya di Bandung juga perlu ada museum yang secara khusus menampilkan pikiran-pikiran, sikap, dan pendapat tokoh yang dianggap mewakili baik secara lokal maupun nasional. Ada banyak tokoh yang perlu dipertimbangkan, salah satunya adalah nama Oto Iskandar di Nata (Otista).
Akan tetapi, intinya bukan memilih nama tokoh, melainkan tempat untuk menampung dokumentasi secara keseluruhan dan utuh dari tokoh-tokoh tersebut. Tempat tersebut bisa disebut museum. Karena berbentuk museum, tujuan keberadaannya tidak lepas dari tujuan pendidikan. Merujuk kepada ICOM (International Council of Museeum/Organisasi Permuseuman Internasional di bawah Unesco), makna museum adalah "sebuah lembaga yang bersifat tetap, tidak mencari keuntungan, melayani masyarakat dan pengembangannya, terbuka untuk umum, yang memperoleh, merawat, menghubungkan, dan memamerkan, untuk tujuan-tujuan studi, pendidikan dan kesenangan, barang-barang pembuktian manusia dan lingkungannya".
Otista adalah seorang pahlawan nasional karena perjuangannya sebelum dan selama masa revolusi merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Keberaniannya saat berpidato di depan sidang Volksraad, kritikannya yang pedas dan suaranya yang lantang, membuatnya dijuluki Si Jalak Harupat, yaitu ayam jago yang keras dan tajam kalau menghantam lawan, kencang dalam berkokok dan selalu menang kalau diadu.
Otista pernah menjadi wakil ketua Boedi Oetomo Cabang Bandung, Ketua Paguyuban Pasundan (PP), anggota BPUPKI, PPKI, lalu Menteri Negara pada kabinet RI pertama, dan lain-lain. Saat menjadi ketua PP, organisasi ini mencapai zaman keemasan. Pekik "Indonesia Merdeka" yang selanjutnya menjadi pekik "Merdeka" adalah sumbangsih Otista yang lain dalam memperkokoh perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Pikiran-pikiran "kasundaan" yang dikedepankan Otista tidak diartikulasikan secara sempit sebagai etnosentris, tetapi untuk membangun keindonesiaan.
Oleh karena itu, apabila ada pemikiran untuk membuat Museum Otista, bukanlah hal yang berlebihan. Diyakini banyak dokumen menyangkut Otista yang masih berceceran. Mungkin masih tersimpan di tengah keluarga, perorangan, ataupun berbagai perpustakaan di dalam dan luar negeri. Dihimpunnya semua dokumen meliputi pikiran, pendapat, dan sikap Otista, akan lebih memudahkan terutama apabila ada yang berminat untuk meneliti. Di samping itu, Museum Otista bisa pula menampung dokumen mengenai pikiran, sikap, dan pendapat setiap tokoh lain yang ada di Jawa Barat.

Dukungan Kusnet

Memang, membuat sebuah museum bukanlah perkara mudah. Setidaknya, itulah pendapat dari beberapa orang, ketika gagasan ini dilemparkan melalui milis (mailing list) Urang Sunda (http://groups.yahoo.com/group/urangsunda) atau biasa disebut Kusnet (Komunitas Urang Sunda di Internet).
Ada yang mendukung, asal dipikirkan pula pemeliharaan dan upaya penambahan koleksi. Ada juga yang mengusulkan untuk memanfaatkan tempat yang sudah ada, seperti di salah satu ruang di Museum Perjuangan Rakyat Jawa Barat. Ada yang berpendapat agar museum dibangun tidak di pinggir kota yang akan sepi pengunjung, tetapi di tempat strategis sehingga bisa menjadi salah satu ikon Kota Bandung. Ada pula yang keberatan dengan gagasan itu karena mempertimbangkan sebagian besar warga belum menjadi masyarakat literasi dan koleksi terbanyak dari museum yang diimpikan itu akan berupa dokumen tertulis.
Menimbang hal ini, apabila dilihat secara kasat mata, museum tersebut belum tentu menarik sebagai objek visual. Walaupun demikian, ada juga yang bersikeras mengusulkan agar dibangun karena menganggap generasi muda Sunda sudah kehilangan idola. Dengan adanya museum Otista diharapkan dapat mencuatkan kembali sosok ideal yang pantas diteladani, setidaknya ada tempat untuk mendalami pemikiran dan ketokohannya.
Dari tempat yang khusus seperti inilah sosialisasi mengenai sang tokoh dapat dirancang secara lebih khusus pula. Misalnya dalam kegiatan "mimitran" Daya Mahasiswa Sunda (Damas), mengenal tokoh Sunda dapat dijadikan salah satu materi utama. Peserta dibebaskan memilih tokoh pilihannya, yang penting mereka secara utuh memahami seorang tokoh. Materi ini tidak akan sulit kalau museum yang dimaksud sudah tersedia. Dengan demikian, keberadaan museum ini juga akan ikut menempatkan tokoh seperti Otista secara lebih terhormat. Sebab, ada kekhawatiran karena masih banyak aspek hidup Otista yang "gelap", sosok ini juga akan dimitoskan, sebagaimana tokoh Sunda yang lain.
Sebagai moderator Kusnet, penulis menyimpulkan bahwa pada dasarnya banyak yang setuju jika dibangun sebuah museum untuk mengabadikan perjuangan Otista. Seperti pendapat salah seorang anggota Kusnet, setidaknya dengan adanya museum itu, jika mendengar nama Otista yang terbayang bukan lagi sebuah jalan macet dan semrawut penuh pedagang kaki lima, melainkan museum yang dibangun dengan konsep arsitektur Sunda. Sebuah bangunan yang akan menjadi ikon baru untuk warga kota kembang.
Memang, semua itu baru sebatas mimpi. Siapa yang paling berkewajiban membangun museum itu? Sudah barang tentu siapa saja yang merasa cinta kepada keluhuran Sunda. Yang jelas, Otista sudah banyak berjasa untuk Sunda, tumpukan dokumen tentang dirinya masih bisa ditemukan, minat pada kesundaan saat ini sedang meningkat, dan orang-orang Sunda yang berkecukupan secara ekonomi banyak jumlahnya. Apa sulitnya merealisasikan mimpi punya museum Otista? Semoga akan terwujud. ***


MAMAT SASMITA
Pegiat Rumah Baca Buku Sunda dan Moderator 2 Kusnet.
(Dimuat di PR Suplemen TEROPONG Senin 24 Desember 2007)

16 December 2007

WASTU DAN BUKU BACAAN ANAK-ANAK SUNDA.

Oleh : MAMAT SASMITA

Hadiah Sastra Samsudi untuk tahun 2007 nampaknya tidak ada, hal ini karena buku bahasa Sunda untuk anak-anak tidak ada yang layak untuk mendapat hadiah yang terbit pada tahun 2006 (Buku Rancage 2007). Sedangkan hadiah Samsudi untuk tahun 2006 dengan menilai buku bacaan anak-anak berbahasa Sunda yang terbit tahun 2005 didapatkan oleh Darpan A Winangun dan kawan-kawan dengan judul bukunya Dongeng-dongeng ti Karawang.
Hadiah Samsudi merupakan hadiah tahunan yang digagas oleh Yayasan Rancage, pemberian hadiahnya selalu bersamaan dengan pelaksanaan pemberian hadiah Sastra Rancage.
Samsudi adalah pengarang yang nampaknya lebih banyak membuat karya bacaan untuk anak-anak dengan berbahasa Sunda. Karya-karyannya diantaranya Carita Budak Teuneung (Anak Pemberani,1930), Carita Budak Minggat (Caerita Anak Minggat, 1930), Carita Si Dirun (Kisah Si Dirun, 1930), Jatining Sobat (Sahabat Sejati, 1931), Babalik Pikir (Insyaf, 1931).
Buku bacaan anak-anak berbahasa Sunda tentu saja tidak melupakan bacaan yang sengaja diterbitkan untuk bacaan anak sekolah rakyat pada jaman kolonial, semacam Rusdi Jeung Misnem (ada anggapan buku ini terbit pertama kali tahun 1911 yang hanya diberi judul Bacaan Pikeun Barudak Sakola Rayat), Panggelar Budi, Gandasari dan yang lainnya. Rusdi jeung Misnem pada dasarnya menceritakan kehidupan seorang anak bernama Rusdi, laki-laki, dan mempunyai adik perempuan bernama Misnem. Ceritanya seputar dirinya dan seputar kampung dimana dia tinggal, dan yang paling utama adalah memberi semangat supaya anak-anak sebaya dia mau bersekolah untuk menuntut ilmu, hal ini selain digambarkan oleh kakaknya Rusdi yang bernama Ramlan yang sedang sekolah di Bandung juga digambarkan bagaimana pintar dan semangatnya Rusdi menuntut ilmu, sampai Rusdi bisa sekolah di Bandung.
Buku Gandasari juga demikian tidak terlalu jauh berbeda dengan Rusdi Jeung Misnem, hanya pada buku Gandasari penggunaan bahasa Sunda sudah demikian berbeda dengan Rusdi jeung Misnem, dimana bahasa yang dipakai sarat dengan undak usuk bahasa Sunda dan berkesan itulah bahasa Sunda lulugu. Buku Rusdi jeung Misnem untuk sementara orang menganggap bahasanya kasar, seolah-olah tidak cocok digunakan oleh anak-anak, walaupun demikian Ajip Rosidi menganggap buku Rusdi jeung Misnem adalah buku paling baik, karena secara jujur menggambarkan kehidupan anak-anak apa adanya pada jaman itu (Dur Panjak 1957). Hal bahasa yang digunakan dianggap kasar karena itu adalah bahasa sub kultur yang dipakai, maksudnya bahasa anak-anak yang dipakai dengan anak-anak lagi. Misalnya obrolan antara Rusdi dengan temannya atau dengan adiknya, memang bahasa yang digunakan adalah kasar tetapi pada saat berbicara kepada gurunya atau kepada yang dianggap lebih tua, bahasanya menjadi halus.
Buku bacaan anak-anak berbahasa Sunda adalah buku yang secara sengaja dibuat untuk dibaca dan pantas dibaca oleh anak-anak dengan menggunakan bahasa Sunda. Bisa saja dibuat atau hasil karya orang dewasa atau bisa juga sebagai karya anak-anak sendiri. Buku semacam ini sempat terbit cukup banyak terutama pada tahun dasawarsa delapanpuluhan dan sembilanpuluhan. Begitu juga para pengarangnya cukup banyak.
Hanya jalan cerita lebih banyak seputar lemburnya, seputar daerah tempat anak-anak bertempat tinggal. Kalau boleh meminjam istilah batur sakasur (serumah) batur sasumur (tetangga) dan batur salembur .Hampir tidak ada yang visinya lebih mengglobal, katakanlah tidak seperti komik Jepang Kapten Tsubasha, main bola dengan kesebelasan anak-anak dari negara lain, malah cita-cita si pembuat komik seolah-olah memberi semangat kepada kesebelasan negaranya supaya bisa berkiprah didalam Piala Dunia. Kalaupun ada bermain sepakbola pada cerita anak-anak Sunda paling juga antar kampung. Atau apabila kita membaca lagi tetap seputar dongeng seperti sakadang peucang atau sakadang monyet jeung kuya ngala cabe.

Didalam cerita anak-anak Sunda hampir tidak ada tokoh yang diidolakan, tidak ada hero dalam cerita anak-anak Sunda, yang bisa dijadikan pahlawan dalam imajinasi keseharian seorang anak. Ketika hal ini mengemuka, selalu timbul keprihatinan dengan seraya menyalahkan perubahan jaman. Keajegan cerita anak yang digagas oleh para pengarang jaman dulu hampir diam ditempat, tidak ada perubahan.
Begitu juga ketika mencoba menyimpan berdampingan dua buah buku sebutlah buku bacaan anak berbahasa Sunda yang bercerita tentang sebuah misteri dengan sebuah buku cerita misteri dari karya Hitomi Akino yang telah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia diantaranya berjudul Double Murder, Dark Forest Mystery (Elex 2004). Dengan melihat sepintas ilustrasi cover buku dan ukuran buku, nampaknya buku Sunda kalah pamor. Mungkin dari segi cerita tidak kalah serunya, tetapi itulah hanya dengan melihat desain cover saja buku bacaan anak-anak berbahasa Sunda sudah bertekuk lutut bila dibanding dengan bacaan sejenis dalam bahasa Indonesia.

Menurut Irfan Amalee, anak muda yang bergelut di dunia animasi untuk anak, peserta KDKBK, gambaran komik pada tahun dasawarsa enampuluhan, contohnya cerita wayang karya RA Kosasih atau Ardisoma, pada masanya cukup digemari. Tetapi ketika disodorkan kepada anak-anak jaman sekarang, hal itu sudah tidak laku lagi, walaupun telah dikemas berbentuk buku yang lebih luks.
Ternyata ada persepsi yang berbeda antara generasi tua dengan generasi muda tentang sebuah bacaan anak-anak semacam buku komik, tentang selera sebuah bacaan anak-anak jaman sekarang dengan masa lalu. Jurang pemisah (gap) ini terasa sulit untuk dijembatani, setidaknya harus ada kompromi antara generasi masa lalu dan generasi sekarang. Kompromi ini diperlukan dimana generasi masa lalu harus mempercayai kreatifitas generasi muda, begitu juga generasi muda sekarang dengan kepercayaan yang diembannya harus menampilkan kreasinya yang bisa dimaklumi semua kalangan dengan tetap inti ajaran moral etika Sunda tidak dilanggar.

Melalui perbincangan santai, KDKBK (Kelompok Diskusi Kota Bandung Kidul) mencoba menawarkan Wastu untuk dijadikan tokoh didalam cerita anak-anak Sunda. KDKBK sebuah kelompok diskusi kecil yang digagas beberapa orang yang tertarik akan budaya Sunda yang masing-masing pesertanya bertempat tinggal di sekitar Bandung Kidul, minimal mengadakan pertemuan sebulan sekali dengan tempat secara bergilir. Wastu bukan saja ditawarkan untuk menjadi tokoh cerita anak, tetapi juga diharapkan menjadi local hero, menjadi pahlawan bagi anak anak Sunda. Menurut Iip D Yahya pengamat kebudayaan Sunda, salah seorang peserta KDKBK, kalau mau dicari-cari kemiripannya barangkali tokoh Wastu tidak jauh beda dengan Avatar, The Legend of Aang.

Wastu adalah kata dan sekaligus nama yang dianggap mudah diingat oleh anak-anak, mudah diucapkan oleh anak-anak yang baru belajar bicara sekalipun. Kata Wastu mengandung arti hal, keadaan, perkara, restu, berhak dinobatkan (Kamus Bahasa Naskah dan Prasasti Sunda, Elis Suryani dkk, 2001), ada juga yang menganggap wastu artinya watu (batu) yang diperluas maknanya menjadi senjata, malah Romo Mangunwijaya mengartikan wastu sebagai bangunan atau arsitektur. Wastu yang digagas oleh KDKBK adalah kependekan Wastukancana, putra dari Linggabuana sang raja Sunda. Kehidupan masa kecil Wastu seperti yang dapat dibaca pada buku Sejarah Jawa Barat (Yoseph Iskandar, Geger Sunten 1997), pada usia sembilan tahun sudah ditinggal oleh ayah dan kakaknya Diyah Pitaloka yang meninggal akibat tragedi Bubat. Dinobatkan menjadi raja Sunda pada usia dua puluh tiga tahun. Selama dalam asuhan pamannya, Bunisora, antara usia sembilan tahun sampai dengan saat sebelum dinobatkan menjadi raja, itulah kesempatan untuk menggali kreativitas latar cerita yang diangkat menjadi local hero.
Pengalaman apa saja yang didapat selama dipersiapkan menjadi raja, gemblengan apa saja yang didapat dari pamannya Bunisora Suradipati, termasuk sikap hidupnya yang dapat mengelola dendam akibat peristiwa Bubat menjadi sikap bijaksana, menjadi hade gawe untuk kesejahteraan masyarakat Sunda. Hal ini tercermin setelah dinobatkan menjadi raja dan memegang tampuk kekuasaan selama seratus empat tahun. Secara hiperbolis tentang masa pemerintahan Prabu Niskala Wastukancana, naskah berbahasa Sunda kuno Carita Parahyangan menyebutkan “Jangankan manusia, bahkan apah (air), teja (cahaya), bayu (angin), akasa (langit) dan bu (eter) pun merasa betah (nyaman) berada di bawah kekuasaannya”. Kehidupan masa kecil Wastu tentu sangat menarik untuk ditrasformasikan ke keadaan sekarang, terutama dalam hal kedisiplinan, kesungguhan belajar, kejujuran dan ketangguhannya. Visualisasi tokoh Wastu untuk raut wajah dan dedeganana tidak terlalu sulit, wajah anak yang kasep (tampan) dengan paroman Sunda itu sudah cukup, hanya pada saat masuk ke asesoris, seperti baju, hiasan kepala atau hiasan lainnya disitulah mulai timbul kesulitan. Kata Dian Hendrayana, sastrawan Sunda sekaligus peserta KDKBK mengatakan cerita yang sudah ditulis sejumlah orang tentang Wastu, akan sangat membantu kita untuk merekonstruksi kehidupan Wastu muda. Memang akan ada kendala pada detil asesoris yang digunakan saat itu, tapi mungkin di situlah ruang kreasi buat kita.
Itulah Wastu, adakah yang lain yang ingin urun rembug ?.



MAMAT SASMITA
Penggiat Rumah Baca Buku Sunda, peserta KDKBK.

15 December 2007

SAWALA MANAKIBAN

Poe Jumaah tanggal 14 Desember 2007, kuring nepi ka PSS tek kira-kira tabuh satu bada Jumaahan, pas keur hujan ngagebret, dina hate aya kahariwang boa-boa anu datang ngahadiran sawala ngan saeutik alatan hujan. Tapi geuning geus loba barudak Mahasaswa ti UPI, sihoreng maranehna tas praktek maca jeung make microfilm reader, malah dosenna Ibu Ruhaliah ge nyampak, keur mukaan mikcofilm keneh.
Untungna hujan teu lila, Alhamdulillah dina waktuna sawala nu hadir teh aya kana 30 jalma mah, kaasup Kang Maman Gantra ge hadir. Julian jeung kang Iip nu jadi panyatur ge samemeh waktuna geus aya, jadi rada reug-reug.
Teh Lia ti PSS nu jadi sahibulbet cuh cih ngasongkeun susuguh, ieu mah lain susuguh siga dina manakiban tapi susuguh keur nu hadir.
Sawala teh ieu mah sawala terbatas, terbatas teh lain nanaon tapi tempat, nu teu lega, jadi enyaan terbatas, dukdek kana tuur batur.
Tabuh dua leuwih saeutik sawala dimimitian, bubuka ku Kang Hawe ditumbu ku sim kuring nu jadi panumbu catur. Julian menta waktu pikeun nerangkeun manakiban anu kungsi kapanggih jeung mere conto, muter sora keur manakiban tina kaset.
Ceuk Julian aya hal-hal anu perlu di ditengetan diantarana nyaeta teks naratif dipahami sabage kabudayaan tapi aya pakaitna jeung kontek ritual tug nepi ka anu disebut ritual setting, nu dimaksud ritual setting leuwih nyoko kana nyayagikeun kalengkepan keur der manakiban diantarana nyaeta ngaleuyana susuguh ti mimiti bubuahan, beubeutian, ne├ępi ka bubur beureum bubur bodas, cai kopi jeung pangradinan.
Samemehna Julian mere heula penjelasan hal manakiban nyaeta aya nu dilakukeun ku masyarakat hartina masayarakat didieu leuwih bersifat perseorangan anu hayang ngalakukeun manakiban biasana di luluguan ku “sesepuh” anu memang jadi anker (jangkar) dina maca riwayat Kangjeng Syeh. Jeung aya deui manakiban anu memang ayana kulantaran aya pakaitna jeung hiji pasantren, jadi aya tuturus jeung pasantren saperti anu mindeng dijalankeun ku pasantren Suryalaya.
Tah anu leuwih jero ditalungtik ku Julian Millie nyaeta manakiban anu dijalankeun ku masyarakat perseorangan anu teu aya pakaitna jeung hiji pasantren. Dina derna manakiban ceuk Julian aya nu disebut “nguningakeun maksad” nyaeta aya pamaksudan naon pangna hiji kulawarga ngayakeun manakiban, inyana mere conto aya kulawarga Bapa X, anu sapaopoena boga bengekl mobil jeung boga angkot, maksadna supaya bengkelna maju tur usaha angkotna maju. Kitu deui dicontokeun aya hiji Ibu Y anu sapopoena ngusahakeun warung sangu sangkan usahana maju.
Nguningakeun maksad ieu teh dina emprona lain ku anu niat ngayakeun manakiban tapi ku “Sesepuh” atawa ku anu ngalakonkeun, ditatan hiji-hiji kalawan gemet ti mimiti kulawarga sing salamet, terus nepi ka usaha sangkan maju.
Samemeh nepikeun hal nguningakeun maksad aya heula bubukana nyaeta anu disebut “pamuntangan” teu beda jeung tawasul, ieu oge ditataan hiji-hiji, ti ngawitan Kangjeng Nabi tug digi ka guru-guru anu aya sabudeureun didinya, teu kalangkung nau jadi sepuh pribumi.
Anu leuwih narik aya hal anu rada diluar pangbade, Julian kungsi nanya ka Bapa X atawa ka Ibu Y saha ari anu dimaksud Kanjeng Syeh, behna boh Bapa X boh Ibu Y teu apaleun saha-sahana, jadi didinya aya hal anu rada pikahemengeun, jadi pikeun pribumi lain eta anu penting tapi leuwih nyoko kana kalengkepan anu disebut ritual setting tea, sabab hal ieu aya patalina hasil jeung henteuna manakiban. Tah anu disebut hasil teh meureun lamun dina usaha aya kamajuan atawa henteuna, ceuk pameleng anu pribumi lengkep henteuna ritual setting aya pakaitna jeung hasil henteuna eta manakiban, anu penting teh geuning lain nyurahan riwayat Kangjeng Syeh pikeun tuladeun.
Ceuk Julian keneh manakiban saperti kitu kaayeunakeun geus ngurangan, utamana sanggeus krisis moneter, saba keur kaperluan ritual setting tea jadi mahal ditambah ku pucunghulna barudak hasil pendidikan anu aya dilingkungan masyarakat eta, barudak anu masantren atawa lulusan UIN.
Julian Millie teu ngabahas manakiban anu sok dilakukeun ku kelompok, sebut we kelompok anu aya patalina jeung pasantren.

Kang Iip dasarna ngengklokan pamanggih Julian, bari jeung ngaenyakeun naon anu ditalungtik ku Julian, yen enya di masyarakat aya nu ngalakukeun manakiban saperti kitu, ceuk Kang Iip lamun ditilik tina sisi da’wah bisa disebut da’wah anu can anggeus, maksudna masyarakat pra Islam anu percaya ayana kakuatan supranatural kalawan leuwih deukeut kana kakuatan para dewa, atawa para hyang, terus ku ayana karomat-karomat ti sisi tasawuf Islam, nya didieu gumulungna eta kapercayaan. Lain bae manakiban tapi aya deuih anu disebut ratib haddad tapi kalan kalan siga anu leupas tina tarekat Alawiyah, kitu deui aya nu disebut deba’an, ceuk Kang Iip hal ieu teh pikeun masyarakat anu ngalakukeunana nyaeta jadi meduim pikeun ngalengkepan ibadah-ibadah poko.
Ceuk Kang Iip keneh perkara anu aya pakaitna jeung Dewi Sri, nya ieu anu disebut kompromi tina da’wah anu can anggeus tea. Awalna tradisi manakiban ditarima sabage cara islami, dai harita masih keneh mere toleransi kabiasaan buhun anu sok susuguh ka Dewi Sri asal doa anu dibaca mangrupa pangaosan Layang Syeh, ngariwayatkeun Kangjeng Syeh. Tah didieu masyarakat Sunda pra Islam anu boga konsep ka-dewa-an pinanggih jeung kosep tawasul, asupna Islam ka Sunda jadi logor, ngaguluyur.

Dina jirangan (sesi) tanya jawab, Pa Dede Kosasih dosen ti UPI salian nanya oge ngajelaskeun harti pangradinan, ceuk inyana, pangradina leuwih nyoko kaperluan keur awewe, dina kontek ieu nya keur Dewi Sri, eta teh ciri ritualna masyarakat agraris buhun, anu dipake keneh ayeuna, nanya na pedah anu dicontokeun ku Julian apan Bapa X teh lain patani, tapi muka bengkel mobil jeung usaha angkot, tah pertanyaanana, naha aya dina pangradinan ditambahan ku momobilan upamana. Julian ngajawab bari rada seuri euweuh cenah ari momobilan mah, tah didieu matakna simbol eta rada teu dipake, pokona nu baheula kitu nya diturutan we ayeuna ge kitu.
Anu nanya teh loba malah Kang Maman Gantra ge nanya kumaha kontekna jeung purifikasi kaislaman, anu ngajawab hal ieu Kang Iip, ceuk Kang Iip nyaeta pisan aya musabab tina kajadian da’wah anu can anggeus tea.
Anu nanya pangheulana nepi ka genepan dibere buku beunang nyieun Julian Millie anu judulna Celebration of The Desires, hal manakiban.

Keur kuring anu jadi panumbu catur dina sawala model kieu, maksudna sawala anu aya pakaitna jeung hiji kayakinan, karasa rada hese, kudu kumaha ngaguluyurkeun sawala sangkan keuna kana sasaran, anu dimaksud sasaran teh aya kahayang sangkan urang Sunda ulah dianggap teuing dina hirupna nyoko kana hal-hal anu mistis. Misalna lamun aya hiji pribadi ngayakeun manakiban kalawan sanggeus “nguningakeun maksad” teh ulah nganggap anggeus pagawean, padahal anu satemenna kudu hade gawe, anu kudu gawe kalawan cerdas. Hasilna usaha angkot atawa hasilna usaha warung sangu kulantaran geus ngalaksanakeun manakiban, ulah usaha teh jadi lelewoda, ulah sahayuna, tah eta nu disebut cul dogdog tinggal igel teh.
Kuring rada ngagebeg basa acara sawala ditutup, Julian ngajak sasalaman bari nyebut nganuhunkeun ceuk inyana kuring alus jeung sumanget jadi anker (panumbu catur) jadi audien ge teu bosen, teu loyo. Kuring mikir euh kieu meureun gaya bule dina mere apresiasi, saharita tur saluyu jeung kereteg hatena harita, henteu dikemu dikeueum dina hate, togmol jeung jujur. Meureun lamun kuring loyo ge diketrok tah ku Julian anu boga pangkat doktor ti Monash University anu judul desertasina Splashed by The Saint : Ritual Reading and Islamic Sanctity in West Java..
Nuhun Kang Iip, Julian, aranjeun geus mere pangalaman keur kuring.
Sawala maneuh di PSS (Pusat Studi Sunda) bulan hareup, Januari 2008 dina jejer Teknologi Content Provider Jeung Budaya Sunda, panyatur Insya Alloh ti Telkomsel jeung ti Telkom. Alamat PSS di JL.Taman Kliningan II No.5 Buah Batu Bandung.

Sakitu laporan sawala di PSS tea, hapunten bilih aya hal-hal anu hil.

TAMU JEUNG NGOBROL SABULANGBENTOR

Enya, aya genahna keur kuring mah anu geus teu boga pagawean anu maneuh, sapopoe ngan ukur ulukutek diimah, kalan-kalan kurunyung “tamu”.
Minggu ieu diimah teh aya tukang ngecet, da kabeneran ningali cet imah geus rada bulukan, atuh dina saminggu mah diimah teh ngawangkong jeung tukang cet, sanggeus sababaraha poe digawe tukang cet teh isuk-isuk memeh prak digawe nanya, ceuk inyana eta katingalna sok aya bae tamu, sareng sok uplek ngobrol, eta teh bade naon..?.
Atuh kuring nerangkeun yen eta tamu teh anu nareangan buku buku basa Sunda atawa buku buku ngeunaan Sunda. Ceuk manehna deui……euh manawi teh aya kaperyogian naon we anu sanes….., kuring rada kerung nampa jawaban kitu, terus diseleksek, ari breh teh panyangka manehna kuring teh jadi tempat pananyaan hal-hal kahirupan,….atuh kuring rada ngagakgak, ceuk kuring naha disangka paranormal atawa dukun kitu..?. Tukang cet teh seuri bari jeung unggeuk. Dina hate kuring melengek baruk nepi ka disangka kitu..?.
Tamu teh enya rupa-rupa anu datang, ti barudak sakola nepi ka anu kolot geus kundang iteuk,tujuanana mah apan geus jelas hayang maca buku basa Sunda atawa buku ngeunaan Sunda. Eta cenah osok ngobrol uplek apan eta mah bagian tina silaturahim, wawanohan tur silih kanyahokeun.

Geura urang nyokot we tiluan tamu keur conto mah, kahiji Pa Andi, dedeganana rada pendek bayuhyuh, urang Rancaekek, mindeng ulin ka kuring teh pangpangna neangan buku bag-bagan agama dina basa Sunda, pedah anjeuna sok ngajar di Diklat Pos, majarkeun hayang nyonto-nyontokeun dina kahirupan urang Sunda anu saluyu jeung agama. Buku kieu teh keur kuring mah saeutik, maksud teh anu togmol asup kana bag-bagan agama, tapi kapan kabeh carita oge anu dina basa Sunda dasarna mah apan saluyu jeung agama. Lamun majalah iwal ti Langlangmitra anu dasarna agama Kristen. Jadi rek kerewek kana buku basa Sunda naon oge eta tangtu aya hubunganana sok sanajan teu langsung jeung agama Islam. Rek bacaeun barudak, rek novel, kumpulan carpon, wawacan atawa carita pantunna oge. Tah didinya sok uplekna ngobrol teh. Jeung ongkoh deuih Pa Andi teh nurutan muka Rumah Baca diimahna, ti mimiti ngan ukur puluhan buku ayeuna mah geus aya kana sarebu leuwih buku, eta buku buku teh lolobana sumbangan ti papada tatanggana. Jadi ngobrol teh silih simbeuhan pangalaman ngarumat Rumah Baca.

Tamu kadua nyaeta Kang Adi Raksanagara, tah nu ieu mah munggaran ulin ka kuring, ka Rumah Baca, datangna bada lohor. Dedeganana jangkung rada begang, can kolot-kolot teuing ceuk taksiran umurna aya kana 40 taun.
Barang datang teh langsung ningalian buku buku basa Sunda, terus nanya aya henteu buku Sunda anu bisa mere inspirasi keur kompetisi, utamana dina wangun panalungtikan. Puguh we kuring rada pungak pinguk ditanya kitu mah, terus nanya deui buku anu aya pakaitna jeung usaha tina falsapah Sunda, kadenge kitu ge tetep kuring hulang huleng. Kudu buku naon anu diasongkeun.
Tungtungna ngobrol sabulangbentor, geuning inyana teh pimpinan tabloid Bobotoh, ningali ngaranna nu make Raksanagara nya kuring nanya hubunganana jeung Ami Raksanagara garwana Pa Yus Rusyana, ari pek teh Ibu Ami teh lanceukna, kitu deui jeung istrina Pa Ahmad Rustandi. Paingan atuh mani norolang nyaritakeun perkara Sunda, da geuning aya teureuh tidituna.
Ngobrol nepi ka bada magrib, bari jeung teu disuguhan ngan ukur cai herang we tamba garingeun tikoro.
Maksudna neangan buku buku kitu teh pedah rek mere motivasi ka para pegiat kreatif di sabudeureun Suci, ka tukang kaos. Kahayang inyana kreatifitas anu basisna budaya setempat, tah ngompa eta sumanget neangan buku buku keur mere conto. Ku kuring dicoba dibere buku Bujangga Manik, Siksa Kandang Karesian, atuh teu kaliwat Pandangan Hidup orang Sunda, tapi kitu geuning teu payu keur inyanana mah. Tapi aya hiji buku anu diinjeum nyaeta Kabudayaan Sunda Edi S Ekajati.
Jadi enya geuning can aya buku anu ngabahas elmu ekonomi tina jihad ugeran hirup manusa Sunda, can aya buku ragam hias Sunda, can aya buku Estetika Sunda, can aya buku elmu komunikasi anu dadasarna budaya Sunda. Ceuk kuring ka Kang Adi, hampura nun, kuring can boga bukuna, maksud teh can ngoleksi bukuna. ( tapi aya teu nya bukuna..?).
Inyana ge nyaritakeun hal Bobotoh Persib, cenah inyana kungsi ngobrol jeung jalma ti Balai Bahasa, terus inyana ngusulkeun supaya kecap bobotoh diasupkeun kana KBBI lantaran ieu teh tarjamah tina kecap asing suporter, lamun kecap bobotoh asup kana KBBI rek meuncit hayam. Tujuanana nyieun tabloid Bobotoh sangkan para bobotoh teh jadi nyakola tur nyunda, atuh ka Persibna sangkan maen alus, keun ari soal eleh jeung meunang mah lain hal eta mah. Ceuk inyana ngan Persib anu bisa ngahijikeun jelema nepi ka puluhan rebu bari jeung kabeh ngomong Sunda. Kitu tah nyaritakeun tamu anu kadua. Aeh aya nu kaliwat ceuk Kang Adi lamun diacak aksara INDONESIA teh sarua jeung INI SOENDA, he he kuring seuri heueuh we nya.

Tamu katilu tah nu ieu mah tamu maneuh, da geus rada mindeng ulin ka kuring, jelemana ngora keneh, dedeganana jangkung henteu pendek henteu, imbang we lah jeung awakna, teu lintuh teu begang. Nyaeta Kang Iip D Yahya, enyaan ngobrol jeung Kang Iip mah rada hese rek ngudagna, lantaran lumpatna tarik pisan, loba kamandangna hal Sunda. Ari ngaku dina tulisanana mah inyana sok ngaku pengamat pasantren, da enya hirupna lila di pasantren, kuliahna kungsi di IAIN ayeuna mah UIN tea. Sapopoe nya jadi penulis, budakna kakara hiji kakara umur opat taun, teu di asupkeun ka TK tapi ngayakeun home scholing, istrina dosen di STSI.
Ayeuna unggal ngobrol jeung Kang Iip pasti nyokona kana pikiran pikiran Oto Iskandar Dinata, sabab inyana keur nulis perkara Oto, hayang nulis buku Oto, ceuk inyana sabab buku anu aya ayeuna teu kabeh hal Oto kakemot, aya nu kaliwatna. Duka teuing palebah mana kaliwatna, ngan ceuk inyana loba pikiran-pikiran Oto anu sabenerna gede pisan hartina kana kamekaran Sunda harita. Sabab ceuk Oto lamun ngomong Sunda hartina ngomong Indonesia, lain bae keur kamajuan Sunda tapi keur kamajuan Indonesia.
Nyucruk pikiran pikiran Oto, kang Iip mindeng ngadekul di Pusnas, hanjakal sok beakeun bekel cenah, basa minggu kamari ge sarena di Kantor PN NU pedah aya kenalan didinya, mimitina mah nghubungi kang Kandar (kumincir) tapi kapan kang kandar kudu kilir ka Bandung.
Nyucrukna neangan tulisan Oto atawa warta ngeunaan Oto tina koran Supatahunan, ceuk Kang Iip neangan hal Oto teh sok kabengbat ku tulisan sejen, saperti Tajuk dina Sipatahunan, geuning cenah anu dipadurenyomkeun soal Sunda meh sarua jeung anu sok dipadurenyomkeun jaman kiwari. Ceuk Kang Iip naha bet teu anggeus-anggeus, sola kapamingpinan, kabanjiran kakurangan dahareun jste.
Kalan-kalan ngobrol jeung Kang Iip sok loba luak leokna, samisal nyaritakeun sajarah Sunda, Sunda teu kungsi diereh nepi ka jaman Pajajaran. Ku Majaphit anu majarkeun saIndonesia geus kaereh kapan Sunda mah henteu, tapi naha waktu ku Mataram bet bisa kajajah, naha..?. Naha Mataram boga naon harita, kucara kumaha bet pangaruhna masih aya keneh nepi ka ayeuna. Nu kudu ditalungtik naha Mataram harita make elmu naon, nepi ka Sunda awut-awutan. Atawa Sunda geus teu malire dirina, keuna supata ku Wastukancana pedah geus teu ngamumule kabuyutan.
Naon hartina kabuyutan didinya, ceuk rarasaan lamun ngan sakadar tempat heug disebut kabuyutan asa leutik teuing, sigana kabuyutan didinya dina harti ide, gagasan atawa naon..?
Balik deui ka Oto, lamun tea mah rek mere sesebutan Bapa Urang Sunda keur hiji inohong dina mangsa kiwari, lain mangsa bihari, mana anu pantes Oto, Juanda atawa saha..?
Lamun tea mah Oto, kumaha lamun nyieun Museum Oto Iskandar Dinata, asana urang Sunda can boga inohong anu kudu ditalungtik nepi ka bubuk leutikna utamana pikiran-pikiranana dina ngamajukeun Sunda (Oto teh anu mimiti ngajukeun dina Sidang BPUPKI sangkan Sukarno Hatta jadi Presiden tur Wakilna anu disatujuan ku balarea anu sidang harita, tapi tragis ahirna Oto aya nu nelasan).

Sakitu tah dongeng “tamu” teh, nulis kieu teh pedah we sok aya tamu ka imah, disangka weh kuring teh paranormal ku tukang nge-cet.

09 December 2007

ULIN KA KABUYUTAN CIBURUY.


Ku : MAMAT SASMITA

Basa poe Saptu 3 Nop 07, kuring ngilu ulin ka Kabuyutan Ciburuy Garut, ngilu ka rombongan ti PSS, samobil pinuh, karunya anu kuru we, kadempet. Merenyeng hayang ngilu, pedah eta loba kacaturkeun apan di Ciburuy Garut teh tempatna intelektual Sunda jaman bihari, nepi ka loba karyana dina wangun tulisan dina media daun lontar jeung nipah. Anu geus katalungtik nyaeta naskah Amanat ti Galunggung jeung Sewaka Darma. Hayang nyaho kumaha bungkeuleukanana naskah dina daun lontar di lingkungan aslina. Rombongan teh aya dalapan urang, kaasup Ceu Tien Wartini filolog ti Musium Sribaduga, malah Julian Millie ge ngilu, Julian antropolog ti Australi anu keur nalungtik perkara manakiban.
Ti Bandung miang meh tabuh satengah sapuluh da ngadagoan Kang Dhipa nu rek nyupiran kasarean. Resep di jalan teh ari sarombongan jeung jalma nu "balageur" mah, sagala dikomentaran. Palebah Cibatu kuring ngagereyem nyambat Kang Deni. Di Garut tepung jeung Kang Darpan, da Kang Darpan nu jadi tuduh jalan. Geuning jauh keneh ti Garut ge aya kana 23 km ka Ciburuy teh, palebah desa Pamalayan jalan rada netek tur jalanna leutik ukur asup samobileun.
Meh lohor kakara nepi ka anu dituju, kasampak panto gerbangna dikonci, atuh ngadagoan heula kuncen.
Komplek Kabuyutan Ciburuy legana ampir satengah hektar (5230 m2), dibagi dua tempat utama, nyaeta Patamon jeung Padaleman. Di Patamon (patamuan, tempat narima tamu) aya tilu bangunan, leuit, bale tamu, nu hiji deui mah disebut saung lisung, lisungna mah euweuh ngan didinya teh loba suluh.
Ari di Padaleman mah ngan aya hiji bangunan, ngan lamun rek kadinya ngaliwatan heula sekat rohang, ceuk kuncen mah eta teh nunjukeun hambalan keur nuju ka nepi ka tempat utama, bangunan Padaleman aya di tungtungna.
Rek asup ka komplek Ciburuy teu sagawayah kudu ijin heula ka kuncen. Malah dina poe Salasa jeung Kemis dipahing pisan, teu bisa narima tamu. Tamu anu kabaca dina buku tamu rupa-rupa pamaksudanana, aya nu nulis "maksud khusus" aya nu nulis neangan jodo, jste. Anu jadi kuncen ngora keneh, umurna kakara 27 taun, ceuk inyana jadi kuncen teh anu ka 124, turunan ti bapana.
Rombongan teh kabeneran bisa ningali naskah jeung parabot sejen kayaning kujang jago, peso pangot, seuseukeut tumbak, loceng, anu aneh naha bet aya gunting jeung rurumah (frame) kacapanon sagala. Gunting wangun tungtungna cagak tilu, rurumah kacapanon mah siga dijieun tina tanduk atawa batok (sigana ieu barang mah titinggal kabehdieunakeun, atawa titinggal kuncen da asa pamohalan jaman abad ka 16 aya kacapanon, kumaha lensana).
Anu matak prihatin, naskah teh dipetian bareng jeung parabot anu tadi, ngan naskah make heula kotak kai anu leuwih leutik, disebut koropak, tuluy dibulen ku lawon bodas, siga keur boeh. Petina aya tilu anu hiji leuwih gede, kurang leuwih ukuranana 70x50x50 cm, anu dua deui leuwih leutik, kira-kira 60x40x40. Peti nu leutik nu hiji deui geus koropok pisan, ceuk kuncen mah sok digorogot ku beurit. Beu kumaha lamun naskahna digegelan beurit. Naskah anu dibuka kamari ngan hiji, da cenah sabenerna mah teu meunang dibuka, ari dibukana sataun sakali dina bulan Muharam, sakalian diberesihan dina acara Seba.
Sarombongan teh abong kena lolobana tukang nulis, waktu ngobrol jeung kuncen teh ting kusiwel kana catetan, anu pogot ngawawancara Kang Hawe jeung Kang Deden Abdul Azis katut baladna, ari kang Dadan mah pogot kana motret malah hayang dipotret di hareupeun hawu sagala. Anu ripuh Kang Atep Kurnia lantaran hayeuh bae dipenta tulung motret anu keur ngagaya. kang Dipa loba reureuh, sigana cape tas nyupiran.
Ceu Tien loba nerangkeun wangun tulisan, disebutkeun dina kumpulan naskah teh aya nu make aksara Buda sagala. Julian mah ukur palahak polohok bari nyebut amazing amazing kitu.
Kudu aya upaya nyalametkeun naskah, lantaran eta naskah teu bisa dibawa kaluar ti Ciburuy atuh anu perlu teh nyieun peti anu wedel, tina jati dibulen ku aluminium supaya teu teurak digegel beurit. Kamari ge aya kasapukan rek ngusahakeun nyieun peti, sugan we cenah urang Sunda aya nu haateun keneh.
Bada Asar kakara mulang, di Garut nyimpang heula ka bumina Kang Darpan di Gordah. Tabuh lima sore mangprung ka Bandung, sakali deui palebah deukeut ka Cibatu ngagereyem deui ka Kang Deni Suwarja, hampura teu ngabejaan jeung teu kaburu nyimpang. Enyaan ngagereyemna kuring katampa ku Kang Deni da buktina basa Senen isuk-isuk nampa SMS neuteuli pedah teu ngajak jeung teu nyimpang. Hampura ah.
Tulisan ieu teh ku Kuring dikunclungkeun ka milis Kusnet, Alhamdulillah aya nu nyamber ngengklokan utamana hal peti anu koropok tea, nya aya nu udunan pikeun nyieun peti. Peti dijieun di Madiun, lain nanaon pedah aya kasanggupan ti Kang Ukas anu dumuk di Madiun, jeung deuih kaina tina jati jadi bakal awet, hargana teu mahal teuing.
Pertengahan Desember 2007 peti rek anggeus, sugan we bisa buru-buru kaganti, lebar bisi naskah kaburu digegelan beurit.